Damai Duniawi dan Damai Sejati

0 44

Katolikana.com -Tuhan Yesus mewariskan sesuatu yang amat istimewa. Sabda-Nya, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” (Yohanes 14:27).

Ayat ini membedakan secara tajam damai sejati yang diberikan Kristus dengan damai duniawi.

Damai dunia yang dangkal
Damai dunia adalah sesuatu yang dangkal dan sementara; ia bergantung pada tidak adanya konflik, kenyamanan material, dan pengakuan dari orang lain. Damai ini bersifat rapuh, lenyap saat badai kehidupan menerjang. Sebaliknya, damai Kristus bersifat permanen dan kokoh.

Damai sejati bersumber dari dalam jiwa
Santo Yohanes dari Salib menjelaskan tentang damai dalam Injil Yohanes itu. Ia menekankan bahwa damai sejati bersumber dari dalam jiwa, tidak tergoyahkan oleh pasang-surut keadaan eksternal. Ia adalah anugerah yang melampaui akal budi, sebuah ketenangan mendasar yang berasal dari kepastian akan kasih Allah. Ia menegaskan, “Berusahalah memelihara hatimu dalam damai; jangan biarkan peristiwa apa pun di dunia ini mengganggunya; renungkan bahwa segala sesuatu harus berakhir.”

Itu komentar praktis atas perintah Yesus: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Ia menyadari bahwa dunia terus-menerus menggoda jiwa dengan kecemasan, tetapi orang yang sadar bahwa dunia ini fana akan memusatkan hidupnya pada Allah.

Bagi Yohanes dari Salib, damai yang diwariskan Kristus bukanlah sebuah “perasaan” melainkan suatu keadaan yang mengubah hidup ini. Dalam puncak perjalanan rohaninya, setelah jiwa dimurnikan melalui malam gelap, ia mencapai kesatuan penuh kasih dengan Allah. Di sinilah damai sempurna bersemayam, yakni damai yang lahir dari keheningan dari segala keinginan dan kekuatan yang saling berlawanan.

Kehadiran Roh Kudus
Damai ini identik dengan kehadiran Roh Kudus yang membakar jiwa dengan kasih, sekaligus memberinya ketenangan mendalam yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.

Damai Kristus tidak dapat bercampur dengan kecemasan akan hal-hal duniawi. Jiwa yang gelisah karena keinginan, kepemilikan, atau gengsi dunia belum siap menerima anugerah ini. Melepaskan diri dari itu semua membuka ruang bagi Allah untuk mengisi jiwa dengan damai-Nya yang tak terkatakan.

Santo Yohanes dari Salib mengundang kita untuk tidak reaktif terhadap gangguan eksternal. Jika dunia menawarkan “damai” melalui pelarian atau kepuasan sesaat, Kristus menawarkan damai melalui upaya menyatukan hidup dengan kehendak Allah Bapa.

Ia mengajak kita untuk mengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini berlalu. Namun sifat sementaranya hidup seharusnya tidak membuat kita putus asa, justru membimbing kita untuk mencari satu hal yang tidak pernah berlalu, yakni kehadiran Tuhan yang memberikan damai abadi.

Berlabuh pada Tuhan
Inilah damai yang membedakan para murid sejati: bukan karena tidak ada badai, tetapi karena di tengah badai, mereka berlabuh pada Tuhan yang telah mengatasi dunia. Sebuah damai yang radikal—bukan seperti yang dunia berikan, melainkan yang Sang Juru Selamat anugerahkan dengan cara memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya.

Selasa, 5 Mei 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.