
Refleksi Pengalaman Batin Romo Alb. Herwanta, O.Carm
Katolikana.com – Tatkala bersentuhan dengan alam dan membuka mata kepala, mata hati, jiwa, dan nurani, orang dapat melihat serta menikmati misteri yang tersembunyi di baliknya.
Banyak karya bervariasi lahir dari pengalaman rohani ini. Salah satu budaya yang tercipta adalah agama.
Bukankah sebagian orang sampai pada keyakinan akan adanya Tuhan karena pengalaman bersentuhan dengan kedahsyatan alam?
Dalam beragama orang menindaklanjuti dan mengembangkan pengalaman itu. Hal itu tampak, misalnya dalam doa-doa, lagu-lagu, gambar, patung, tarian, dan pelbagai ungkapan simbolis lainnya.
Ketika orang menghayati ritus agamanya secara mendalam dan melibatkan kematangan batin, ekspresinya amat menyentuh hati dan menggetarkan kalbu.
Ibadah lebih dari sekadar memenuhi aturan dan tata cara formal, melainkan merupakan olah rasa, karsa, dan cipta yang tinggi hasil dan kualitasnya.
Pengalaman diri
Aku baru saja mengalaminya petang hingga malam ini. Itu terjadi dalam misa penutupan tahun yubileum ziarah pengharapan 2025 di Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Central, Hong Kong.
Seperti biasa, liturgi hari besar di Katedral senantiasa dirayakan secara meriah dan agung. Bukan pakaian, pewartaan sabda Tuhan, dan doa-doanya saja, melainkan juga lagu-lagunya.
Koor-nya amat menyentuh. Yang paling mengesan adalah doa umat dalam bahasa Kanton dan bahasa Inggris yang dinyanyikan dengan sangat indah diiringi suara organ pipa yang membuat gemanya mengaduk rasa dan jiwa.
Meski lelah setelah pelayanan sepanjang hari, mendengar musik itu badan menjadi segar kembali.
Lagu-lagunya tidak diiringi alat-alat musik yang dimainkan dengan suara amat keras dan memekakkan telinga, melainkan dengan dinamika yang kadang lembut dan keras; ada yang cepat dan ada pula yang lambat.
Ada allegro, andante, lento, dan lain-lain.
Alunannya merepresentasikan keagungan ilahi yang tidak sekadar menggoncang emosi, melainkan membawa orang memasuki kedalaman hati.
Liturgi semacam itu dirayakan juga di banyak gereja Katolik. Di Indonesia tidak kalah indah.
Sejak inkulturasi liturgi dipromosikan, banyak umat Katolik merayakan ibadah dengan ekspresi budaya daerah.
Ada yang menggunakan gamelan, angklung, dan musik-musik lokal lainnya.
Mengapa itu dilakukan?
Alasannya antara lain karena benda-benda yang menghasilkan suara indah itu juga ciptaan Tuhan yang sebaiknya dipakai untuk memuliakan-Nya.
Singkatnya, baik di tengah alam yang mengagumkan maupun dalam suasana ibadah, orang dapat merayakan keagungan Tuhan.
Tabik!
CaMing XLXI, 28 Desember 2025
HWDSF
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.