Refleksi Bacaan Minggu (18/1/2026) Romo Albert Herwanta, O.Carm.

Katolikana.com – Mengapa kita membaca bacaan-bacaan (Yesaya 49:3.5-6; 1 Korintus 1:1-3; Yohanes 1:29-34) pada Minggu II Masa Biasa ini?
Banyak sekali jawabannya. Salah satu diantaranya karena Sabda Tuhan tersebut mengajar dan mengingatkan tentang satu bagian terpenting dari perayaan Ekaristi.
Menghapus dosa dunia
Pada saat imam pemimpin perayaan Ekaristi memecahkan roti (Tubuh Kristus), umat mengulangi tiga kali ungkapan, “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” yang dikutip dari Injil Yohanes 1:29.
Kepada Sang Anak Domba kita memohon belas kasihan dan damai.
Sebelum membagi komuni kudus (Tubuh Kristus), imam menunjukkan Tubuh dan Darah Kristus, “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah yang dipanggil ke perjamuan Anak Domba.”
Umat menjawab, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka hambamu akan sembuh.”
Pernyataan iman
Imam mengajak kita menyatakan iman kepada Sang Anak Domba Allah.
Ungkapan tersebut memegang peran penting dalam liturgi Ekaristi. Mengapa? Karena mengungkapkan iman kita akan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan kematian serta mendamaikan manusia dengan Allah.
Tidak ada yang dapat membebaskan manusia dari dosa dan kematian selain Yesus, Sang Anak Domba Allah.
Semua kurban lain yang dilakukan untuk menghapus dosa seperti kurban anak domba dalam Perjanjian Lama tidak dapat sungguh menghapus dosa kita (Ibrani 10:1-18).
Selain itu, kurban dalam Perjanjian Lama hanya diharapkan dapat menghapus dosa bangsa Israel.
Sedangkan kurban Sang Anak Domba menghapus seluruh umat manusia. Di sini dimensi universal kurban Kristus, Sang Anak Domba menjadi nyata dan efektif buahnya.
“Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yesaya 49:6).
Konsekuensinya, semua orang berdosa hanya dapat mengharapkan dan memohon keselamatan dari Sang Anak Domba Allah. Itulah sebabnya kita berkata, “kasihinilah kami” setelah menyebut dan mengakui Sang Anak Domba Allah. Di hadapan-Nya, kita mengakui diri sebagai orang berdosa dan memerlukan belas kasihan-Nya.
Memohon damai
Kita juga memohon damai kepada-Nya, karena sadar dan percaya bahwa hanya Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah yang bisa mendamaikan kita dengan Allah. Tanpa berdamai dengan Allah, kita tidak akan menikmati damai-damai yang lain.
Betapa mendesaknya memohon agar kita didamaikan dengan Allah lewat Sang Anak Domba Allah.
Santo Paulus menegaskan bahwa seperti jemaat di Korintus kita semua dikuduskan dalam Kristus Yesus (1 Korintus 1:2). Karena itu, kita selalu berseru atau berdoa kepada Tuhan dalam nama Yesus.
Akhirnya, kita semua memperoleh kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus (1 Korintus 1:3). Semoga kita berpegang pada iman kita akan Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah. (*)
Minggu, 18 Januari 2026
HWDSF
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.