Katolikana.com—Dalam rentang 2025–2026, Fr. Siorus Ewainaibi Degei merampungkan empat buku yang ia sebut sebagai “nazar intelektual”: sebuah paket tulisan lintas-genre yang bergerak dari sastra, filsafat kritis, refleksi mariologis kontekstual, hingga etika dekolonisasi Papua.
Keempatnya terbit melalui Edited Press di Yogyakarta: Ratapan Papuana: Sebuah Mozaik Cerpen, Dekolonisasi Rasisme Epistemik: Sebuah Pengantar Filsafat Kritis, Maria Mama Noken Kebenaran: Sebuah Refleksi Etno-Mariologis Papua, dan Depapuanisme: Sebuah Etika Dekolonisasi Papua. Empat Permata
Empat buku ini menarik dibaca sebagai satu tarikan napas: ada kegelisahan akan martabat manusia dan luka sosial, ada dorongan membongkar cara pandang yang timpang, dan ada upaya meneguhkan iman yang berakar pada pengalaman kultural Papua—tanpa kehilangan orientasi pada damai, rekonsiliasi, dan tanggung jawab etis.
Bagi pembaca Katolikana, paket ini bisa dibaca sebagai undangan untuk masuk ke “ruang dalam” Papua: bukan semata sebagai isu, melainkan sebagai rumah hidup, tempat iman, dan medan pergulatan nurani.
Dari Cerpen, Filsafat, Teologi, hingga Etika
Buku pertama, Ratapan Papuana, menempatkan sastra sebagai pintu masuk: sepuluh cerpen yang ditulis pada paruh 2025, dengan alam Papua dipersonifikasikan sebagai “mama”—ibu yang mengandung kasih, sekaligus merasakan perih saat rahim kehidupan dilukai kerakusan.
Buku ini berukuran 14 x 21 cm, setebal iii+201 halaman, ber-ISBN 978-7334-2609-4. Desain sampul dikerjakan Ellyas Maday. Empat Permata
Buku kedua, Dekolonisasi Rasisme Epistemik, berangkat dari wilayah yang lebih konseptual: pengantar filsafat kritis yang mengajak pembaca menaruh curiga pada “pakem” pengetahuan yang menindas. Terbit November 2025, setebal ix+196 halaman (14 x 21 cm), ISBN 987-0-4356-5678-5. Empat Permata
Buku ketiga, Maria Mama Noken Kebenaran, berpijak pada teologi yang dibumikan: menelusuri bagaimana sosok Maria dihayati dalam “tungku spiritual” masyarakat Papua, dengan fokus pada dua representasi—Maria Mama Fajar Timur (Mater Orientalis Aurora) dan Maria Mama Noken Kebenaran (Mater Noken Veritatis). Terbit Desember 2025, setebal iv+116 halaman (14 x 21 cm), ISBN 978-623-6784-28-0. Empat Permata
Buku keempat, Depapuanisme, adalah penutup yang paling tebal sekaligus paling “programatik”: sebuah etika dekolonisasi Papua yang menawarkan “depapuanisasi” sebagai proses dekonstruksi kritis terhadap hegemoni yang menekan, disertai penekanan pada dialog spiritual dan rekonsiliasi. Terbit Januari 2026, setebal xi+316 halaman (14 x 21 cm), ISBN 983-43008-0-8. Empat Permata

Ratapan Papuana: Saat Sastra Menjadi Doa
Kekuatan Ratapan Papuana bukan pada “cerita” sebagai hiburan, melainkan pada sastra sebagai penghayatan. Di sini cerpen bekerja seperti doa yang tak selalu rapi: kadang lirih, kadang tajam, tetapi tetap mengarahkan pembaca pada satu hal—bahwa penderitaan bukan sekadar data sosial; ia punya wajah, punya tubuh, punya rumah.
Dengan memilih cerpen, penulis seperti menegaskan bahwa pengalaman kolektif bisa dihadirkan tanpa harus jatuh menjadi pamflet. Pembaca diajak menyimak, lalu menimbang: sejauh mana kita ikut bertanggung jawab ketika sebuah “mama” meratap.
Dekolonisasi Rasisme Epistemik: Menggugat Cara Kita Mengetahui
Buku filsafatnya memperlihatkan “peta bacaan” yang tidak main-main. Penulis merangkum biografi dan pemikiran sejumlah tokoh lintas benua—antara lain Enrique Dussel, Vandana Shiva, Valentin-Yves Mudimbe, Juan Carlos Scannone, Theodor W. Adorno, dan Chantal Mouffe—lalu menyajikannya sebagai pengantar filsafat kritis yang relevan bagi pembaca Papua.
Tujuannya tegas: mendorong fondasi “dekolonisasi epistemologi” dan memantik lahirnya “laboratorium dekolonisasi epistemik Papua” di ruang-ruang ilmiah. Empat Permata
Bila dibaca dalam kacamata pendidikan iman, buku ini berguna sebagai alarm: kadang penindasan tidak hanya terjadi lewat senjata atau kebijakan, tetapi lewat cara berpikir yang dipaksakan sebagai satu-satunya yang sah. Di titik ini, filsafat menjadi kerja rohani juga: membersihkan batin dari kebiasaan meremehkan pengalaman orang lain.
Maria Mama Noken Kebenaran: Mariologi yang Berakar pada Humus Papua
Di buku mariologinya, penulis menyodorkan gagasan yang cukup jarang disentuh secara sistematis: mariologi kontekstual Papua. Ia menilai tradisi risalah teologis tentang kristologi, misiologi, soteriologi, ekklesiologi, hingga eskatologi kontekstual sudah relatif banyak, sementara mariologi masih kurang—dan itulah ruang yang ia masuki. Empat Permata
Menariknya, Maria tidak ditempatkan sebagai “hiasan devosi”, melainkan sebagai simbol keibuan, harapan, dan penguatan identitas iman yang bertemu dengan pengalaman budaya Melanesia.
Dua figur—Mama Fajar Timur dan Mama Noken Kebenaran—dibaca sebagai pintu untuk memahami bagaimana iman Katolik berakar dan bertumbuh lewat bahasa simbol lokal. Empat Permata
Depapuanisme: Etika, Rekonsiliasi, dan Pekerjaan Panjang Membebaskan Diri
Jika tiga buku pertama bisa dibaca sebagai pengenalan medan—rasa, nalar, dan iman—maka Depapuanisme seperti mengajak pembaca masuk ke ranah “apa yang harus dikerjakan”.
Penulis menyebut “depapuanisasi” sebagai proses sintesis-dialektis yang membongkar hegemoni rasisme, kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme yang menekan, sekaligus mencari jalan keluar yang khas Papua. Empat Permata
Dari sudut pandang pembaca Katolikana, nilai buku ini terletak pada penegasan etika: bahwa damai tidak lahir dari lupa, tetapi dari keberanian menata ulang cara hidup bersama—dengan sikap kritis sekaligus terbuka pada dialog, pengakuan martabat, dan rekonsiliasi yang tidak manipulatif.
Catatan Akhir
Dalam pengantar, penulis menyebut empat buku ini sebagai kelanjutan dari karya-karya sebelumnya yang sudah beredar terbatas, termasuk di Lembah Hijau Kamuu, Dogiyai, dan ia berharap paket buku ini kelak dibedah serta diperjualbelikan untuk publik.
Ia juga memperkenalkan diri sebagai alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur dan sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Petrus Mauwa. (*)
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.