AI, Komunikasi, dan Kemanusiaan

0 27

Katolikana.com- Senin (25 Mei 2026), Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik pertama dalam masa kepausannya, Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung). Ensiklik yang ditandatangani di Vatikan pada 15 Mei 2026 ini dikabarkan memberi perhatian besar pada perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan dampaknya bagi kemanusiaan.

Tema tersebut sebenarnya tidak mengejutkan. Selama tahun pertama kepemimpinannya, Paus Leo XIV memang cukup konsisten menyentuh masalah AI, terutama dalam hubungannya dengan komunikasi manusia dan martabat pribadi manusia di era digital.

Salah satu yang paling menarik perhatian ialah pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-60 yang berjudul Mewarisi Suara dan Wajah Manusia. Dalam pesan itu, Paus Leo XIV tidak sedang menolak teknologi. Ia juga tidak jatuh pada sikap romantis yang melihat semua perkembangan digital sebagai ancaman. Yang ia soroti ialah sesuatu yang lebih mendasar, yaitu bagaimana manusia tetap mempertahankan wajah, suara, dan kehadirannya sendiri di tengah dunia yang semakin dipenuhi sistem artifisial (buatan/tiruan).

Hemat saya, kekhawatiran itu bukanlah sesuatu yang berlebihan. Hari ini manusia hidup dalam zaman di mana AI mulai mampu meniru hampir semua bentuk komunikasi manusia. AI dapat menulis artikel, menulis serta membacakan puisi, menyusun refleksi, menghasilkan suara sintetis, bahkan membangun percakapan yang “tampak” hangat dan empatik dengan manusia.

Dalam dunia digital kini, orang semakin sulit membedakan mana suara manusia asli dan mana suara AI. Perlahan, manusia memasuki situasi baru, di mana komunikasi tetap berlangsung, tetapi kehadiran manusia di balik komunikasi itu mulai menjadi kabur.

Barangkali di titik inilah pertanyaan tentang komunikasi perlu diajukan kembali. Apakah komunikasi hanya soal kemampuan menghasilkan bahasa yang meyakinkan, ataukah ada sesuatu yang melampaui itu yang harus dihadirkan dalam dan melalui sebuah proses komunikasi?

Hemat saya, pertanyaan ini penting untuk melihat apakah AI benar-benar bisa menjadi rekan komunikasi yang layak untuk kita “manusia.”

Komunikasi sebagai Pengungkapan Diri Manusia

Dalam teori komunikasi modern, komunikasi tidak pernah dipahami sekadar sebagai pertukaran informasi. Stephen Littlejohn dkk, dalam Buku Theories of Human Communication (2017: 3-6; 195-197) menjelaskan bahwa komunikasi adalah proses pembentukan makna dan realitas manusia. Artinya, manusia tidak hanya memakai komunikasi untuk menyampaikan sesuatu, tetapi juga untuk menghadirkan dirinya sendiri kepada orang lain.

Komunikasi manusia selalu memiliki dimensi personal. Ketika seseorang berbicara, yang hadir bukan hanya kata-kata, melainkan pengalaman hidup, nilai, luka, harapan, keyakinan, bahkan cara seseorang memahami dunia. Dalam komunikasi, manusia sebenarnya sedang membuka dirinya kepada orang lain.

Di titik inilah komunikasi menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kemampuan berbahasa. Komunikasi selalu menghadirkan makna sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pelakunya. Dua orang dapat mengucapkan kalimat yang sama, tetapi maknanya bisa berbeda karena lahir dari pengalaman manusia yang berbeda pula. Singkatnya, bahasa bahkan satu kata saja yang dikomunikasikan oleh manusia selalu membawa jejak kehidupan di dalamnya.

Komunikasi manusia, karena itu tidak pernah sepenuhnya netral atau mekanis. Cara manusia berbicara dibangun di atas dan oleh cara manusia mengalami dunia. Komunikasi manusia tidak dapat dilepaskan dari kesadaran, pengalaman, dan keberadaan manusia sebagai pribadi.

