Umat Stasi Santo Ireneus Silobosar Rayakan Pesta Pelindung

Kesetiaan melayani adalah cara nyata menumbuhkan iman.

0 121

Simalungun, Katolikana.com—Umat Stasi Santo Ireneus Silobosar, Paroki Kristus Raja Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, merayakan pesta pelindung stasi mereka dengan penuh syukur dan sukacita, yang dirangkai dengan periodeisasi pengurus, penerimaan resmi umat baru, pembaptisan bayi, dan komuni pertama, pada hari Minggu (6/7/2025).

Perayaan pesta pelindung Santo Ireneus Silobosar dirangkai dengan periodeisasi pengurus, penerimaan resmi umat baru, pembaptisan bayi, dan komuni pertama. Semua menegaskan satu hal: Gereja tetap hidup, berakar, dan bertumbuh meskipun zaman terus berubah.

Gembala Penjaga Iman

Santo Ireneus lahir di Smyrna, Asia Kecil (Turki), sekitar tahun 120 Masehi. Sebagai murid Santo Polycarpus yang langsung dididik Rasul Yohanes, iman Ireneus berakar kuat pada ajaran para rasul.

Saat menjadi uskup di Lyons, Perancis, ia menghadapi dua tantangan besar: penganiayaan terhadap umat Kristen dan ajaran sesat Gnostisisme.

Dalam karyanya Adversus Haereses, Ireneus menegaskan bahwa keselamatan hanya datang melalui Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi manusia, bukan pengetahuan rahasia seperti klaim kaum Gnostik.

Paus Fransiskus pada tahun 2022 bahkan menganugerahi Ireneus gelar Doktor Gereja sebagai Doctor Unitatis (Doktor Persatuan), menegaskan perannya sebagai jembatan spiritual Gereja Timur dan Barat.

Kalimat terkenalnya, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup sepenuhnya”, terus menginspirasi umat di abad ke-21 ini untuk hidup dalam kesetiaan iman dan kasih yang nyata.

Iman yang Hidup

Dalam homilinya, Pastor RD Parlindungan Sinaga menyoroti tantangan umat di Tanah Jawa: kurangnya penghargaan kepada para pengurus Gereja.

“Sering pengurus tidak dihargai, meskipun sekadar ucapan terima kasih,” katanya. Padahal, menurutnya, menjadi pengurus Gereja adalah panggilan mulia, seperti Ireneus yang rela menghabiskan hidup untuk menjaga kemurnian iman.

Pastor Parlindungan mengingatkan, zaman boleh digital dan cepat berubah, tetapi kesetiaan melayani adalah cara nyata menumbuhkan iman. Sama seperti Ireneus, umat dipanggil untuk berakar pada Kristus dan mewartakan Injil dengan setia di tengah tantangan zaman.

Perayaan di Silobosar bukan sekadar pesta nama, tetapi juga menegaskan Gereja yang hidup melalui rahmat sakramen:

  • Periodeisasi pengurus: Masa bakti pengurus lama berakhir dan pengurus baru segera dimusyawarahkan. Pelayanan mereka menjadi teladan dalam kesetiaan dan kerendahan hati.
  • Penerimaan umat baru: Dua orang resmi diterima ke dalam Gereja Katolik setelah masa pembinaan iman. Sebuah tanda Gereja terus bertumbuh.
  • Pembaptisan bayi: Tiga bayi dibaptis, menegaskan Gereja Katolik sebagai rumah iman sejak awal kehidupan.
  • Komuni pertama: 15 anak menerima Tubuh Kristus pertama kali, menghidupkan iman keluarga dan stasi.

Gereja yang Berakar dan Bertumbuh

Santo Ireneus menegaskan pentingnya Tradisi Apostolik dan kesatuan iman di tengah perpecahan Gereja. Gereja hari ini pun diajak belajar darinya: berakar pada Kristus, menjaga iman tetap murni, dan menolak ajaran-ajaran sesat zaman modern yang menyingkirkan Tuhan dari kehidupan.

Seperti dikatakan Pastor Parlindungan, “Apakah kita sudah memenangkan pertandingan iman kita di dunia ini?” Pertanyaan itu menohok, mengajak umat merefleksikan perjalanan hidup masing-masing. Apakah kita sungguh berpegang pada Kristus, atau hanya sekadar Katolik di KTP?

Di tengah dunia yang serba digital, cepat, dan individualistik, perayaan di Silobosar menegaskan iman Katolik bukan sekadar tradisi turun-temurun. Iman adalah keputusan sadar untuk hidup dalam kasih, pengorbanan, dan kesetiaan seperti Santo Ireneus.

Sebagaimana ditegaskan dalam Lumen Gentium no.17, Gereja dipanggil untuk terus mewartakan Injil kepada semua orang dan membangun Tubuh Kristus. Demikianlah umat Silobosar, di tengah ladang-ladang sawit dan ketiadaan fasilitas megah, tetap setia merawat Gereja-Nya.

Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi kasih dan kebenaran di dunia ini. Karena kemuliaan Allah bukanlah gedung mewah atau teknologi canggih, melainkan manusia yang hidup sepenuhnya dalam iman, kasih, dan pengharapan.

Semoga kita belajar dari Santo Ireneus: menjaga iman dengan berani, melayani dengan setia, dan hidup sepenuhnya untuk kemuliaan Allah. (*)

Kontributor: Febriola Sitinjak, Mahasiswa STP St. Bonaventura KAM

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.