Bahaya Formalisme Agama

0 58

Katolikana.com – Merenungkan bacaan (Markus 7:6-13) tentang jawaban Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat sangat relevan bagi kehidupan Kristen masa kini. Mengapa? Karena menyentuh inti ibadah sejati dan bahaya formalisme agama yang mengancam manusia.

Yesus mengutip Yesaya untuk menegur mereka yang menghormati Allah dengan bibir, tetapi hatinya jauh dari-Nya. Ibadah mereka menjadi sia-sia, karena lebih mengutamakan “adat-istiadat manusia” daripada “perintah Allah”.

Relevansi saat ini
Tanggapan Yesus itu masih bermakna atau relevan bagi kita saat ini. Hal ini dapat dilihat dalam tiga aspek:

Pertama prioritas hati di atas ritual. Yesus menolak upaya memisahkan yang “sakral” (ibadah) dari yang “sekular” (tindakan sehari-hari). Ibadah sejati tidak terbatas pada rutinitas keagamaan, tetapi terpancar dalam seluruh hidup—termasuk perkataan, tindakan, dan motivasi hati.

Di zaman yang sering memisahkan spiritualitas dari etika sosial, Yesus mengingatkan bahwa memuliakan Allah justru nyata dalam kejujuran, kasih, dan keadilan dalam relasi keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.

Kedua integritas perkataan dan tindakan yang selaras. Yesus mengkritik praktik “kurban” (mempersembahkan harta untuk Bait Allah) yang justru dipakai untuk mengabaikan kewajiban merawat orang tua (Markus 7:10-12).

Ini kecerdikan untuk melanggar perintah Allah demi tradisi.

Relevansinya kini tampak ketika gereja atau individu sibuk dengan aktivitas religius (seperti ibadah raya atau program gereja) tetapi mengabaikan tanggung jawab nyata terhadap keluarga, membantu yang lemah, atau berlaku adil.

Iman menjadi kosong jika ritual agama dipakai untuk membenarkan tindakan yang mengabaikan kasih.

Ketiga otoritas Firman Allah di atas tradisi. Yesus tidak menolak semua tradisi, tetapi menempatkannya pada posisi yang benar. Tradisi menjadi berbahaya jika menggeser atau bahkan membatalkan perintah Allah yang lebih mendasar.

Menguji tradisi dengan terang Firman
Dalam konteks kini, gereja perlu terus-menerus menguji tradisi, kebiasaan, dan bahkan “ajaran populer” dengan terang Firman Allah.

Ibadah sejati lahir dari hati yang taat kepada Allah, bukan sekadar kepatuhan pada norma sosial atau rutinitas keagamaan yang telah membatu.

Kesimpulannya, di tengah dunia yang penuh dengan simbolisme agama dan mengutamakan penampilan (performa), Yesus mengajak kita kembali ke ibadah yang otentik: hati yang dekat dengan Allah, yang diwujudkan dalam tindakan yang memuliakan-Nya dan mengasihi sesama.

Ibadah sejati bukan soal tangan yang bersih secara ritual, tetapi tentang hati yang murni dan tangan yang siap melayani sesuai dengan kehendak Allah yang sejati.

Selasa, 10 Februari 2026
Peringatan Santa Skolastika, Perawan
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.