Surakarta, Katolikana.com -Mural dalam rangka Ulang Tahun Pemerintah Surakarta ke-80 dengan tema :”Harmony of Solo” telah usai dibuat pada 10-11 Juni 2026.
Kini mural Wayang Beber dengan tema “Pengamalan Pancasila” dalam proses pembuatan di tembok pagar Gereja Purbayan yang terletak di Jalan Sugiyopranoto Solo.
Kepala Paroki Santo Antonius Purbayan Romo Walterus Teguh Santosa, SJ memprakarsai membuat mural wayang beber dengan tema :”Pengamalan Pancasila” karena tembok pagar Gereja Purbayan terletak di area publik.
“Saat ini gambar mural dalam proses pembuatan yaitu mural wayang beber Wonosari (Gunung Kidul) dengan sedikit eksplorasi serta mengambil referensi dari wayang beber Wonosari”, kata Ahmad mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang saat ini sedang menyelesaikan pembuatan mural wayang beber.
Ditemui Katolikana.com pada Senin (29/6/2026) Ahmad, pemuda yang berasal dari Tulungagung, dan tinggal di Solo bersama lima orang temannya yang tergabung dalam Komunitas Rencana Kreatif, malam itu tampak sedang menyelesaikan gambar mural.
Mereka telah mengerjakan gambar selama tiga minggu dengan waktu tenggat penyelesaian 28 hari.
Mereka adalah mahasiswa ISI Surakarta yang mengambil jurusan seni murni dan seni kriya.
Bagi mereka pengalaman membuat wayang beber dengan media tembok (mural) baru pertama dilakukan. Biasanya mereka membuat wayang beber dengan media kertas, kain dan kanvas.
Sampai dengan berita ini ditulis wayang beber yang dibuat belum selesai, masih dalam proses penyelesaian.

Garuda Pancasila
Gambar wayang beber yang pertama Garuda Pancasila. Gambar Garuda Pancasila tampak gagah.
Garuda Pancasila menjadi inspirasi sekaligus sumber nilai-nilai kehidupan Bangsa Indonesia, selain sebagai ideologi bangsa, juga menjadi penuntun gerak kehidupan Bangsa Indonesia, falsafah hidup serta penuntun gerak hidup keseharian dan kemasyarakatan.

Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, digambarkan dengan simbol penganut agama yang ada di Indonesia.

Sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab digambarkan saling membagi kesetaraan, adil, dan memiliki adab. Gambar tanaman memberikan simbol pusat kesadaran untuk menjaga alam, bertoleransi dan bekerja sama.

Sila ketiga Persatuan Indonesia digambarkan sebagai kehidupan di tengah masyarakat yang saling bergotong royong, saling membantu dan saling berbagi.

Sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyaratan Perwakilan digambarkan masyarakat yang melakukan musyawarah dan memberikan hak suara dalam budaya demokrasi.

Sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia digambarkan suasana masyarakat yang merasakan keadilan, nyaman dan aman hidup di tengah masyarakat.

Wayang beber Loro Blonyo
Menggambarkan keterkaitan tema dengan tema Harmony of Solo yang menjadi harapan tumbuh dan terciptanya Solo yang harmonis bagi seluruh warga dan siapapun yang hadir di Solo dengan semangat kerukunan dan menghargai perbedaan.
Warga Solo maupun pengguna jalan atau wisatawan yang berkunjung ke Solo akan menjumpai mural wayang beber dan Harmony of Solo yang ada di tembok pagar Gereja Purbayan, tepatnya berada di samping Denpom IV/4 Surakarta.
Menengok sejarah wayang beber
Referensi budaya, wayang beber merupakan salah satu wayang tertua di Indonesia. Pertunjukan wayang beber divisualisasikan melalui cerita yang dilukiskan dalam bentuk lukisan pada lembaran kertas atau kain.
Dinamakan wayang beber dengan mengambil kata yang berasal dari kata “beber” atau membentangkan. Gulungan kertas atau kain yang memuat gambar wayang dengan gambar adegan tertentu dibentangkan satu per satu saat dalang menceritakan kisahnya.
Menurut sejarah, asal usul dan akar budaya yang ada, seni wayang beber berkembang dari relief candi di Jawa yang dikenal sebagai “Wayang Watu”. Seni ini berkembang pada Masa Kerajaan.
Wayang beber digunakan sebagai media penyebaran agama pada era Kerajaan Jenggala (1042 M hingga sekitar tahun 1135 M), Kediri (1042 M hingga sekitar tahun 1222 M) dan Majapahit (1293 hingga sekitar tahun 1527 M).
Pada mulanya, cerita yang dibawakan bersumber dari epik Mahabharata dan Ramayana. Namun, setelah masuknya Islam, cerita yang paling populer diangkat dari Kisah Panji (Kisah cinta Dewi Sekartaji dan Raden Panji Inu Kertapati).
Saat ini wayang beber masih dilestarikan. Pelestarian wayang beber bisa ditemukan di wilayah Pacitan, Jawa Timur, dan dikenal dengan Wayang Beber Pacitan, yang dilestarikan oleh sanggar-sanggar di wilayah Karangtalun, Gedompol dan sekitarnya.
Selain itu pelestarian juga ditemukan di Gunungkidul, Yogyakarta dan menjadi salah satu pusat pelestarian warisan budaya takbenda.
Pertunjukan wayang beber dilakukan dengan memvisualisasikan lembaran gambar (disebut beberan) yang dibuat di atas kertas tradisional (“daluwang”) atau kain kanvas.
Dalang berperan menarasikan dengan membentangkan gambar-gambar yang ada di gulungan kertas atau kain yang telah dipersiapkan. Alur cerita dibacakan atau dinarasikan secara berurutan dengan diiringi alat musik gamelan atau tembang.
Pementasan wayang beber berbeda dengan wayang kulit yang mengandalkan bayangan. Fokus utama pertunjukan wayang beber, penonton menyaksikan dan menikmati lukisan serta alur cerita yang digambarkan dalam adegan yang sedang dibentangkan seraya mendengarkan musik pengiring gamelan maupun tembang. (*)
______

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta