Menjadi Pelayan yang Hadir dan Menghidupkan

STP St. Bonaventura KAM Gelar Pembekalan KKNP 2024–2025

0 166

Medan, Katolikana.com — Selama tiga hari penuh, 90 mahasiswa semester VI STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan mengikuti pembekalan Kuliah Kerja Nyata Pastoral (KKNP) Tahun Ajaran 2024–2025. Kegiatan ini berlangsung di kampus STP pada Senin–Rabu (2–4/6/2025).

Tujuannya jelas: membekali para calon pelayan pastoral dengan kemampuan rohani, keterampilan komunikasi, dan kepekaan sosial agar mereka mampu menjadi pewarta yang hadir secara kontekstual di tengah umat, baik di paroki maupun stasi.

Membaca dan Merancang
Hari pertama dibuka oleh Ketua STP, Dr. Johannes Lumbanbatu, M.Th, dan langsung dilanjutkan dengan sesi yang memperdalam spiritualitas Kitab Suci bersama Bapak Antoni Dakhi (Komisi Kitab Suci KAM).

Ia menekankan pentingnya membaca Alkitab secara kontekstual dan bertanggung jawab—menghindari spekulasi, setia pada teks, serta menjauh dari tafsir pribadi.

Dengan pendekatan berdasarkan Dei Verbum 12, peserta diajak menyelami Sabda Allah bukan sekadar sebagai teks, tetapi sebagai relasi hidup bersama Gereja. Perikop Matius 13:24–30 tentang gandum dan lalang digunakan untuk melatih peserta membuat renungan berbasis pengalaman.

Sesi kedua dipandu Ibu Hastuti Anaampun, M.Fil., yang membimbing penyusunan program pastoral berbasis analisis sosial umat dan arah kebijakan Gereja.

Metode SWOT dan lima pilar Gereja (Liturgia, Kerygma, Martyria, Koinonia, Diakonia) digunakan sebagai kerangka dasar. Ia juga menekankan pentingnya menjaga etika pelayanan: kebersihan diri, sopan santun, dan integritas.

Sebanyak 90 mahasiswa semester 6 mengikuti pembekalan KKNP STP Bonaventura Medan. Foto: Istimewa

Komunikasi yang Menyapa
Hari kedua menghadirkan materi “Komunikasi Pastoral” oleh Bapak Lundu Sitohang, S.Pd. Dengan pendekatan yang penuh empati, mahasiswa diajak untuk melihat komunikasi bukan sebagai teknik berbicara, tetapi sebagai jalan menghadirkan kasih Allah.

“Nemo dat quod non habet” — “Orang tidak bisa memberi apa yang tidak dimilikinya,” ujar beliau. Mahasiswa diingatkan bahwa komunikasi yang hidup lahir dari kedalaman batin. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium 171 menegaskan bahwa evangelisasi dimulai dengan mendengarkan.

Model komunikasi pastoral 5P diperkenalkan: Kehadiran, Perhatian, Pengakuan, Pertanyaan Terbuka, dan Penguatan. Kehadiran yang tulus, lebih dari seribu kata, menjadi saksi nyata cinta Tuhan.

Masih di hari yang sama, RP. Tri Chandra Fajariyanto, Lic. Lit, memberikan pembekalan tentang liturgi, khususnya Perayaan Sabda. Liturgi dipahami sebagai dialog spiritual, bukan sekadar tugas teknis.

Mahasiswa dibentuk untuk menyadari bahwa setiap gerakan liturgi adalah ekspresi iman yang hidup, selaras dengan Sacrosanctum Concilium 10 yang menyebut liturgi sebagai “puncak dan sumber kehidupan Gereja.”

Liturgi sebagai Ekspresi Iman

Hari ketiga dibuka dengan sesi musik liturgi oleh Gio Ginting. Ia mengajarkan teknik bernyanyi dalam liturgi seperti legato, marcato, dan gaya resitatif. Musik dipahami sebagai doa yang mengangkat, bukan sekadar pertunjukan. Dirigen dan organis harus bekerja selaras sebagai pelayan umat.

“Tujuan musik liturgi adalah mengajak umat bernyanyi, menguduskan, dan memuji Tuhan,” ujar Gio Ginting. Ia mendorong agar mahasiswa kreatif namun tetap setia pada makna lagu dan kekhusukan ibadah.

Materi terakhir disampaikan Abdi Guna Sitepu, M.Ag., tentang penyusunan laporan KKNP dan PKM. Laporan dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban pelayanan, yang berbasis pada data, refleksi, dan pengalaman nyata di lapangan.

Mahasiswa STP St. Bonaventura menyimak paparan narasumber.

Langkah Pertama Pelayanan
KKNP bukan sekadar kewajiban akademik. Ini adalah pintu masuk menuju panggilan hidup sebagai pelayan Injil. Pembekalan ini mengajarkan kami untuk menjadi pribadi yang hadir bukan hanya lewat kata, tetapi dengan kasih, tindakan nyata, dan ketulusan hati.

Kami diajak bukan hanya menjadi pewarta, tetapi menjadi teman perjalanan umat, yang tahu kapan harus diam dan kapan harus menyapa. Kami tidak hanya membawa program, tapi juga kehadiran yang menyembuhkan.

Tiga hari ini mengubah cara pandangku. Pelayanan ternyata dimulai dari kesediaan hadir, dari hati yang ingin menemani. Aku tidak perlu sempurna untuk melayani; aku hanya perlu setia dan terbuka.

Jika KKNP ini adalah awal, maka aku ingin berjalan dengan tenang dan rendah hati—menjadi pelayan yang sederhana namun penuh cinta, hadir bagi yang dicari Tuhan di tengah umat-Nya. (*)

Kontributor: Febriola Sitinjak, Mahasiswa STP St. Bonaventura KAM

Leave A Reply

Your email address will not be published.