Pembekalan GLSI Chapter Makassar: Ekologi Spiritual Diarahkan Jadi Budaya Paroki

0 53

Makassar, Katolikana.com—Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) Chapter Makassar menggelar pembekalan bagi para pengurus, animator, dan penggerak lingkungan hidup dari paroki-paroki se-Kevikepan Makassar pada Jumat–Sabtu (16–17/1/2026) di Aula Puspas Kevikepan Makassar, Jalan Serui.

Kegiatan ini diikuti 66 peserta dan mengusung tema “Ekologi Spiritual dengan Mengenali Allah dalam Keindahan Penciptaan.”

Pembekalan ini dirancang sebagai tindak lanjut dari sosialisasi GLSI kepada para aktivis lingkungan hidup di tingkat paroki yang sebelumnya berlangsung pada Minggu (6/4/2025) di Aula KAMS, serta pengukuhan pengurus GLSI Chapter Makassar dalam Perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga “di Bumi Rajawali” pada Minggu (10/8/2025).

Ketua GLSI Chapter Makassar, Anna Meyliawati, dalam sapaan pembuka menyampaikan terima kasih atas dukungan peserta dari paroki-paroki yang hadir. Ia berharap materi pembekalan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan menjadi bekal praktik ketika para peserta kembali ke komunitas masing-masing.

Sementara itu, Vikaris Episkopal Makassar sekaligus Ketua Komisi KP-PMP KAMS, RD. Alex Lethe, menegaskan pentingnya pembekalan ini sebagai “awal yang serius” untuk membangkitkan gerak bersama umat dalam kepedulian lingkungan hidup di paroki. RD. Alex kemudian membuka kegiatan secara resmi.

Dari ensiklik ke aksi paroki

Tema “ekologi spiritual” dalam pembekalan ini menekankan cara pandang iman: alam dipahami sebagai ungkapan kasih dan kehadiran Allah—menyapa manusia melalui keindahan, harmoni, sekaligus kerentanan ciptaan. Karena itu, peserta diajak mengembangkan kepekaan batin untuk bersyukur, menghormati, dan bertanggung jawab merawat rumah bersama secara konkret.

Pembekalan menghadirkan empat narasumber: RD. Marthen Djenarut (Sekretaris Eksekutif Komisi KP-PMP KWI), Dr. Maria Ratnaningsih (konsultan lingkungan hidup), Cyprianus Lilik Krismantoro Putro (Ketua Presidium TKN GLSI), dan RD. Bernard Cakra Arung Raya (Ketua Komisi PSE KAMS).

Peta krisis: dari deforestasi hingga krisis pangan

Dalam paparannya, RD. Marthen Djenarut menyoroti berbagai wajah krisis ekologis saat ini: deforestasi, perubahan iklim, punahnya keanekaragaman hayati, polusi udara dan air, krisis sampah dan plastik, serta degradasi tanah yang berkelindan dengan krisis pangan.

Ia menekankan gagasan “keadilan ekologis” sebagai keadilan integral—bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal teknis, melainkan juga krisis moral dan sosial. Keadilan tidak hanya antarmanusia, tetapi juga relasi manusia dengan seluruh ciptaan dan generasi mendatang.

Solusi warga: data, infrastruktur, dan ekonomi sirkular

Dr. Maria Ratnaningsih memaparkan peluang solusi dari sisi peran masyarakat dan tata kelola.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan data (termasuk data spasial tingkat kecamatan/kelurahan) untuk memetakan produksi sampah, lalu diturunkan menjadi program: penguatan infrastruktur terintegrasi di wilayah rentan, penyediaan lahan daur ulang yang aman, pengembangan basis data untuk program pemberdayaan, serta pendidikan warga agar taat kelola sampah.

Pendekatan ini, menurutnya, membuka ruang pengembangan ekonomi sirkular—mengolah sampah menjadi nilai ekonomis, menciptakan aliran pendapatan baru, mengurangi pemborosan, mengubah perilaku, sekaligus memperkuat ikatan sosial karena warga bekerja bersama.

“Paroki hijau”: dari rumah rohani ke gerakan kenabian

Salah satu gagasan kunci yang mengemuka adalah konsep “paroki hijau” yang dipaparkan Cyprianus Lilik Krismantoro Putro. Ia menekankan bahwa paroki memiliki posisi strategis: sebagai persekutuan hidup, rumah rohani yang stabil membina gaya hidup umat, sekaligus penghubung antara gerak lokal dan gerak Gereja universal.

Paroki hijau diarahkan pada empat tujuan:

  1. Spiritual—transformasi relasi manusia dengan alam, sesama ciptaan, dan Allah;
  2. Edukatif-kultural—pusat pembelajaran dan model gaya hidup berkelanjutan;
  3. Praksis—tata kelola dan desain paroki yang ekologis;
  4. Profetik—paroki menjadi advokat dan penjaga lingkungan setempat melalui aksi ekologis.

Ia juga menekankan perlunya komunitas penggerak paroki hijau (sekitar 20–30 orang) sebagai motor perubahan. Komunitas ini dibangun dari “tim inti” kecil yang terlebih dahulu mengonsolidasikan gerakan sebelum memobilisasi seluruh umat paroki.

Kemitraan: koreksi gaya hidup hingga investasi etis

Sementara itu, RD. Bernard Cakra Arung Raya menyoroti pengembangan kehidupan ekologis dalam kemitraan—baik internal maupun eksternal.

Di ranah internal, paroki didorong mengoreksi gaya hidup, mengajak umat memulihkan lingkungan yang rusak, membiasakan cara hidup ekologis sebagai pendidikan di sekolah-sekolah Katolik, serta mengintegrasikan tema ekologi dalam doa dan Ekaristi melalui kerja sama dengan tim liturgi.

Di ranah eksternal, paroki dapat mendorong konsumsi dan produksi berkelanjutan, mengembangkan strategi usaha yang berdampak sosial (investasi etis), mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta mendukung ekonomi sirkular dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Menuju “budaya ekologis paroki”

Secara umum, pembekalan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan manajemen organisasi, memperdalam spiritualitas pelayanan, membangun kekompakan antar penggerak, merumuskan komitmen program kerja GLSI Chapter, serta memperluas jejaring sinergi antara GLSI, para Animator Laudato Si’, dan komunitas Gereja lokal.

Di akhir pembekalan, para peserta menyusun rencana tindak lanjut yang dapat dijalankan di tingkat paroki/kuasi maupun kevikepan. Sejumlah program unggulan yang mengemuka antara lain pemilahan sampah, pembuatan eco enzyme, penanaman pohon, pembuatan biopori, hingga kursus Laudato Si’ untuk umat.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Misa Perutusan yang dipersembahkan RD. Marthen Djenarut, dengan penegasan pesan tentang pentingnya pertobatan ekologis sebagai jalan iman yang nyata. (*)

Kontributor: Norbertus Tri Suswanto Saptadi (Animator Laudato Si’ Keuskupan Agung Makassar).

Leave A Reply

Your email address will not be published.