Oleh: Sebastianus Naga, Mahasiswa STP Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan
Tebing Tinggi, Katolikana.com – Sosok Romo Petrus Umar Sumardi, OSC oleh umat di Tebing Tinggi, Keuskupan Agung Medan, dikenal sebagai gembala yang dekat dengan umat. Kehadirannya dirasakan bukan hanya di altar ketika misa, melainkan dalam kehidupan sehari-hari.
Romo Petrus, begitu ia akrab disapa, sejak dipercaya menjadi Pastor Paroki Santo Yoseph Tebing Tinggi, kerap kali hadir dalam berbagai kegiatan bersama umat, baik dalam pelayanan kegerejaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kesabaran, keteguhan dalam pelayanan kepemimpinan di paroki itu lahir dari tempaan panjang saat menjadi pastor di sejumlah daerah.
Ditempa Pengalaman
Perjalanan pelayanan Romo Petrus tidak terbentuk secara instan. Ia pernah melayani di daerah-daerah yang penuh tantangan seperti di Papua dan Nias. Di tempat-tempat itulah ia belajar arti kepemimpinan yang sesungguhnya.
Dalam sebuah kesempatan, ia mengungkapkan pengalamannya itu kepada saya, “Di daerah misi, kita belajar menjadi pemimpin itu harus siap hidup bersama umat, bukan di atas mereka,” kata Romo Petrus.
Bagi Romo Petrus, pengalaman itu merupakan proses panjang dan belajar berulang kali dalam menghadapi keterbatasan di daerah pelayanan, tetap berjalan bersama mendampingi umat, dan tetap setia dalam panggilan.
Dalam perbincangan dengan saya, saya melihat salah satu kekuatan kepemimpinan Romo Petrus adalah kemampuannya untuk mendengarkan. Ia membuka ruang dialog dengan umat dan tidak menutup diri terhadap masukan.
“Kadang umat hanya ingin didengar. Dari situ kita tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan,” demikian kata Romo Petrus.
Hal ini mengingatkan saya pada Nabi Musa yang tidak hanya menyampaikan kehendak Tuhan kepada umat, tetapi juga membawa pergumulan umat kepada Tuhan. Kepemimpinan yang sejati tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan.

Menggerakkan Umat dengan Tindakan Nyata
Dalam kehidupan paroki, Romo Petrus aktif mendorong umat untuk bertumbuh dalam iman. Kegiatan seperti katekese, pendalaman iman, dan pembinaan kategorial terus digalakkan.
“Kalau iman umat hidup, maka Gereja juga akan hidup,” kata Romo Petrus.
Romo Petrus juga mengarahkan umat pada pertumbuhan iman yang lebih dalam. Ia tidak hanya memberi arah, tetapi juga berjalan bersama umat dalam proses tersebut.
Bagi umat, kepemimpinan tidak hanya dilihat dari kata-kata, tetapi dari tindakan. Romo Petrus dikenal sebagai pribadi yang disiplin, sederhana, dan adil dalam melayani. Ia hadir tepat waktu dalam kegiatan, terbuka dalam komunikasi, dan tidak membeda-bedakan umat.
Keteladanan ini menjadi kekuatan yang membuat umat percaya dan menghormatinya. Ia tidak hanya memimpin secara organisatoris, tetapi juga menjadi teladan iman bagi umatnya.
Semangat pelayanan Romo Petrus membuatnya dirasakan kehadirannya secara langsung. Ia tidak menempatkan diri sebagai penguasa, tetapi sebagai pelayan umat.
“Yesus sudah memberi teladan bahwa pemimpin adalah pelayan. Itu yang harus kita hidupi,” kata Romo Petrus.
Kerendahan hati, menjadi bagian penting dalam pelayanan yang mengutamakan kepentingan umat.
Kehadiran Romo Petrus Umar Sumardi di Paroki St. Yoseph Tebing Tinggi menjadi contoh nyata bahwa nilai-nilai kepemimpinan Kitab Suci tetap hidup dan relevan hingga saat ini.
Di tengah tantangan zaman, Gereja membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga mau berjalan bersama umat. Dan dalam diri Romo Petrus, nilai-nilai itu tampak nyata hidup, sederhana, dan menggerakkan.
Editor: Basilius Triharyanto
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.