Pastor Ajak Memaknai Waktu sebagai Rahmat
Simalungun, Katolikana.com—Umat Stasi Santa Anna Siatasan, Paroki Santo Antonius Padua Tigadolok, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, merayakan Misa Ekaristi Awal Tahun 2026 pada Kamis (1/1/2026).
Perayaan ini menjadi momen rohani untuk memulai tahun baru dengan syukur dan harapan, sekaligus menyerahkan seluruh rencana hidup ke dalam penyelenggaraan Tuhan.
Misa dipimpin Pastor Paroki RP. Bonaventura Hendrikus Roi Gultom, OFMConv, dan berlangsung dalam suasana khidmat serta kekeluargaan. Meski hujan dan mendung menyelimuti wilayah Siatasan, umat tetap hadir dengan antusias.
Jumlah umat yang tidak banyak justru menampilkan kesaksian iman: kerinduan akan perjumpaan dengan Tuhan mengalahkan keterbatasan dan cuaca yang kurang bersahabat.

Bertepatan dengan Hari Raya Maria Bunda Allah
Perayaan Ekaristi awal tahun itu bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, yang dalam tradisi Gereja Katolik menegaskan iman akan Yesus Kristus sebagai sungguh Allah dan sungguh manusia.
Dalam liturgi, bacaan-bacaan Kitab Suci mengarahkan umat pada keyakinan bahwa Allah adalah sumber berkat, perlindungan, dan damai sejahtera di awal perjalanan tahun.
Bacaan pertama dari Bilangan 6:22–27 menampilkan berkat imam bagi umat Israel: Tuhan memberkati, melindungi, menyinari wajah-Nya, dan memberikan damai sejahtera.
Bacaan kedua dari Galatia 4:4–7 menegaskan martabat baru manusia sebagai anak-anak Allah—bukan lagi hamba yang hidup dalam ketakutan.
Injil Lukas 2:16–21 mengisahkan para gembala yang menjumpai Bayi Yesus serta sikap Maria yang menyimpan dan merenungkan segala perkara di dalam hatinya. Umat diajak meneladani iman Maria yang rendah hati dan setia, menyediakan ruang batin agar Sabda Allah sungguh diresapi dan berbuah dalam hidup sehari-hari.
Homili: Kronos dan Kairos, waktu sebagai anugerah
Dalam homilinya, RP. Bonaventura mengajak umat merenungkan makna waktu melalui dua istilah Yunani: kronos dan kairos. Kronos dipahami sebagai waktu kronologis—detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun—yang terus berjalan dan tidak dapat diputar kembali. Karena itu, umat diingatkan untuk menghargai waktu dan mengisinya dengan hal-hal yang membangun diri.
Sementara kairos dipahami sebagai “waktu rahmat”, momen ketika manusia mengalami kehadiran dan kebaikan Allah secara nyata. Pergantian tahun, menurutnya, dapat menjadi kairos: kesempatan rohani untuk bersyukur, memperbarui komitmen, dan membuka diri terhadap karya Tuhan.

Tiga sikap iman Maria: mengandung, melahirkan, merawat
Masih dalam homili pada Hari Raya Maria Bunda Allah, RP. Bonaventura mengajak umat belajar dari tiga sikap iman Maria yang relevan untuk memasuki Tahun Baru 2026.
Pertama, mengandung: Maria mengandung Yesus, Sang Sabda Allah. Umat diajak “mengandung” Sabda Tuhan dalam hati, membiarkannya berakar dan membimbing keputusan sepanjang tahun.
Kedua, melahirkan: Sabda yang dihidupi perlu melahirkan buah nyata dalam perkataan dan perbuatan. Pastor menekankan pentingnya memakai kata-kata yang membangun—menjadi berkat bagi sesama.
Ketiga, merawat: iman perlu dipelihara agar tidak kering, melalui doa yang tekun, keterlibatan dalam kehidupan menggereja, serta kesetiaan menjalani proses pertumbuhan iman sehari-hari.
Menutup homili, pastor mengajak umat memasuki Tahun Baru 2026 dengan komitmen baru dan mempercayakan seluruh perjalanan hidup kepada penyelenggaraan Tuhan yang setia.
Jejak iman Stasi Santa Anna Siatasan
Perayaan awal tahun ini juga menegaskan keteguhan tradisi iman Stasi Santa Anna Siatasan yang telah menjadi rumah rohani umat Katolik setempat sejak akhir 1950-an. Stasi tersebut mulai berdiri pada awal 1958 berkat hibah sebidang tanah dari keluarga Amel Nainggolan sebagai tempat awal peribadatan.
Pada masa awal, umat Katolik di wilayah Siatasan masih sekitar 13 KK. Dipimpin Ketua Dewan Stasi pertama Sarman Manik, sejumlah umat perintis—antara lain Amel Nainggolan, Bissen Sinaga, Molen Simarmata, Jamma Sinaga, dan Saddin Manik—menjadi fondasi pertumbuhan komunitas.
Seiring bertambahnya umat, stasi ini mengalami beberapa kali perpindahan lokasi hingga pada 1983 berdiri tempat ibadat yang lebih menetap di atas tanah pemberian umat.
Pendampingan para misionaris, termasuk P. Raymond Rompa, OFMCap, juga disebut berperan dalam penguatan iman umat Katolik di wilayah Simalungun.
Kini Stasi Santa Anna Siatasan dipimpin Jonni Sitinjak selaku Ketua Dewan Stasi, dengan jumlah umat sekitar 27 KK. Mayoritas umat bermata pencaharian sebagai petani, dengan kegiatan menyadap aren sebagai penghasilan tambahan.
Dalam kesederhanaan itu, kehidupan menggereja tetap bertumbuh melalui kebersamaan dan kepercayaan pada penyelenggaraan Tuhan.
Perayaan Misa Awal Tahun 2026 di Stasi Santa Anna Siatasan menjadi penegasan bahwa tahun baru bukan semata pergantian kalender, melainkan undangan untuk berjalan bersama Tuhan dalam “waktu rahmat”—dengan syukur, harapan, dan kesetiaan merawat iman dari hari ke hari. (*)
Kontributor: Febriola Sitinjak
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.