Memahami Mindfulness Saat Berita Buruk Membanjiri Kita

0 29

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada kenyataan pahit yang dialami negara ini. Mulai dari keracunan MBG, kebakaran hutan dan dampaknya terhadap satwa dan manusia, gunung meletus, hilangnya jurnalis, kecelakaan kapal laut, kelangkaan BBM, dan kebijakan pemerintah yang kerap merugikan secara moneter dan non-moneter.

Beragam kejadian yang beruntun itu memunculkan respons macam-macam. Peristiwa itu membat kita bereaksi dengan rasa marah, kecewa, sedih, bahkan malu.

Kita tidak bisa menampik, berita yang setiap hari kita konsumsi ini dapat memengaruhi spiritualitas dan psikologis kita, seperti kita lelah secara batin, terus-menerus terpikir akan kejadian dan korban serta keluarga yang terdampak, suasana hati jadi kurang baik.

Seorang selebriti dalam tayangan youtube-nya perihal mindfulness mengatakan, agar tidak stress, kita perlu membatasi diri membaca agar tidak membuat kita pusing dan kepikiran secara berlebihan.

Sebetulnya apa yang disampaikan tidak seutuhnya salah secara teori. Memang kita harus memilih apa yang mau kita konsumsi dan untuk masuk ke dalam tubuh dan pikiran kita, tetapi hal itu tidak boleh mereduksi empati kita akan peristiwa yang ada di tanah air saat ini.

Di sinilah banyak pihak menyayangkan konten mindfulness disalahartikan menjadi menutup mata akan berita saat ini demi menjaga kewarasan diri kita, karena video ini tayang di saat banyak orang yang tengah berjuang di kondisi yang tidak baik-baik saja. Sejatinya, mindfulness berarti kita menyadari sepenuhnya dan menikmati keberadaan diri kita saat ini dan tanpa menghakimi.

Mindfulness seharusnya tidak bergeser menjadi kehilangan empati karena fokus pada kedamaian diri dan tidak memedulikan orang yang tengah ada di situasi genting. Sayangnya, dari sudut pandang sang selebriti, mindfulness jadi menggeser arti dari kebijakan pemerintah yang buruk, yang telah menjadi pemberitaan media. Bagaimana jika justru kita yang menjadi objek dari berita buruk itu? Apakah banyak warga negara ini tetap tenang dan mengabaikan berita itu?

Banyak berita yang menimbulkan keprihatinan ini seringkali melemahkan iman. Barangkali di antara kita ada yang mempertanyakan apa tujuan Tuhan menghendaki ini semua terjadi, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan. Tapi sebagai umat yang beriman, adanya berita dan fakta ini justru harus membuat kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai umat Katolik, kita justru harus berada di pihak yang benar dan berani menyuarakan kebenaran.

Berita yang muncul akhir-akhir ini tidak boleh menjadi alasan kita kehilangan harapan, apalagi sampai kehilangan iman. Betul memang banyak hal yang tidak bisa dikendalikan oleh diri kita, seperti kejadian bencana alam. Tetapi apakah kita berhak mengabaikan apa perasaan para korban terlebih yang menjadi berita itu sendiri?

Sungguh amat disayangkan sikap netizen yang berlebihan menilai sang selebriti sampai harus memboikot dirinya dan produk yang terafiliasi. Sebetulnya jika kita mau marah, seharusnya kita marah kepada sang pembuat kebijakan, para penguasa yang serakah, para pengusaha yang egois, dan orang berkepentingan di balik ini semua.

Saya paham banyak pihak yang sedang berada di posisi yang kurang baik, tapi kurang bijak jika menjadikan satu pihak samsak emosi karena tidak sesuai idealisme masyarakat, walaupun orang tersebut mendapatkan beasiswa dari pemerintah yang merupakan pajak kita semua. Tidak salah memang untuk memiliki ekspektasi lebih dan menuntut akuntabilitas dari beasiswa yang membuat dia bisa mengenyam pendidikan di Inggris dan Amerika Serikat.