Hemat saya, pandangan ini membantu menjelaskan mengapa Paus Leo XIV begitu menekankan “suara dan wajah manusia”. Yang dipertaruhkan hari ini bukan hanya keaslian informasi, tetapi keaslian kehadiran manusia dalam komunikasi itu sendiri. Sebab komunikasi sejati selalu mengandaikan seseorang yang sungguh hadir di balik kata-katanya.

AI Bukan Komunikator

AI tidak memiliki “aku” sebagai “Ada” (menurut Heidegger) yang sungguh berbicara.

Dari pemahaman dasar tentang komunikasi sebagaimana diuraikan di atas, saya berani mengatakan bahwa AI bukalah partner yang “layak” untuk menggantikan apalagi menopang kemanusiaan kita di masa depan, dalam hal komunikasi.

Alasannya sederhana. AI memang dapat menghasilkan bahasa yang sangat menyerupai manusia. Ia mampu menjawab pertanyaan, menyusun opini, menerjemahkan bahasa, bahkan membangun respons yang terasa empatik. Namun kemampuan menghasilkan bahasa tidak otomatis menjadikan AI sebagai komunikator dalam arti yang sesungguhnya. Sebab komunikasi manusia bukan hanya soal kemampuan menyusun kata-kata, tetapi juga kesadaran akan kata-kata itu.

AI mampu memproduksi bahasa, tetapi ia tidak memiliki kesadaran atas bahasa itu. Ia tidak pernah mengalami kesedihan, tetapi dapat menulis tentang duka. Ia tidak pernah mencintai, tetapi bisa membuat puisi cinta. Ia tidak pernah mengalami rasa bersalah, kehilangan, harapan, atau pengampunan, tetapi mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang terdengar sangat manusiawi.

Yang bekerja dalam AI bukan pengalaman eksistensial, melainkan pengolahan data dan probabilitas bahasa. Karena itu, AI lebih tepat disebut simulator komunikasi daripada komunikator sejati. Ia meniru pola komunikasi manusia, tetapi tidak menghadirkan diri di dalam komunikasi tersebut. AI tidak memiliki “aku” sebagai “Ada” (menurut Heidegger) yang sungguh berbicara. Yang tampak sebagai empati pada AI sebenarnya hanyalah simulasi linguistik yang sangat canggih.

Sementara di sisi lain, manusia adalah makhluk yang aktif menciptakan makna melalui relasi sosial. Realitas manusia dibangun melalui interaksi simbolik dan pengalaman bersama.  Ketika manusia berbicara, ia tidak hanya mengirim informasi, tetapi juga menghadirkan dirinya sebagai pribadi yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab. Dan AI tidak mampu melakukan itu.

Paus Leo XIV tampaknya melihat itu, dan bahaya di dalamnya. Mana kala komunikasi semakin dikuasai AI, manusia berisiko terbiasa hidup dalam relasi-relasi simulatif. Manusia mulai merasa cukup dengan respons cepat, perhatian instan, dan percakapan artifisial. Perlahan, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk hadir secara sungguh bagi manusia lain.

Padahal komunikasi manusia sering kali justru lahir dari hal-hal yang tidak sempurna, seperti jeda, keheningan, keraguan, emosi, bahkan luka. Komunikasi manusia bukan tentang siapa yang paling cepat merespons, melainkan siapa yang sungguh hadir.

Mungkin inilah yang hendak diingatkan Paus Leo XIV melalui Magnifica Humanitas. Bahwa kemajuan teknologi hanya akan bermakna apabila manusia tetap menjadi pusatnya. Sebab pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan hanya oleh seberapa canggih mesin yang berhasil kita ciptakan, tetapi oleh apakah manusia masih mampu menjaga kemanusiaannya sendiri di tengah dunia yang semakin artifisial.

Leave A Reply

Your email address will not be published.