Ada Iblis di Ranah Musik Liturgi Katolik

0 16

Oleh MT Felix Sitorus

Katolikana.com—Di ujung latihan persiapan Konser Pentakosta Cantica Sacra Choir di gedung lama KWI, Minggu (10/5/2026) sore lalu, berkembang diskusi tentang kehadiran iblis di ranah musik liturgi Gereja Katolik.

Topik diskusi itu mengingatkan pada salah satu ujaran Paus Fransiskus. Saat berada di Gereja Katedral Jakarta (4/9/2024), Paus Fransiskus pernah mengatakan:  “Iblis ada di sakumu.”

Maksud Paus Fransiskus, tentu saja, iblis itu sedemikian dekat atau lekatnya pada manusia. Sering tanpa disadari. Sehingga, bila lengah, dia bisa dengan cepat bisa merasuk ke dalam diri manusia.

Tentang iblis itu, janganlah tertipu oleh tampilannya. Di dalam buku dan film, iblis itu kerap digambarkan sebagai sosok merah, bertanduk, dengan wajah menyeringai  seram.

Tidak! Bukan seperti itu. Itu hanya penggambaran tentang sifat iblis yang sedemikian jahat dan menakutkan. Dalam kenyataan hidup gambarannya tak seperti itu. 

Sebagai contoh, orang ketiga dalam perkawinan itu sering kali banyak cantik atau ganteng, bukan? Tapi perilakunya jelas iblis banget.

Iblis itu juga tak mesti berupa sosok lahiriah. Lebih sering dia hadir dalam rupa perilaku manusia. Entah itu sikap, perkataan, ataupun perbuatan manusia, individu ataupun kelompok.

Iblis dalam bentuk perilaku itu bisa hadir di segenap ranah kehidupan. Salah satunya, yang terkesan kontradiktif, di ranah kegiatan musik liturgi Gereja Katolik. Dikatakan kontradiktif karena hakikat musik liturgi itu menguduskan. Lho, kok iblis hadir di sana?

Diskusi di ujung latihan musik liturgi oleh Cantica Sacra tadi mengungkap ragam bentuk kehadiran iblis yang kerap tak disadari—atau disadari tapi dibiarkan atau bahkan menjadi kebiasaan.

Perilaku yang Merusak

Perilaku yang merusak, entah itu pikiran, perkataan, ataupun perbuatan adalah manifestasi kehadiran dan kerja iblis. Hal semacam itu bisa terjadi di mana saja, termasuk di ranah musik liturgi Katolik.

Terkait presentasi musik liturgi di gereja, baik oleh paduan suara maupun oleh umat, ada sikap atau pikiran bahwa menyanyikan lagu liturgi itu tak perlu teknik vokal yang baik. Lalu timbullah perkataan:  “Bernyanyilah sebisa dan sesukamu saja. Yang penting niatmu memuliakan Tuhan.”

Sekilas pikiran itu terkesan baik, sarat pemakluman. Tapi sebenarnya bermasalah karena musik liturgi mengusung empat nilai yaitu benar (verum), baik (bonum), indah (pulchrum), dan ilahiah (divinum).

Jika pikiran tadi diterima, maka berarti umat Katolik boleh memuliakan Tuhan dengan cara yang salah, buruk, jelek, dan tak menguduskan.

Apakah Tuhan akan berkenan? Ada ungkapan “Bene cantat bis orat” – Bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali. Musik liturgi itu adalah doa indah.

Ironisnya, pikiran seperti itu bukan hanya ada di kepala umat tapi juga di kepala sebagian pastor. Rupanya iblis yang ada di saku para pastor itu menyelinap ke dalam pikirannya. Lalu mereka menyarankan hal yang iblis: nyanyikan lagu liturgi  sebisa dan sesuka hatimu saja.

Jadi kalau mendengar koor tak padu, fals, salah nada dan tempo, suara pecah maka sadarlah, iblis sedang bekerja merusak kekudusan liturgi.

Begitu pun kalau nada nyanyian umat lari ke sana ke mari, itu bukan partisipasi melainkan indikasi sukses kerja iblis di gereja.

Begitulah cara iblis merasuk ke dalam pikiran, perkataan dan tindakan umat dan imam untuk merusak musik liturgi Katolik. Umumnya hal itu terjadi tanpa disadari.

Iblis dalam Detail

Dalam latihan paduan suara, berdasar pengalaman Santica Sacra Choir,  iblis itu hadir dalam aneka rupa. Seringkali kehadirannya menggenapi ungkapan “devil in details”. Lima detail berikut adalah kasus-kasus yang umum.