Perbedaan pendapat tidak harus menjadikan orang lain dihakimi atau dijadikan pelampiasan dan diberi label atau diperlakukan secara kasar lewat perkataan dan perbuatan.

Mari kita refleksikan diri dari 2 Korintus 10:12 “Sebab kita tidak berani menyamakan diri kita dengan orang-orang yang memuji diri mereka sendiri. Tetapi mereka, yang mengukur diri mereka sendiri dan membandingkan diri mereka sendiri di antara mereka sendiri, bukanlah orang bijak.”

Mengkritik tidak pada tempatnya, tidak membuat sang kritikus lebih hebat dari yang dikritik. Kritik boleh dilontarkan selama dalam koridor moral dan etika masyarakat dan tidak menyerang pribadi maupun harga diri.

Sejatinya, jika kita tidak menerapkan mindfulness, kita bisa ikut depresi karena kita terus menerus memikirkan hal yang di luar kendali kita dan tidak mengandalkan Tuhan. Mindfulness seharusnya menjadi jalur untuk bisa terkoneksi dengan Tuhan karena kita terus mengandalkan Tuhan meski situasi tidak mudah. Kita juga tidak mengaburkan empati pada saudara-saudara yang terdampak musibah.

Santo Thomas Acquinas mengajarkan kita menyeimbangkan antara iman dan akal. Keduanya dapat berjalan selaras. Adanya berita ini seharusnya justru membuat kita lebih dekat dengan Tuhan. Kita harus mengkritisi kejadian ini, bukan pasrah menerima kenyataan tanpa ada perbaikan lebih lanjut.

Injil Matius 10:26 berkata “Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” Kita harus menjadi garda terdepan menyuarakan kebenaran. Inilah saatnya kita bertindak membantu mereka yang kesulitan, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26).

Kalau kita bisa terjun ke lapangan langsung, memang lebih baik. Tetapi jika kita belum memiliki kesempatan tersebut, kita bisa berkontribusi lewat jalur lain, seperti menyumbangkan sejumlah dana, pakaian layak pakai, makanan,  atau minimal kita bersuara di media sosial, melakukan repost dari berita yang ada di media sosial, dan membicarakan situasi ini di lingkungan sekitar kita agar semakin banyak yang tahu dan menaruh kepedulian pada mereka yang membutuhkan.

Paus Leo XIV adalah contoh konkrit bagaimana seharusnya keberanian itu terbentuk. Di tengah gempuran perang dan ketidakpastian ekonomi, Paus Leo XIV berani mengambil sikap untuk melawan genosida, perang, dan kekerasan. Figur seperti inilah yang seharusnya banyak berada di tengah-tengah masyarakat.

Seringkali kita takut bersuara karena takut akan penilaian orang, tidak peduli, bahkan takut mengambil sikap karena sifat oportunis yang berharap suatu hari dia akan mendapatkan keuntungan ketika dia tidak bersuara. Alih-alih membela, dia memilih diam mencari aman.

Paus Leo XIV adalah sosok pemberani yang dapat mengutarakan opini dan sikapnya dengan bijaksana. Dari beliau kita belajar, melawan tidak perlu dengan kekerasan atau kata kasar. Bisa dibayangkan jika Paus Leo XIV dan para paus sebelumnya tidak menerapkan mindfulness, tentu mereka tidak akan bisa menjadi sosok yang penuh kedamaian di tengah huru-hara dunia. Bunda Theresa pun sudah menerapkan mindfulness jauh sebelum viral seperti saat ini. Beliau tetap tenang dan tidak berdiam diri di tengah mereka yang menderita.

Mari kita belajar teladan dari Santo Thomas Aquinas bagaimana iman dan akal dapat tetap terkoneksi dan juga Paus Leo XIV yang terus menyerukan perdamaian tanpa membuat kehilangan iman, serta Bunda Theresa yang tetap memancarkan kedamaian dalam kehidupan dan pengabdiannya. Mari kita bergandengan tangan dan berdoa agar lekas pulih bangsa Indonesia yang kita cintai.

Leave A Reply

Your email address will not be published.