Katolikana.com – Permenungan kali ini mengajak menelisik, mengapa hari ini kita membaca Roma 5:12-19?
Perikop ini menyajikan kontras mendasar antara dua figur sentral dalam sejarah keselamatan: Adam dan Yesus Kristus.
Hal ini menjembatani dan menjelaskan bagaimana kisah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3 terhubung dengan karya penebusan Kristus.
Sikap tidak taat
Dosa yang dilakukan oleh satu orang, Adam, telah membawa maut dan hukuman bagi seluruh umat manusia.
Sikap tidak taat Adam di Taman Eden (Kejadian 3:1-7) merusak citra Allah pada diri manusia dan membawa dosa serta kematian ke dalam dunia. Setiap orang mewarisi dan mengalami kondisi itu.
Namun, Rasul Paulus menyatakan bahwa karunia Allah melalui Yesus Kristus jauh lebih besar daripada dampak pelanggaran Adam . Jika oleh satu pelanggaran semua orang jatuh di bawah kuasa maut, maka oleh satu perbuatan kebenaran dan ketaatan Kristus, semua orang memperoleh pembenaran dan hidup .
Jembatan antara Kejatuhan dan Kemenangan
Di sinilah letak jembatan penghubungnya: kisah kemenangan Yesus atas godaan setan di padang gurun (Matius 4:1-11) adalah manifestasi nyata dari “ketaatan satu orang” yang dimaksud Paulus.
Berbeda dengan Adam yang gagal dalam ujian ketaatan dengan menuruti bujukan Iblis, Yesus sebagai “Adam yang baru” berhasil menangkal setiap godaan Iblis dengan berpegang teguh pada firman Allah . Ketaatan-Nya yang sempurna inilah yang menjadi dasar dilimpahkannya kebenaran dan kasih karunia Allah bagi semua orang yang percaya.
Relevansi bagi Masa Prapaskah
Memahami kontras antara dosa dan karunia ini sangat relevan bagi umat kita selama masa Prapaskah.
Masa 40 hari Prapaskah adalah waktu pertobatan dan evaluasi diri untuk mempersiapkan hati menyambut kebangkitan Kristus pada Paskah. Apa yang mesti dilakukan?
Pertama mengakui realitas dosa. Prapaskah mengajak kita untuk jujur mengakui bahwa kita adalah pewaris dosa Adam. Kita perlu merenungkan bagaimana hawa nafsu, keinginan untuk menjadi “sama seperti Allah” (Kejadian 3:5), dan ketidaktaatan itu masih nyata dalam hidup kita.
Kedua berpegang pada karunia ketaatan Kristus. Di tengah pergumulan melawan dosa dan godaan, hendaknya kita tidak berputus asa. Justru, kita perlu bersyukur atas kemenangan Kristus.
Sama seperti Yesus menggunakan firman Allah untuk mengalahkan Iblis , kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan berdasarkan firman.
Berpuasa dan pantang selama Prapaskah menjadi sarana latihan rohani untuk mengendalikan diri dan mengandalkan kasih karunia Allah .
Dengan demikian, masa Prapaskah menjadi ruang refleksi dan saat untuk merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui kegagalan kita seperti Adam, sekaligus menerima dengan penuh syukur karunia hidup kekal yang telah dijamin oleh ketaatan sempurna Yesus Kristus, Tuhan kita.
Tidak berputus ketika menghadapi fakta bahwa kita, sesama, dan masyarakat kita itu penuh dosa, karena kasih karunia Allah lebih berkuasa daripada dosa-dosa kita.
Minggu Prapaskah I, 22 Februari 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.