Katolikana.com -Pernahkah kita merasa demikian berdosa hingga merasa sulit untuk kembali kepada Tuhan? Bagaimana mengatasinya?
Kitab Mikha dan Injil Lukas dalam bacaan hari ini bersama-sama memberikan jawabannya: kasih setia Allah yang mengampuni.
Kembali menyayangi
Nabi Mikha menyaksikan umat yang hancur akibat dosa. Namun di tengah penghakiman, ia berdoa dengan penuh pengharapan.
Ia mengingatkan Allah akan janji-Nya kepada nenek moyang. Mikha percaya pada kasih setia yang ajaib: “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapus segala kesalahan kita, dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (Mikha 7:19).
Itu gambaran yang indah—dosa tidak diperbaiki, tidak dikelola, tetapi dilemparkan ke tempat yang sangat dalam.
Menanti dengan sabar
Dalam Injil Lukas 15:1-3,11-32, Yesus menggambarkan kasih itu melalui perumpamaan tentang anak yang hilang. Seperti Tuhan dalam doa Mikha, sang ayah menanti dengan sabar. Ketika si bungsu kembali dengan tertatih-tatih, sang ayah tidak menunggu permintaan maaf panjang. Ia berlari, memeluk, dan mengadakan perjamuan.
Inilah respons kasih setia Allah: bukan menghitung kesalahan kita, tetapi memulihkan hubungan-Nya dengan kita
Sikap kakak sulungnya mengingatkan kita bahwa kita pun bisa kehilangan sukacita karena merasa lebih benar. Kita mungkin tinggal di rumah bersama Bapa secara fisik, namun hati kita jauh—sibuk menilai dan sulit mengampuni.
Realitas saat ini
Apa relevansi sabda Tuhan hari ini? Kasih setia Allah yang mengampuni itu bukan ajaran dari masa lalu, melainkan realitas yang dapat kita alami saat ini. Di tengah kegagalan dan luka, kita dipanggil untuk percaya bahwa kasih-Nya lebih dalam dari tubir laut. Kita juga dipanggil untuk menyalurkan pengampunan itu, seperti ayah yang berlari menyambut anak bungsu.
Allah itu tidak pernah bosan atau berhenti mengampuni. Kitalah yang sering lelah meminta dan memberi ampun. Demikian kata mendiang Paus Fransiskus. Karena itu, marilah kita kembali kepada kasih setia-Nya, dan biarkan kasih itu mengalir melalui hidup kita.
Maukah kita menyambut kasih-Nya dan menyalurkannya kepada sesama yang nyaris putus asa menghadapi kesalahan dan dosa dirinya?
Sabtu, 7 Maret 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.