Pertama, bukaan mulut yang mestinya vertikal, bukan horizontal, saat menyanyikan lagu liturgi. Bukaan vertikal itu menghasilkan vokal bulat, bukaan horizontal menghasilkan vokal cempreng.

Bayangkan dalam kelompok koor beranggotakan 30 orang ada satu orang yang bernyanyi dengan bukaan mulut horizontal. Apakah suara cempreng satu orang itu akan tertutupi oleh suara bulat 29 orang lainnya? Tidak.

Sebaliknya satu  suara cempreng  itu justru akan merusak 29 suara bulat. Itu semacam nila setitik merusak susu sebelanga. Iblis banget, kan?

Kedua, penyanyi koor bikin ketukan sendiri. Aturan baku: hanya seorang yang boleh membuat ketukan yaitu konduktor. Semua penyanyi wajib mengikuti ketukan konduktor.

Bayangkan ada satu orang anggota koor yang bikin ketukan sendiri. Besar risiko ketukannya akan melenceng dari ketukan konduktor. Akibatnya, tempo nyanyiannya akan melenceng sendiri. Itu iblis perusak harmoni paduan suara, buka?

Ketiga, kekeliruan sumber artikulasi dalam menyanyi. Artikulasi harusnya bukan di bibir melainkan di tenggorokan atau kotak suara.

Tapi tak sedikit  penyanyi koor musik liturgi beranggapan artikulasi saat bernyanyi dibentuk di bibir, seperti dalam mengeja a-i-u-e-o. Vokal yang dihasilkan dengan cara itu akan berbeda dan, karena itu, mencemari vokal penyanyi yang artikulasinya bersumber pada tenggorokan. Sesuatu yang mencemari itu adalah iblis.

Keempat, teknik vokal nada tinggi yang merusak. Sebagian  penyanyi musik liturgi pada umumnya mencapai nada tinggi dengan cara mengangkat pita suara sampai kejepit, sehingga menghasilkan suara melengking. Selain menjadi cepat lelah, cara itu bisa merusak pita suara.

Nah, itu dia  maunya iblis: agar manusia tak bisa lagi bernyanyi memuji Tuhan. Semestinya nada tinggi itu digali ke arah perut. Pita suara “meluncur” ke bawah sembari mengoptimalkan pernapasan diafragma. 

Kelima, pamer emosi (acting) saat membawakan lagu liturgi. Menyanyikan lagu liturgi bermakna penyampaian pesan kepada Tuhan secara indah.

Karena itu emosi harus ditekan ke dasar hati, agar tidak muncul berupa ekspresi wajah menangis, marah, sedih, cemberut, senyum, tertawa, dan sebagainya. Menyanyi itu bukan pantomim. Ekspresi emosional semacam itu pasti merusak vokal dan, jelas, itulah maunya iblis.

Tentu masih banyak lagi bentuk-bentuk evil in detail dalam kegiatan musik liturgi. Lazimnya berupa kesalahan yang dibiasakan, tidak dikoreksi, sehingga dianggap sebagai kebenaran. Saat ada yang mengoreksi, pasti akan ditolak karena dianggap sok tahu.

Pertanyaan Iblis

Begitulah. Di ranah musik liturgi, imam dan umat kerap tidak menyadari wujud iblis itu, sekali pun dia ada di dalam sakunya. Lalu, tiba-tiba saja iblis itu sudah merasuki perilaku umat atau imam, mendikte mereka untuk berpikir, berkata, dan bertindak merusak.

Di lingkungan paduan suara musik liturgi ada satu bentuk iblis yang daya rusaknya sangat dahsyat. Itulah pertanyaan “Memangnya kamu mendapat manfaat apa dengan ikut serta dalam paduan suara musik liturgi?”

Pertanyaan tersebut sejatinya adalah bentuk spesifik dari sebuah pertanyaan besar yaitu: “Memangnya kamu  mendapat manfaat apa dengan ikut serta dalam liturgi Ekaristi Kudus?”

Dalam Gereja Katolik, musik liturgi itu adalah bagian integral dari Perayaan Ekaristi Kudus. Dia ikut membangun suasana misteri agung (magnum mysterium) dalam Liturgi Ekaristi.

Mempertanyakan manfaat musik liturgi, dengan demikian, sama saja dengan mempertanyakan atau meragukan manfaat Ekaristi Kudus.

Adakah yang lebih iblis dibanding pertanyaan yang meragukan Ekaristi Kudus? [*]

Leave A Reply

Your email address will not be published.