Palembang, Katolikana.com—Pencarian selama 13 hari yang dilakukan keluarga bersama banyak pihak berakhir duka. Dra. Christina Sujiyem (80), warga Palembang yang dilaporkan hilang sejak Rabu (14/1/2026) usai berangkat berobat, ditemukan meninggal di kawasan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, pada Selasa (27/1/2026) siang.
Menurut pemberitaan, Christina terakhir kali diketahui berangkat dari rumah dini hari dengan mobil Mitsubishi Mirage merah bernomor polisi BG 1646 RI untuk berobat, dan sempat memberi kabar kepada keluarga bahwa ia sudah berada di rumah sakit. Setelah itu, komunikasi terputus dan keluarga melapor ke polisi.
Pencarian berlangsung berhari-hari. Informasi simpang siur muncul—dari dugaan salah jalan hingga kemungkinan perampasan kendaraan. Di titik inilah keluarga, kerabat, dan komunitas iman biasanya mengalami dua beban sekaligus: beban menunggu kabar, dan beban menjaga nalar tetap jernih ketika emosi naik-turun.
Kasus Diusut: Dari Dugaan Perampasan ke Penemuan Jenazah
Aparat kepolisian menyebut perkara ini sebagai dugaan pencurian dengan kekerasan (curas). Sejumlah pemberitaan menyatakan beberapa terduga pelaku diamankan, termasuk temuan terkait kendaraan korban yang berpindah tangan dan jejak yang mengarah ke luar daerah.
Bagian paling getir dari perkara ini adalah ketika pencarian berubah menjadi penemuan. Jenazah Christina ditemukan di area perkebunan sawit wilayah Tanjung Lago, Banyuasin.
detikcom melaporkan, jasad Christina dibuang oleh pelaku YG, sehingga polisi sempat kesulitan mencari keberadaan jenazah korban karena pelaku tidak mengingat lokasinya. Jasad tersebut ditemukan diperkebunan sawit, kurang lebih berjarak 400 meter dari jalan Tanjung Api-api.
Dalam penelusuran lokasi, petunjuk yang ditemukan di sekitar titik penemuan turut diberitakan—di antaranya barang-barang milik korban yang dikenali keluarga. Polisi kemudian membawa temuan tersebut untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Duka yang Tidak Menutup Mata pada Keadilan
Di titik ini, tragedi tidak pernah menjadi “kisah indah”. Gereja tidak menutup mata bahwa kematian yang keras meninggalkan trauma. Tetapi Gereja juga menolak membiarkan tragedi menjadi akhir dari segalanya. Iman selalu mencari makna: bukan untuk membenarkan kekerasan, melainkan untuk menjaga agar luka tidak berubah menjadi kegelapan baru.
Dalam duka yang menyesakkan, Gereja mengajak umat untuk tidak membalas kegelapan dengan kegelapan. Mengutip ajaran Yesus tentang pengampunan, Uskup Keuskupan Agung Palembang Mgr. Harun Yuwono menekankan bahwa sesakit apa pun luka yang digoreskan oleh para pelaku, umat Kristiani dipanggil untuk menjadi pembawa damai.
“Jika ditampar pipi kirimu, berilah pipi kananmu. Ampunilah, karena Allah kita adalah Maha Rahim,” pesan sang Uskup. Ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan iman yang percaya bahwa keadilan Tuhan akan bekerja melewati batas nalar manusia.
Di ruang publik, ada kecenderungan untuk memisahkan “iman” dan “keadilan” seolah keduanya berseberangan: iman identik dengan memaafkan, keadilan identik dengan menghukum. Dalam tradisi Katolik, keduanya seharusnya berjalan bersama.
Pengampunan bukan pembatalan proses hukum. Pengampunan adalah keputusan moral untuk tidak memelihara dendam dan tidak membiarkan luka menguasai cara kita memandang manusia. Sementara proses hukum adalah jalan sosial untuk menegakkan tertib, melindungi yang lemah, dan memastikan kekerasan tidak dibiarkan menjadi kebiasaan.
Karena itu, ketika umat diajak mendoakan para pelaku—kalau pun kelak terbukti bersalah—Gereja tidak sedang “melemahkan” tuntutan keadilan. Gereja sedang mengingatkan bahwa keadilan yang sejati tidak boleh berubah menjadi kebencian yang diwariskan.

