Mengikuti Yesus Kristus dalam peristiwa Jalan Salib sering kali menghadirkan sebuah pertanyaan yang mendasar dari dalam hati bagi saya pribadi dan mungkin juga anda yaitu: Mengapa kita tetap berjalan bersama-Nya, bahkan ketika kita merasa belum sepenuhnya mengenal siapa Dia? atau bahkan tidak mengenal-Nya. Pertanyaan ini bukan tanda bahwa imankita itu lemah, melainkan justru awal dari sebuah perjalanan rohani yang jujur dan mendalam.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa ingin memahami segala sesuatu sebelum mengambil langkah. Kita ingin kepastian, kejelasan, dan jawaban yang lengkap. Namun dalam iman, jalan yang ditempuh sering kali berbeda. Mengikuti Yesus tidak selalu dimulai dari pengenalan yang utuh, tetapi dari kepercayaan yang sederhana. Sebuah keyakinan kecil bahwa di dalam diri-Nya ada kebenaran, kasih, dan harapan yang layak untuk kita ikuti.
Jalan Salib sendiri merupakan perjalanan yang penuh misteri. Kita menyaksikan Yesus yang menderita: jatuh, dihina, dan akhirnya wafat. Secara manusiawi, semua itu bisa diterjemahkan lurus sebagai kelemahan. Namun justru disitulah tersimpan kekuatan kasih yang paling dalam. Ketika kita mengikuti setiap perhentian, kita mungkin belum sepenuhnya mengerti maknanya, tetapi hati kita perlahan disentuh. Ada sesuatu yang berbicara lebih dalam dari sekadar pengetahuan. Sebuah pengalaman batin yang menggerakkan.
Sering kali kita mengikuti Dia karena kita terlebih dahulu merasakan. Kita merasakan damai dalam doa, kita merasakan kekuatan saat berada dalam kesulitan, kita merasakan penghiburan ketika berada dalam kelelahan hidup. Pengalaman-pengalaman sederhana ini menjadi titik awal pengenalan kita akan Yesus. Bukan melalui teori yang rumit, tetapi melalui perjumpaan yang nyata, meskipun masih samar.
Mengikuti Yesus dalam Jalan Salib juga berarti kita berjalan dalam solidaritas. Kita membawa serta pengalaman hidup kita sendiri: luka, kegagalan, harapan, dan pergumulan-pergumulan kita. Dalam setiap langkah Yesus yang memanggul salib, kita melihat gambaran hidup kita sendiri. Meskipun kita belum mengenal-Nya secara penuh, kita merasa bahwa Dia mengerti dan mengenal kita. Dia tidak jauh dari penderitaan manusia, tetapi justru hadir di dalamnya.
Di sinilah letak keunikan iman Kristiani: kita tidak menunggu untuk mengenal Dia sepenuhnya sebelum mengikuti-Nya, tetapi kita mengikuti Dia agar semakin mengenal. Pengenalan itu bertumbuh seiring perjalanan. Seperti seorang sahabat yang semakin kita pahami seiring berjalan waktu, demikian pula relasi kita dengan Yesus. Ada proses, ada dinamika, ada jatuh bangun, tetapi semuanya mengarah pada kedalaman relasi yang lebih utuh.
Para murid Yesus sendiri mengalami hal yang sama. Mereka tidak langsung memahami siapa yang mereka ikuti. Bahkan dalam banyak kesempatan, mereka bingung, ragu, dan takut. Namun mereka tetap berjalan bersama-Nya. Dan justru dalam perjalanan itulah, terutama melalui peristiwa sengsara dan kebangkitan, mereka akhirnya semakin mengerti.
Mengikuti Jalan Salib ketika kita belum sepenuhnya mengenal Yesus juga merupakan bentuk kerendahan hati. Kita mengakui bahwa kita itu terbatas, bahwa pemahaman kita tidak sempurna. Namun kita tetap membuka diri untuk dibentuk, untuk diajar, dan untuk dipimpin. Dalam sikap inilah iman bertumbuh bukan dari kepastian yang mutlak, tetapi dari kesediaan untuk terus berjalan.
Akhirnya, alasan terdalam kita mengikuti Yesus bukanlah karena kita sudah mengenal-Nya sepenuhnya, tetapi karena kita percaya bahwa Ia terlebih dahulu mengenal dan mengasihi kita. Kasih itulah yang menarik kita untuk melangkah, meskipun dengan pemahaman yang terbatas. Dalam setiap langkah peristiwa Jalan Salib, kita sedang belajar untuk semakin mengenal-Nya bukan hanya dengan pikiran, tetapi dengan hati dan keseharian hidup kita.
Dan mungkin, justru di situlah makna sejatinya: bahwa kita mengikuti Dia bukan karena sudah mengenal, tetapi karena kita sedang dalam perjalanan untuk mengenal-Nya. Sebuah perjalanan iman yang terus bertumbuh, semakin dalam, dan semakin nyata, seiring kita setia berjalan bersama Yesus Kristus.

Kontributor Katolikana.com di Nabire, Papua Tengah. Gemar sepedaan dan bermusik. Alumnus FEB Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Bisa disapa via Instagram @reinaldorahawarin