Menyelami Hati Allah dalam Masa Prapaskah

0 115

Katolikana.com-Dua bacaan Imamat 19:1-2, 11-18 dan Matius 25:31-46 menampilkan suatu dialog tentang arti hidup beriman di hadapan Allah.

Perikop Kitab Imamat itu adalah bagian dari kumpulan perintah tentang kekudusan yang diberikan kepada bangsa Israel di Gunung Sinai. Itu dimulai dengan perintah Allah, “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.”

Kekudusan
Kekudusan ini dirumuskan dalam istilah sosial yang praktis: jangan mencuri, jangan berbohong, atau saling menipu; jangan memeras atau merampok sesamamu; jangan mengutuk orang tuli atau memasang batu sandungan di depan orang buta.

Perintah ini menuntut keadilan bagi para pekerja, rasa hormat kepada mereka yang rentan, dan keadilan yang tidak memihak.

Perintah ganda
Puncaknya adalah perintah ganda untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dan mengasihi orang asing yang tinggal di tengah-tengah umat. Dasarnya, perjanjian dengan Tuhan Allah yang telah membebaskan mereka.

Dalam Injil Matius 25, pemandangan beralih ke akhir zaman. Yesus melukiskan Anak Manusia yang duduk di atas takhta kemuliaan-Nya, memisahkan semua bangsa sebagaimana seorang gembala memisahkan domba dari kambing.

Kriteria penghakiman terakhir ini sederhana dan mengejutkan, yakni memberi makan orang lapar, menyambut orang asing, memberi pakaian kepada orang telanjang, merawat orang sakit, dan mengunjungi orang yang dipenjarakan. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan mereka yang terpinggirkan dan menyatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Sementara kitab Imamat mendasarkan perintah-perintah itu pada perjanjian Israel dengan Allah yang kudus, Injil Matius menyatakan kehadiran Kristus di dalam mereka yang menderita dan terabaikan.

Melayani orang lain bukan sekadar ketaatan pada hukum Taurat; tetapi itu adalah pelayanan langsung kepada Sang Raja (Kristus).

Kesamaan antara kedua teks ini sangat mendalam. Keduanya menuntut agar iman yang sejati dibuktikan melalui kasih dan keadilan yang nyata. Keduanya mengutamakan mereka yang rentan—orang miskin, orang asing, mereka yang berkekurangan.

Cara memperlakukan orang lain
Keduanya menegaskan bahwa cara kita memperlakukan orang lain mencerminkan hubungan sejati kita dengan Allah.

Perbedaannya terletak pada motivasi utamanya: kitab Imamat mengacu pada panggilan umat untuk meneladani kekudusan Allah, sementara Injil Matius mengacu pada perjumpaan pribadi dengan Kristus di dalam diri mereka yang paling hina.

Kedua perikop Kitab Suci ini sangat relevan dihayati selama masa Prapaskah. Mereka menantang kita untuk melampaui ritual pantang dari makanan dan menghadiri kebaktian serta menguji kualitas kasih kita.

Latihan rohani
Latihan rohani masa Prapaskah seperti memberi sedekah dan berpuasa bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membuka mata kita terhadap kebutuhan di sekitar kita.

Hal itu melatih kita untuk melihat Kristus di dalam diri sesama yang lapar dan mewujudkan kekudusan Allah melalui tindakan keadilan dan belas kasihan. Dengan menyatukan perintah kitab Imamat untuk mengasihi sesama dan amanat Injil Matius untuk melayani mereka yang paling hina, masa Prapaskah menjadi perjalanan menuju kekudusan sejati yang mencerminkan hati Allah sendiri.

Senin, 23 Februari 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.