Mengenang “Mami”
Sejumlah orang menyebut almarhumah “Mami”—sapaan akrab yang melekat di ingatan para murid di SMA Xaverius 3 Palembang dan rekan lama. Dalam banyak kesaksian, ia dikenang sebagai pendidik yang tegas namun perhatian; seorang guru yang “membentuk” bukan sekadar “mengajar”.
Bagi alumni SMA Xaverius 3 Palembang, Ibu Christina adalah sosok guru matematika yang mengajarkan ketegasan sekaligus kasih. Christina kerap dikenang lewat cara ia membangun disiplin dan ketelitian—kualitas yang sering terasa keras ketika muda, tetapi baru dimengerti nilainya ketika seseorang memasuki kehidupan nyata.
Bagi umat Paroki St. Yoseph Palembang, Ibu Christina bukan sekadar jemaat. Ia adalah saksi hidup dari rutinitas yang suci. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, ia selalu hadir dalam Misa pagi.
Tangannya yang terampil kerap menyentuh altar sebagai tim penghias, memastikan rumah Tuhan selalu cantik bagi sesama. Di masa purnatugasnya, ia memilih menjadi “pelayan kecil” di berbagai kelompok kategorial seperti Warakawuri dan Kelompok Simeon.
Tragedi yang menimpanya saat dalam perjalanan untuk berobat menjadi sebuah “Jalan Salib” pribadi baginya. Namun, Mgr. Harun dalam khotbahnya mengingatkan bahwa duka ini adalah duka kemanusiaan.
“Kehidupan adalah milik Allah. Mereka yang merampas nyawa sesama sesungguhnya sedang memusuhi Sang Pencipta. Namun, sebagai anak-anak Allah, kita tidak diajarkan untuk menyimpan bara dendam,” ungkap Mgr. Harun dengan suara bergetar.
Keluarga besar Polri mengingat beliau adalah istri dari mendiang pensiunan Polri dan umat gereja telah memberikan penghormatan terakhir melalui Doa Rosario yang tak putus-putus di Taman Maria Bunda Hati Kudus Yesus.

Pelajaran Sunyi
Peristiwa ini meninggalkan pertanyaan yang wajar: mengapa orang baik bisa mengalami jalan pulang yang begitu sunyi? Dalam iman, pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang memuaskan akal. Tetapi iman memberi sesuatu yang lain: cara untuk tetap manusiawi—untuk menangis tanpa kehilangan harapan, untuk menuntut keadilan tanpa kehilangan belas kasih.
Bagi keluarga, jalan ke depan mungkin panjang. Bagi komunitas, dukungan tidak boleh berhenti pada hari pemakaman. Dan bagi kita semua, kisah Christina mengingatkan satu hal yang konkret: martabat manusia itu rapuh, sehingga solidaritas sosial dan kerja-kerja perlindungan bagi yang rentan tidak boleh dianggap urusan “orang lain”.
Pulangnya Christina adalah duka. Namun cara umat mengenangnya—dengan doa, dengan kehadiran, dengan keberanian menuntut keadilan tanpa memelihara dendam—dapat menjadi kesaksian iman yang tetap bernyala, bahkan ketika peristiwa hidup terasa gelap.
Ibu Christina mungkin pergi dalam jalan yang tragis di mata dunia, namun bagi orang beriman, ia pulang dalam dekapan kasih Tuhan yang ia sembah setiap pagi di gereja.
Selamat jalan, Ibu Christina. Tugasmu menghias altar dunia telah usai, kini hiaslah altar di Surga. (*)

Setelah purna bakti guru di SD Xaverius 2 Palembang saat ini sebagai pendidik di SMA Xaverius 2 Palembang dan SMP Kusuma Bangsa. Sekretaris DPP Santo Yoseph Palembang Palembang, jurnalis / kontributor di media lokal dan nasional dan aktif di beberapa organisasi.