Bul, Tunggu di Panti Paroki: Refleksi Panitia Paskah Paroki Banteng (2)

0 20

Tugas pelayanan non-liturgial menyisakan cerita non-sakral: pengalaman manusiawi di lapangan. Seru, saru, dan lucu. Seru oleh kekompakan, saru oleh absennya komitmen, dan lucu oleh… silakan baca sampai akhir.

Ibu-ibu yang bikin pikiran adem dan perut hangat.

Katolikana.com—Sepasar setelah Minggu Paskah, Panitia Paskah Paroki Keluarga Kudus dari Lingkungan Santo Gregorius Agung menggelar evaluasi terbatas. Disebut terbatas karena sejatinya kami hanya berniat kumpul-kumpul dan makan-makan sebagai perayaan kecil atas kerja bareng beberapa bulan terakhir.

Berbagi cerita. Mengeluarkan uneg-uneg. Dan tentu saja mencatat apa saja yang sebaiknya untuk tugas Natal tahun ini. Oh, tentu saja mencatat di kepala. Tak ada yang benar-benar mencatat obrolan kami. Termasuk saya.

Tugas kami dalam kepanitiaan, seperti sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, berkutat di perlengkapan, kelistrikan, konsumsi, dan keamanan. Jauh dari panti imam. Satu-satunya tugas di panti imam adalah hias altar. Semua non-liturgial.

Baca juga: Jauh dari Panti Imam Dekat Dengan Peristiwa Iman: Refleksi Panitia Paskah Paroki Banteng

Ujian komitmen

Tim hias altar, “Ada wilayah yang sama sekali tidak mengirimkan petugas. Sampai selesai tidak muncul.” Tim listrik, “Akhirnya saya kerja sendirian. Tim dari wilayah lain malah sibuk di tugas-tugas lain.” Tim perlengkapan, “Ada miskomunikasi di lapangan sehingga terjadi perubahan-perubahan yang membingungkan.” Tim parkir, “Ada area yang mestinya dikosongkan oleh tim lain malah diisi.”

Keluhan-keluhan itu mengemuka secara jujur. Sesuai situasi yang dihadapi dan dirasakan masing-masing. Semua saling terbuka. Semua saling mendengarkan. Evaluasi memang begitu. Di belakang emosi yang terlontar secara subjektif, ada koreksi objektif atas perencanaan yang sudah disepakati.

“Di paroki saya sebelumnya, ada SK yang dikeluarkan oleh dewan paroki. Nama-nama yang ditunjuk disebutkan semua. Bahkan, diterbitkan buku panduan dengan rincian tanggung jawab yang jelas,” ujar salah seorang panitia menanggapi hilangnya umat yang tidak hadir dalam tugas. Tentang ini, akan kami sampaikan dan usulkan dalam evaluasi besar nanti.

Apakah harus seformal itu? Dalam beberapa aspek iya. Ada tanggung jawab besar dalam kepanitiaan. Selain supaya umat nyaman dalam perayaan, tugas-tugas tertentu tidak bisa dikerjakan hanya bermodal kesukarelaan dan semangat. Kelistrikan, contohnya, membutuhkan orang-orang yang sungguh-sungguh punya kapasitas dan kecakapan teknis. Niat baik saja tidak cukup. Seperti saya, yang tidak paham instalasi listrik, tidak akan berguna kehadiran saya ketika terjadi konsleting, misalnya. Saya sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang bagaimana menelusuri sumber dan alur aliran listrik.

Apakah ahli listrik ada di lingkungan-lingkungan? Ahli sekali mungkin tidak selalu ada. Memahami kelistrikan mungkin ada. Jika tidak ada, atau tidak bersedia, baru cari ahli dari luar. “Ah, tidak perlu ahli dari luar. Sejatinya, tugas panitia kelistrikan sudah cukup diringankan karena pemasangan instalasi sudah dikerjakan oleh vendor. Tugas panitia mengarahkan dan mengawasi saja.”

Jika begitu, apa yang lebih dibutuhkan untuk tugas-tugas seperti ini? Tiada lain, kesadaran untuk terlibat. Hidup menggereja, terkhusus dalam penyelenggaraan perayaan-perayaan hari besar, memanggil kita untuk menyediakan diri turun tangan. Tak cukup hanya mendoakan. Pula tak cukup dengan urun dana. Sebab, perayaan-perayaan liturgi bukan seperti event yang butuh sponsorship. Bukan worship yang sebatas nyanyian dan puji-pujian.

Bapak-bapak yang dalam segala situasi selalu ngakak-ngakak.

