Gereja Katolik Harus Berani Lebih Tegas terhadap Tambang dan Industri Ekstraktif

Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, pernah mengirimkan surat rekomendasi dukungan pembangunan PLTP di Wae Sano di tengah mayoritas umat yang menolak.

0 629

Katolikana, Jakarta — Rabu (7/8/2024), kelompok yang menamakan dirinya Koalisi Aktivis Muda Katolik Indonesia mendatangi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan menggelar aksi di depan Gedung KWI.

Kedatangan mereka bertujuan untuk mendesak pucuk kepemimpinan tertinggi Gereja Katolik di Indonesia itu agar berani bersikap lebih tegas dan tidak hanya sekadar basa-basi dalam menghadapi isu tambang dan lingkungan hidup.

Koalisi tersebut menyorot satu contoh kasus pembangunan proyek PLTP Wae Sano di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Lokasi proyek ini sekarang masuk dalam wilayah gerejawi Keuskupan Labuan Bajo, tetapi sebelumnya merupakan bagian dari wilayah gerejawi Keuskupan Ruteng.

Dalam proyek Wae Sano yang sudah banyak mendapat penolakan dari warga setempat, hierarki Gereja Katolik Indonesia lokal justru tidak berani bersuara menolak isu tambang.

Koalisi juga mengkritik sikap mendua dari Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat. Mereka pun mengutip pernyataan dari Mgr. Sipri, yang pernah mengatakan, “Untuk tambang, Gereja Katolik menolak. Tapi untuk geothermal (panas bumi), kami berupaya menjadi jembatan komunikasi antara umat, perusahaan dan pemerintah.”

Menurut catatan para peserta aksi, Mgr. Sipri juga pernah mengirimkan surat rekomendasi dukungan pembangunan PLTP di Wae Sano di tengah mayoritas umat yang menolak.

 

Lip Service Saja

“Dalam semangat jiwa muda yang membara, kami mendatangi Konferensi Waligereja Indonesia dalam rangka untuk mendesak sikap Gereja Katolik Indonesia agar tegak lurus mejalani semangat ajaran Gereja Katolik,” demikian ujar Koordinator Aksi, Kriatianus Jaret. 

Tanpa basa-basi, mereka menyebut bahwa mereka datang ke KWI karena mereka menaruh keraguan bahkan kecurigaan terhadap gerakan Gereja Katolik Indonesia.

“Pada saat ini, kami mendengar bahwa Gereja Katolik Indonesia menolak tambang (untuk ormas keagamaan). Tapi rupanya tidak serius. Bisa dibilang hanya lip service saja karena tidak terdapat aksi nyata dari Gereja Katolik untuk itu,” lanjut Kristianus.

Para anggota Koalisi datang ke KWI dengan pesan utama bahwa Gereja Katolik tidak boleh berbeda sikap pada tambang dan panas bumi. Karena keduanya sama-sama berdampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat.

 

Jangan Hanya Diam

Koalisi menilai sikap diam para pemimpin Gereja Katolik bisa membawa mudarat bagi banyak umat, khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar daerah tambang.

Dengan merujuk ensiklik Paus Fransiskus di tahun 2015, Laudato Si, para peserta aksi pun meminta segenap pimpinan Gereja Katolik tidak berhenti pada menolak tawaran konsesi tambang untuk ormas keagamaan.

Menurut mereka, para uskup dan imam Katolik juga harus berani bersuara tegas terhadap praktek industri ekstraktif yang selama ini sudah dijalankan oleh sejumlah perusahaan besar dan terbukti membawa akibat buruk bagi masyarakat lokal.

“Karena sikap diam menibulkan banyak makna. Sikap diam Gereja bisa berarti setuju. Bisa berarti tidak tahu. Bisa berarti malas tahu. Bisa berarti tidak mau tahu. Bisa juga berarti Gereja terlibat bermain,” tutup Kristianus. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.