Katolikana.com – Kasih dan pelayanan merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. Kasih sejati mewujud nyata dalam pelayanan. Pelayanan yang benar dijiwai oleh kasih. Dalam dinamika relasi keduanya seorang Kristen tumbuh dan bergerak menuju hidup sempurna dan keselamatan. Apa hubungan keduanya dengan perikop Injil yang kita baca hari ini?
Mengalir dari kasih menuju pelayanan
Perumpamaan tentang sepuluh gadis yang menggambarkan Kerajaan Surga itu dapat dibaca dalam kerangka dua nilai hidup Kristen di atas. Hidup Kristen sejati mengalir dari kasih menuju pelayanan. Pelayanan itu bagaikan pelita yang mewujudkan komitmen hidup Kristen. Sedangkan kasih adalah minyaknya.
Pelayanan itu menjadi bentuk nyata sikap menyambut Tuhan. Tentang hal itu akan kita baca besok (jika kita tidak merayakan peringatan wafatnya Yohanes Pembaptis). Orang tidak bisa menyambut Tuhan yang menyamakan diri dengan mereka yang lapar, haus, telanjang, sakit, atau dalam penjara, jika tidak mempunyai kasih.
Lima gadis bijaksana itu membekali diri secara lengkap dan sempurna. Artinya, mereka melayani Tuhan dan menyediakan kasih yang tidak pernah habis. Sedangkan lima gadis yang bodoh amat bersemangat melayani tanpa menyimpan kasih yang cukup.
Kasih yang cukup setiap saat
Pada waktu Sang Mempelai (Yesus yang menyamakan diri dengan orang kecil) datang, lima gadis bodoh tidak siap melayani karena minyak kasihnya habis. Sementara lima gadis bijaksana menyongsong Yesus dengan kasih yang cukup untuk setiap saat.
Konteks perumpamaan tentang sepuluh gadis itu adalah ajaran dan ajakan untuk berjaga-jaga (Matius 25:13). Banyak interpretasi tentang makna berjaga-jaga itu. Renungan kali ini mengajak kita meletakkan konteks itu terkait dengan kasih dan pelayanan.
Pelayanan itu memang baik. Tetapi ada banyak motivasi di baliknya. Ada yang melayani demi memperoleh pujian. Ada pula pelayanan yang dipakai untuk mendulang suara atau jabatan. Di luar tampaknya memperhatikan sesama, tetapi motivasinya adalah kepentingan diri sendiri. Ini tergolong sikap munafik. Orang demikian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Matius 25:11).
Persediaan energi kasih
Lima gadis bijaksana membawa minyak dalam buli-buli. Persediaan energi kasihnya cukup untuk melayani Tuhan kapan pun Dia datang. Tantangan apa pun (termasuk rasa kantuk dan tertidur) tidak membuat pelayanan mereka kehilangan kasih. Fokus mereka adalah Sang Mempelai dan bukan diri sendiri.
Bagaimana selama ini kita melayani? Apakah kita melayani dalam semangat kasih sejati demi Sang Mempelai? Ataukah kita banyak melayani diri sendiri? Tampaknya sibuk melayani, namun tanpa membawa minyak kasih dalam buli-buli.
Jumat, 28 Agustus 2026
Peringatan Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.