Cerita menggelitik dan tajamnya kritik

Di luar itu, ada kejujuran di sisi lain. Bahwa tidak memiliki kompetensi khusus pun tetap bisa ambil bagian dalam tugas pelayanan. Modalnya kesediaan dan kepatuhan. Sederhananya, “Yang penting iya dan lakukan apa yang diminta koordinator.”

Lalu ada cerita lucu. Seorang umat yang belum lama tinggal di Lingkungan Santo Gregorius Agung mendapatkan tugas menjadi tim keamanan. Ia mengiyakan saja. Pada saat bertugas, ia ditempatkan di seputar pintu utama dan balkon. Masalah muncul. Ini baru kali kedua ia masuk ke Gereja Banteng—kali pertama ketika tugas koor di hari lalu.

Di tengah perayaan, ia diminta naik ke balkon. Mondar-mandir ia mencari anak tangga. Mau tanya umat ia malu. Masa panitia kok malah tidak tahu.

Ketika ketemu, dan ia naik ke balkon, masalah baru muncul. Ia duduk di kursi yang oleh panitia dialokasikan untuk petugas lain. “Salah saya sebagai panitia tidak survei lokasi terlebih dulu,” ujarnya disambut tawa panitia lain.

Di balkon juga, panitia lain menjumpai situasi mirip. Ia duduk di kursi yang oleh panitia lain dikatakan disediakan bagi umat yang datang terlambat. Saat diminta menyingkir, ia menolak, “Orang terlambat kok dipikirin!”

Tentu saja, peristiwa terakhir yang lucu ini jadi serius saat disambung dengan peristiwa lain saat persiapan. Pada suatu malam jelang Kamis Putih, kami menata kursi di bawah tenda di depan aula. Saat semua kursi sudah tertata, seorang panitia datang meminta agar deretan kursi paling belakang dikosongkan. Lagi, alasannya, “Untuk jalan mereka yang datang terlambat. Kalau lewat depan mereka akan malu.”

Kami mengiyakan sambil dalam hati mengatakan tidak. Tidak pada tempatnya memberi kelonggaran berlebihan bagi yang tidak disiplin. Ah, ini dalam sekali. Umat sebaiknya membiasakan disiplin dalam segala hal. Dimulai dari disiplin tepat waktu dalam perkara-perkara teknis. Sesudahnya, disiplin dalam urusan-urusan teologis. Bukankah napas Gereja Katolik ada pada kedisiplinan? Termasuk disiplin dalam cara berpikir—yang tentang ini ada cerita lucu.

Bul, tunggu di panti paroki ya

Seorang umat datang membawa anabul. Oleh petugas disapa agar hewan kesayangannya dititipkan di panti paroki. Dititipkan artinya “dikencang” di sana. Apa yang terjadi? Orang tersebut marah-marah. Dia mengata-ngatai petugas, “Gereja ini tidak ramah makhluk ciptaan Tuhan.” Urung masuk ke gereja, ia memutuskan balik kanan, berdiri di pinggir jalan, entah mengikuti misa atau mengikuti pikirannya sendiri.

Seusai misa, kami membahas kejadian tersebut. Petugas yang menghalau umat tersebut galau, bertanya apakah tindakannya salah. Kami menanggapi dengan ringan, “Tidak. Kita sudah memberikan alternatif karena memikirkan umat lain yang mungkin tidak nyaman jika ada hewan peliharaan dibawa masuk ke gereja.”

Jika umat tersebut membaca tulisan ini, mari berpikir dan berempati secara lurus. Tuduhan bahwa Gereja tidak ramah pada makhluk ciptaan Tuhan itu pernyataan egois dan tidak empatik. Melarang membawa masuk hewan peliharaan, dengan menyediakan tempat menaruh, harap dimaknai sebagai segala sesuatu ada tempatnya.

Syukur boleh ambil bagian

Di atas semua itu, kami beryukur boleh ambil bagian dalam kepanitiaan Paskah ini. Bahwa pada kerja-kerja yang jauh dari panti imam pun ada banyak peristiwa yang berharga sebagai refleksi iman. Tentang komitmen, kedisiplinan, kerendahhatian, kekompakan, ketaatan, kreativitas, pengelolaan konflik, penyelesaian masalah, ketimpangan kecakapan, dan banyak lagi.

Sekurang-kurangnya di lingkungan kami, kerja-kerja kepanitiaan seperti ini menjadi arena mempererat persaudaraan. Warga baru yang merasa canggung saat awal-awal bergabung bisa cepat cair berkat guyon-guyon saat angkut-angkut kursi. Warga lama yang jarang muncul sembayangan dan acara doa mau bergabung karena tidak ada beban mesti serius. Lalu tidak ada lagi beda warga baru dan lama ketika sama-sama turun tangan. Juga seolah tiada lelah ketika banyak yang mau obah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.