Tanggal 8 Juli 2026 Peringatan Hari Alergi Sedunia: Menyoroti Prevalensi Alergi dan Pentingnya Diagnosis Dini

0 68

 

Surakarta, Katolikana.com –  Hari Alergi Sedunia diperingati pada 8 Juli  atas  inisiatif bersama antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Alergi Dunia (WAO).

Tujuan utama  adalah untuk meningkatkan kesadaran global tentang penyakit alergi dan menekankan pentingnya pencegahan, diagnosis yang akurat, serta perawatan medis yang tepat terhadap alergi.

Berkaitan dengan Hari Alergi Sedunia, Katolikana.com berbincang dengan dr. Elisabeth Susilowati, MM., Kepala Bagian IGD RS Brayat Minulya Surakarta tentang  Prevalensi Alergi dan Pentingnya Diagnosis dini. Berikut ini petikan wawancara.

Reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh
Alergi adalah reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya contohnya debu, obat-obatan, bulu hewan atau cuaca ekstrim misalnya suhu dingin ke suhu panas.

Polusi udara juga berkontribusi terhadap peningkatan penyakit alergi. Emisi dari lalu lintas dan industri mengiritasi kulit dan saluran pernapasan, membuat tubuh lebih sensitif terhadap alergen dan mempengaruhi  terhadap sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, perubahan pola makan modern juga meningkatkan risiko alergi.

Dokter Elisabeth memperingatkan agar tidak menganggap enteng reaksi alergi apa pun, bahkan yang ringan sekalipun, karena kondisi tersebut dapat memburuk jika tidak dipantau dan diobati dengan segera.

Gejala alergi ada beberapa. Umumnya ditemukan pada pasien bersin-bersin, hidung tersumbat. Ada anak-anak waktu bangun tidur bersin-bersin, ingus keluar, hidung terasa gatal, mata merah, batuk-batuk.

dr. Elisabeth Susilowati, MM dari RS Brayat Minulya Surakarta saat memberikan materi seminar yang diikuti Ibu-ibu Paroki Santo Petrus Purwosari bertema “Cegah Penyakit Flu dengan Vaksin Influenza”

Faktor resiko alergi
Seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, sensitif terhadap alergi. Kekebalan tubuh yang menurun. Anak-anak dan orangtua yang tidak produktif, Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) bagi penderita hipertensi dan diabetes militus tipe 2. Seseorang yang memiliki history riwayat alergi dalam keluarga dan yang sering terpapar alergi.

Alergi dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak dan orang yang memiliki riwayat alergi dalam keluarga. Pada sebagian orang, alergi dapat membaik seiring bertambahnya usia, tetapi ada juga yang menetap hingga dewasa.

Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya, terutama bila sering kambuh atau menimbulkan gejala yang cukup berat.

Selain itu faktor resiko alergi diderita pasien yang menderita penyakit atopik, seperti asma, dermatitis atopik (eksim), atau rhinitis alergi. Dermatitis atopik (eksim) diantaranya menampakkan gejala kulit kering dan gatal, kemerahan pada kulit, kulit pecah-pecah atau bersisik.

Cara pencegahan
Langkah pencegahan dengan menghindari penyebab alergi. Jika seseorang alergi debu, maka menghindari debu membersihkan rumah.

Menggunakan masker. Jika penyebannya makanan harus mengurangi atau menghindari makanan yang memicu alergi. Contoh jika seseorang alergi udang maka mau tidak mau tidak mengkonsumsi udang.

Jika di rumah terdapat karpet, yang banyak debu dan menjadikan udara penyebab alergi, maka perlu dibersihkan.

Jika pasien penderita alergi, dan muncul gejala berat seperti sesak nafas, pusing berkepanjangan, detak jantung cepat dan jantung  lemah, timbul bengkak di wajah dan di bibir atau lidah maka harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.

Gerakan masyarakat untuk mencegah alergi dapat dilakukan dengan membersihkan rumah, mengurangi debu, membawa obat alergi jika terdampak dan bepergian jika memiliki riwayat alergi serta menghindari makanan penyebab alergi.

Menggunakan masker terutama di tempat-tempat yang banyak debu.

Faktor kematian disebabkan alergi jarang kecuali sesak nafas hebat akibat komplikasi obat karena alergi obat, toksid, keracunan yang menyebabkan syok hipovolemik.

Syok hipovolemik adalah kondisi gawat darurat yang mengancam jiwa akibat hilangnya darah (lebih dari 20%) atau cairan tubuh, sehingga jantung tidak mampu memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh.

Selain itu menjadi penyebab kematian karena syok anafilaktik yaitu reaksi alergi berat yang terjadi secara tiba-tiba, berkembang sangat cepat, dan mengancam jiwa. Namun hal ini jarang terjadi. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.