Sarasehan Adven 2025 Lingkungan St. Bernadus, St. Paulus Miki dkk Salatiga

0 326

Menanamkan Nilai Iman Melalui Kegembiraan

Salatiga, Katolikana.com – Masa Adven bukan sekadar rutinitas kalender liturgi, melainkan sebuah perjalanan batin yang menuntut pembaruan semangat dalam menanti kedatangan Sang Juru Selamat.

Di tengah dinamika zaman yang semakin cepat, tantangan terbesar Gereja adalah bagaimana menghidupkan firman Tuhan agar tidak terasa kaku dan menjangkau seluruh lapisan generasi.

Menjawab tantangan tersebut, Lingkungan St. Bernadus menghadirkan nuansa berbeda dalam menyambut Natal tahun ini dengan mengemas refleksi iman melalui kebersamaan yang cair dan partisipatif.

Awal Desember 2024 menjadi momentum istimewa bagi warga Lingkungan St. Bernadus, Paroki St. Paulus Miki, Salatiga.

Melalui undangan di grup percakapan, pengurus mengajak umat yang tersebar di wilayah Kota Salatiga hingga Kabupaten Semarang (Desa Candirejo dan Kesongo, Kecamatan Tuntang) untuk merenungkan masa Adven dengan cara yang berbeda: Sarasehan.

Tahun ini, Gereja memang mendorong lingkungan dan keluarga untuk mendalami masa penantian melalui sarasehan yang interaktif, bukan sekadar ibadat formal.

Ruang Baru untuk Suasana Baru

Karena formatnya adalah sarasehan yang melibatkan permainan dan interaksi fisik, rumah warga terasa kurang memadai. Akhirnya, Balai Warga Perumahan Salatiga Permai dipilih sebagai lokasi kegiatan.

Keputusan ini tepat; ruang yang luas memberikan kebebasan bagi semua anggota keluarga—dari kakek-nenek hingga cucu usia SD—untuk terlibat penuh.

Berbeda dengan pendalaman iman tradisional yang cenderung monolog, metode baru ini memecah kekakuan khas umat Katolik yang biasanya “sulit bicara”. Berikut adalah rangkuman perjalanan empat pertemuan Adven di Lingkungan St. Bernadus:

Dinamika Empat Pertemuan: Dari Kado hingga Kanvas

1. Pertemuan Pertama: Berbagi Kisah Kebahagiaan

Menggunakan media kado atau hadiah, setiap peserta diminta menuliskan satu momen paling membahagiakan dalam hidup mereka di secarik kertas.

Tak disangka, metode ini mampu “memancing” suara mereka yang biasanya hanya diam dan duduk manis. Dari lansia hingga anak kecil, semua berani bercerita singkat tentang rasa syukur mereka.

2. Pertemuan Kedua: Kolaborasi di Atas Kanvas

Dipandu oleh Ketua Lingkungan, Mas Ronny, yang merupakan seorang pelukis dan pematung, warga diajak bermain dengan kuas dan cat air. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk membuat goresan tanpa komunikasi verbal sebelumnya. Hasilnya? Sebuah karya seni kolaboratif yang kohesif.

Pesan Moral: Setiap peran di Gereja itu penting. Tidak ada talenta yang lebih kecil atau besar; semua adalah kekuatan yang membangun tubuh Gereja.

3. Pertemuan Ketiga: Puzzle Minggu Gaudete

Memasuki Minggu Gaudete (Minggu Sukacita), umat diajak bermain puzzle. Media ini melambangkan inspirasi dan kesejahteraan bersama. Umat diajak merenungkan bagaimana iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membagikan kegembiraan kepada sesama.

4. Pertemuan Keempat: Pesta Keluarga Kudus dan Harapan Baru

Pertemuan penutup dilaksanakan pada 30 Desember, bertepatan dengan suasana Pesta Keluarga Kudus. Ibadat ini menjadi sangat spesial karena seluruh petugasnya, mulai dari pembawa acara (MC) hingga pembaca doa umat, adalah siswa SD. Ini adalah langkah konkret regenerasi agar anak-anak menjadi “punggawa” Gereja di masa depan.

Tantangan dan Jalan Tengah

Dalam sesi bincang santai sambil makan malam, muncul diskusi hangat mengenai kendala orang tua dalam mendorong anak-anak menjadi misdinar. Jarak rumah ke pusat paroki yang mencapai lima kilometer menjadi tantangan berat, terutama bagi orang tua yang bekerja.

Sebagai solusi, sebuah jalan Tengah  bahwa keterlibatan anak-anak tidak harus selalu di pusat paroki, dengan menjadi misdinar. Menjadikan anak-anak sebagai aktor utama dalam setiap kegiatan lingkungan adalah jalan tengah yang efektif untuk menjaga api iman mereka tetap menyala di tengah kesibukan keluarga.

Masa Adven dan Natal 2025 di Lingkungan St. Bernadus terasa lebih meriah dan bermakna. Persiapan yang menyenangkan melalui sarasehan membuat hubungan antarwarga semakin guyub (rukun) dan semarak.

Dengan cara baru ini, nilai-nilai iman tidak lagi terasa seperti “petuah yang sulit dimengerti,” melainkan pengalaman nyata yang menghangatkan hati.

Melalui rangkaian sarasehan ini, Lingkungan St. Bernadus membuktikan bahwa iman yang hidup adalah iman yang mampu dirayakan bersama dalam tawa dan cerita.

Dengan melibatkan anak-anak sejak dini dalam ruang-ruang kecil di lingkungan, Gereja sedang menanam benih masa depan yang tangguh.

Semangat keguyuban ini menjadi kado Natal terindah yang menegaskan bahwa meski terpisah jarak antara kota dan kabupaten, persaudaraan dalam Kristus tetap menyatukan mereka dalam satu sukacita yang utuh. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.