Jangan Hanya ‘Scroll’, Mulailah ‘Share’!

Orang Katolik dan Tanggung Jawab di Areopagus Digital

0 72
Romo Benediktus Nugroho Susanto Pr

Oleh Benediktus Nugroho Susanto, Pr

Katolikana.com—Di zaman Rasul Paulus, Areopagus adalah pusat pertemuan intelektual dan spiritual masyarakat Athena. Di sanalah ide dan iman diuji, diperdebatkan, dan dipertaruhkan. Paulus tidak datang ke sana untuk mengutuk, tetapi untuk berdialog.

Ia menyampaikan Injil bukan dengan marah-marah, tetapi dengan kecerdasan dan keberanian. Ia menggunakan bahasa, simbol, dan referensi yang dipahami orang Athena. Ia tidak menginjak budaya yang ada, tetapi mengangkatnya menuju kebenaran Injil.

Lalu, apa hubungannya dengan kita hari ini?

Kita hidup di tengah Areopagus digital—media sosial. Di sana, orang saling berbagi informasi, gambar, video, dan bahkan pengalaman iman. Tetapi di tempat yang sama, ada juga hoaks, ujaran kebencian, kultus selebritas, dan kekacauan nilai.

Inilah medan baru pewartaan, di mana Injil dipanggil untuk bersuara. Dan Anda, saya, kita semua—umat Katolik—bukan pengecualian.

Dari Paulus ke Facebook, dari Injil ke Instagram

Bayangkan jika Paulus hidup hari ini. Ia mungkin akan membuat thread Twitter tentang “Allah yang tidak dikenal.” Ia mungkin akan membuat live stream diskusi iman, atau mengirim renungan singkat via WhatsApp grup.

Paulus tidak akan menunggu undangan untuk bersaksi—ia akan masuk ke ruang digital dan berkata, “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.”

Yesus sendiri, sebelum naik ke surga, berkata, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15).

Dalam konteks zaman ini, “segala makhluk” juga berarti pengguna media sosial dari berbagai latar belakang, yang sedang scrolling tanpa arah, haus akan makna, dan lelah dengan kebisingan digital.

Bukan Khotbah, tapi Kehadiran

Pewartaan hari ini tidak melulu soal berkotbah atau menyisipkan ayat Kitab Suci di setiap unggahan. Kadang, satu kalimat penuh kasih, satu komentar bijak, satu foto penuh makna, bisa menjadi tanda kehadiran Allah di tengah riuhnya media digital.

Ketika Anda membagikan kisah pengampunan, kutipan inspiratif, atau sekadar ucapan selamat pagi yang menyemangati, Anda sedang menyalurkan kabar baik.

Tetapi sayangnya, banyak orang Katolik masih menjadi penonton pasif. Lebih aktif menyebarkan meme politik daripada doa. Lebih tertarik mengomentari skandal daripada membagikan harapan. Lebih banyak menyentuh layar daripada menyentuh hati. Kita tidak dipanggil hanya untuk mengaminkan, tetapi untuk mewartakan.

Refleksi Digital: Apakah Jempolmu Membawa Kabar Baik?

Sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri:

  1. Apakah saya menggunakan media sosial untuk membangun atau meruntuhkan?
  2. Apakah unggahan saya mencerminkan iman Katolik yang saya hayati?
  3. Apakah saya menjadi terang di ruang digital, atau sekadar pengikut algoritma yang kosong?

Lebih konkret lagi:

  • Apakah saya pernah membagikan kutipan Injil di Instagram?
  • Apakah saya pernah membalas komentar dengan kelembutan, bukan dengan sarkasme?
  • Apakah saya pernah mendoakan seseorang yang sedang curhat online?
    Jika belum, inilah waktunya.

Menjadi Pewarta di Dunia Digital

Menjadi Katolik bukan hanya soal ke gereja setiap Minggu. Ini tentang kesaksian. Dan dunia digital adalah ladang yang sangat luas. Anda bisa menjadi pewarta Injil dari ruang kerja Anda. Dari kamar Anda. Dari dalam bus, lewat ponsel Anda.

Tentu saja, kita harus bijak. Injil bukan untuk dipaksakan, tetapi ditampilkan. Bukan untuk ditonjolkan, tetapi dihidupi. Orang akan melihat Yesus bukan hanya dari apa yang Anda bagikan, tetapi dari cara Anda menanggapi.

Gunakan jempolmu bukan hanya untuk scrolling, tapi juga untuk sharing. Gunakan feed-mu untuk memberi makan rohani. Gunakan story-mu untuk menceritakan kebaikan Tuhan. Karena dunia sedang menunggu kabar gembira—dan Anda bisa menjadi salah satu pembawanya.

Mari kita menjadi seperti Paulus di Areopagus modern. Bukan hanya hadir, tetapi berbicara. Bukan hanya menyimak, tetapi menyala. Media sosial bukan sekadar tempat bermain. Bagi kita, itu adalah medan pewartaan. Dan kabar baik tidak akan menyebar jika kita hanya diam.

Jadilah suara Injil di antara gema digital yang bising. Jadilah terang di layar. Jadilah saksi Kristus—bahkan di dunia maya. (*)

Penulis: Benediktus Nugroho Susanto, Pr., Kepala Unit Pengembangan Pastoral Komunikasi Keuskupan Agung Semarang (UPPK-KAS). Artikel disadur dari Homili: “Orang Katolik Sadar Memanfaatkan Media Sosial untuk Penginjilan”

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.