Pesta Perak Imamat Romo Kristianus Ratu SVD Dirayakan dengan Adat Ende Lio. Seperti Apa Suasananya?

Romo Kristianus Ratu SVD: Imam membutuhkan doa dari semua pihak karena menjadi Imam akan hidup melawan arus.

0 907

Katolikana.com—Ada yang menarik dari perayaan pesta perak 25 tahun Imamat Romo Kristianus Ratu SVD, yang digelar Jumat (23/9/2022) lalu. Perayaan digelar menggunakan sistem acara adat atau  tata cara adat dari Ende Lio.

Rm. Kris merupakan putra daerah Watuneso Ende, sehingga perayaan dilaksanakan di Gereja Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Watuneso, Keuskupan Agung Ende. Di tempat ini juga, 25 tahun lalu, Rm Kris juga ditahbiskan di gereja tersebut.

“Ini merupakan acara yang besar, agung, dan megah, acara yang membanggakan kami. Panitia telah mempersiapkan acara ini selama satu tahun karena kami ingin acara ini berjalan dengan lancar dan sukses,” ujar Getrudis Lawi.

Foto Rm. Kris menggunakan Pakaian adat Ende Lio Ragi Lambu Luka Lesu. Foto: Istimewa

Etnik Ende Lio

Perayaan pesta perak dilakukan secara meriah dengan rangkaian adat Ende Lio.

Berawal dari penjemputan di perbatasan daerah hingga ke kediaman, kemudian disambut dengan sapaan adat yaitu Mega. Ini merupakan sapaan adat yang dilakukan oleh keluarga besar atau putra daerah yang biasa disebut Mosa Laki di kediaman.

Setelah upacara Mega, rombongan diarak ke dalam kediaman dengan diiringi oleh tarian adat dan musik adat yaitu Feko Genda secara meriah.

Rm Kris menggunakan pakaian adat Ende Lio yaitu Ragi Lambu Luka Lesu. Bersama rombongan dia menuju ke Gereja Watuneso dengan diiringi musik adat.

Rombongan tiba di depan lorong gereja atau biasa disebut Po’o Api. Tiba di Po’o Api, rombongan disambut seluruh umat, lalu dilakukan penyambutan adat yang dilakukan oleh pemangku adat atau Mosa Laki Watuneso yaitu Mega Suasasa sebagai ungkapan syukur dan bangga. Setelah itu upacara pengalungan yang dilakukan oleh keluarga.

Perayaan dilanjutkan dengan perarakan Rm. Kris beserta rombongan menuju ke  gereja yang diiringi dengan musik adat dan tarian adat bernama Wenggu, untuk memulai ibadah syukur.

Setelah ibadah syukur berakhir, perayaan dilanjutkan bersama seluruh keluarga besar dan umat Watuneso yang dimulai dengan tarian adat Gawi.

Makna

Pada perayaan menggunakan adat Ende Lio, banyak dilakukan Mega Suasasa. Mega Suasasa adalah sapaan adat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Ende Lio. Ini merupakan ungkapan syukur, ungkapan penyambutan, kebahagiaan serta ungkapan adat lainnya.

Mega Suasasa dalam perayaan besar biasanya dilakukan oleh petinggi adat atau Mosa Laki. Mosa Laki merupakan sebutan bagi putra asli daerah Ende Lio.

Rm Kristianus Ratu SCD di Sambut Tarian Wenggu. Foto: Istimewa

Upacara pengalungan selendang khas Ende Lio menjadi tanda atau bentuk penyambutan secara meriah dari umat kepada tamu kehormatan.

Perayaan dimeriahkan dengan tarian adat Ende Lio yaitu Tarian Wenggu, Tarian ini digunakan pada acara-acara tertentu.

“Tarian Wenggu adalah tarian penjemputan bagi tamu-tamu terhormat seperti pejabat pemerintah atau pejabat gereja. Tarian ini dilakukan oleh kaum laki-laki dan perempuan. Tarian ini untuk mengingatkan kembali adat dan kebudayaan dari Ende Lio,” ujar Tensi Ludwina.

Mengiringi tarian Wenggu, dimainkan musik adat Ende Lio yaitu Feko Genda yang merupakan musik dari suling dan rebana yang dimainkan dengan melodi khas Ende Lio.

Pada perayaan bersama yang dimulai dengan tarian khas dari Ende Lio yaitu Tari Gawi. Tarian ini merupakan tarian wajib bagi masyarakat Ende Lio sebelum melakukan tarian lain. Tarian ini dapat dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki.

Sukacita Umat

Umat yang hadir menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana momen perayaan Pesta Perak Imamat membawa sukacita, rasa kagum, bahagia, terharu, senang, dan perasaan mengagumkan.

Ini untuk pertama kali dalam sejarah Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Watuneso, di mana putra daerah pertama yang menjadi imam dan melaksanakan perayaan pesta perak Imamat 25 tahun di Watuneso.

“Bukan berarti di Paroki ini sebelumnya tidak ada putra daerah yang menjadi imam. Namun, selama ini ada beberapa imam atau calon imam yang terhenti di tengah jalan sebelum 25 tahun. Karena itu perayaan pesta perak Rm Kris memberikan sukacita yang amat dalam bagi umat,” ujar Arnoldus Tani.

Suasana sukacita terasa sejak awal, mulai dari upacara adat hingga akhir acara. Umat merasa terharu dan bangga, karena bisa menyaksikan upacara adat yang dilakukan untuk orang penting yaitu Romo dalam perayaan yang begitu sakral.

Harapan

Menurut Romo Kris, menjadi seorang Imam adalah bentuk kesetiaan selamanya, kesetiaan untuk bekerja di kebun anggur Tuhan. Kesetiaan butuh  dukungan dari keluarga, teman  dan umat.

Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan, “Kamu dipanggil bukan untuk sukses, tapi kamu dipanggil untuk kesetiaan”

“Harapannya menjadi seorang imam merupakan suatu kesetiaan, setia itu menuntut sebuah pengorbanan yang tiada henti, mengorbankan segalanya, maka dari itu butuh dukungan dari keluarga besar, teman, dan dari semua pihak,” ujar Romo Kris.

Selain itu, imam membutuhkan doa dari semua pihak karena menjadi Imam akan hidup melawan arus, melawan arus tantangan zaman.

“Maka inilah saat pengorbanan seorang Imam dipertaruhkan. Karena kehendak Tuhanlah yang akan terjadi, maka serahkanlah segala kekhawatiran dengan Tuhan, karena Tuhan yang akan menjaga,” ujar Romo Kris. (*)

Kontributor: Maria Vianney Afrista Amelinda, Credentia Gisela Sofio Pramudita, Damaris Fanuelle Kurnia Candra, Fransisco Laverna Narwastu Nanga

Leave A Reply

Your email address will not be published.