Bahagia Proses Kesediaan Diri untuk Bersyukur dan Berpasrah Diri

Sharing Pertemuan I BKSN 2026

0 47

Surakarta, Katolikana.com –Kebahagiaan adalah proses yang diperjuangkan. Itulah hikmat yang diberikan dari situasi-situasi yang dimaknai sebagai rasa syukur dan kesediaan diri untuk berpasrah pada Allah.
Demikan salah satu ungkapan sharing dari umat Santo Markus Wilayah Andreas Songgolangit Paroki Santo Paulus Kleco Solo dalam Sarasehan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026. Pertemuan I dengan tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Bahagia”. Pertemuan dilaksanakan pada Kamis (10/9/2026) yang dihadiri 30 orang umat, 2 orang diantaranya OMK dan PIA.

Guru yang mengajar
Pertemuan ini mengajak untuk mendengarkan Yesus sebagai guru yang menunjukkan makna hidup yang sejati. Melalui sabda-sabda bahagia (Mat. 5:1-12), Yesus berbicara ke dalam realitas hidup hari ini yang penuh dengan tekanan dalam bekerja, kecemasan akan masa depan, tuntutan ekonomi keluarga, relasi yang rumit, serta rasa lelah dan kecewa menghadapi dunia yang terasa tidak adil.

Kata bahagia dalam Ardas Keuskupan Agung Semarang mengarahkan pada Gereja bahagia karena memiliki dasar yang kokoh, yaitu keselamatan yang telah dianugerahkan oleh Allah dalam Yesus Kristus.

Bahagia karena telah ditebus, diampuni, dan diselamatkan. Dari iman inilah tumbuh pengharapan dan sukacita sejati. Sukacita ini tampak dalam sikap saling menerima, saling menguatkan, dan saling menopang, baik di dalam keluarga, lingkungan, wilayah, paroki, maupun masyarakat.

Belajar mengenal Sabda
Pertemuan pertama BKSN memberikan kesempatan umat mensharingkan permenungan tentang sabda bahagia. Sembilan kata “bahagia” dicoba dihayati, dan direnungkan dalam konteks hidup umat dalam BKSN.

Miskin di hadapan Allah: Janji Kerajaan Sorga bagi yang miskin di hadapan Allah (Matius 5:3).

Berdukacita: Janji penghiburan bagi yang berdukacita (Matius 5:4).

Lemah lembut: Janji memiliki bumi bagi yang lemah lembut (Matius 5:5).

Lapar dan haus akan kebenaran: Janji kepuasan bagi yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:6).

Murah hatinya: Janji perolehan kemurahan bagi yang murah hati (Matius 5:7).

Suci hatinya: Janji melihat Allah bagi yang suci hatinya (Matius 5:8).

Membawa damai: Janji disebut anak-anak Allah bagi pembawa damai (Matius 5:9).

Dianiaya oleh sebab kebenaran: Janji Kerajaan Sorga bagi yang dianiaya demi kebenaran (Matius 5:10).

Dicela dan dianiaya karena Yesus: Ucapan bahagia bagi yang dicela, dianiaya, dan difitnah karena Aku (Matius 5:11-12). (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.