Natal Pelangi Layung Kristi di PPM Yogyakarta: “Dicintai Tanpa Syarat” Menguatkan Ruang Perjumpaan Iman

2 864

Yogyakarta, Katolikana.com—Komunitas Layung Kristi menyelenggarakan Natalan Pelangi pada Minggu (11/1/2026) di Pusat Pastoral Mahasiswa (PPM) Yogyakarta.

Mengusung tema “Dicintai Tanpa Syarat: Natal Bagi Semua”, perayaan ini menghadirkan momen penting bagi Keuskupan Agung Semarang (KAS): untuk pertama kalinya perayaan Natal tersebut mempertemukan secara terbuka komunitas Katolik LGBTIQ dan para rohaniawan Katolik dalam satu perayaan yang menekankan iman, sukacita, dan penerimaan.

Sekitar 100 peserta hadir, berasal dari komunitas LGBTIQ se-KAS, jejaring LSM di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta para rohaniawan dari Serikat Yesus (SJ), Suster-suster Kongregasi Cinta Kasih Carolus Borromeus (CB), dan Kongregasi Suster-suster Sahabat Setia Yesus (FCJ).

Pilihan yang memerdekakan

Perayaan Ekaristi dipimpin Rm. Andreas Setiawan, SJ. Dalam homilinya, ia mengajak umat merefleksikan pilihan Yesus yang secara sadar dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan.

Bagi Rm. Andreas, pilihan tersebut bukan sekadar ketaatan spiritual, melainkan sikap teologis yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial.

“Ketika pilihanmu memerdekakan jalanmu menuju Kerajaan Allah, berarti itu adalah pilihan yang benar,” tegasnya.

Ia menambahkan, Yesus memilih jalan “manusia” karena Kerajaan Allah sejatinya diwujudkan melalui keadilan sosial dan pemulihan martabat manusia. Semangat itu, menurutnya, sejalan dengan kehadiran Layung Kristi sebagai ruang persahabatan iman untuk berjalan bersama menuju Kerajaan Allah.

Liturgi dilayani anggota komunitas

Perayaan Ekaristi semakin bermakna karena petugas liturgi—lektor, pemazmur, koor, hingga petugas tata perayaan—merupakan anggota komunitas Katolik LGBTIQ. Mereka melayani liturgi sebagai ekspresi iman yang hidup, sekaligus kesaksian bahwa komunitas LGBTIQ hadir sebagai bagian dari Gereja.

Iringan paduan suara dari komunitas PHBK Semarang turut menghadirkan suasana doa yang khidmat namun hangat.

Rangkaian perayaan kemudian dilanjutkan dengan persembahan seni yang menambah semarak perayaan.

  • Mami Vinolia dari Yayasan Kebaya–Keluarga Besar Waria Yogyakarta membawakan lagu rohani Penebus Dosa
  • Arum (Kebaya) menyanyikan When You Believe
  • Penampilan tari dari Alexa (PHBK Semarang)

Dukungan adalah “wajah Kristus”

Dalam sambutannya, Augustine, Ketua Layung Kristi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Uskup KAS, Romo Vikaris Episkopal Kategorial, para rohaniawan, jejaring komunitas, serta seluruh anggota Layung Kristi yang mendukung terselenggaranya perayaan.

“Bagi kami, dukungan dan penerimaan Anda semua adalah wajah Kristus Sang Penebus yang kelahirannya kita rayakan hari ini,” ujar Augustine.

Ia berharap Roh Kudus terus bekerja dalam Gereja, sehingga semakin banyak tarekat rohaniwan memandang komunitas LGBTIQ sebagai manusia utuh dan bermartabat, serta semakin banyak keuskupan di Indonesia terinspirasi menghadirkan kasih yang nyata.

Sekilas Layung Kristi

Mengacu pada laman resmi Keuskupan Agung Semarang, Layung Kristi adalah komunitas tempat umat Katolik yang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari komunitas queer/LGBTQ+ saling meneguhkan iman karena kerinduan untuk tetap hidup dalam pelukan Gereja dan merasakan cinta kasih Yesus dalam perjalanan hidup mereka.

Layung Kristi disebut bernaung di bawah Kevikepan Kategorial Keuskupan Agung Semarang dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pendalaman iman, termasuk rekoleksi/retret queer pada 27–28 September 2025 di Wisma Salam, Muntilan, Magelang, yang didampingi Rm. Andreas Setyawan, SJ.

Dalam rangkaian rekoleksi tersebut, peserta diteguhkan melalui Perayaan Ekaristi khusus yang dipimpin Rm. Yohanes Dwiharsanto, Pr, Vikaris Episkopal Kategorial KAS, dengan tema “Dikasihi dan Diutus: Hati yang Terbuka bagi Sesama”.

Kegiatan itu juga disebut inklusif bagi ragam disabilitas dan iman, serta dilaksanakan dengan tata ibadah Katolik. (*)

2 Comments
  1. Andika says

    Shalom, damai Kristus.

    Izinkan saya berpendapat. Saya mencoba mengerti tujuan dari komunitas tersebut yaitu memperkenalkan Tuhan Yesus Kristus kepada komunitas itu, namun yang saya sayangkan adalah dalam beribadah terdapat atribut/simbol yang menurut saya pribadi tidak pada waktu dan tempatnya. Saya bukan melarang komunitas tersebut dalam beribadah, hanya saja gereja/ibadah harusnya terpisah dari hal hal seperti itu. Kembali, menurut saya.

    Saya pun juga masih manusia berdosa, kiranya ini menjadi bahan instropeksi diri buat masing masing. Kiranya pesan ini tersampaikan dengan baik bagi pembina komunitas.

    Kiranya Tuhan Yesus Kristus memberkati

  2. Fransiscus Xaverius says

    Lama-kelamaan ajaran Gereja seenak jidat ditafsirkan oleh umatnya sendiri. Mentang-mentang Yesus menekankan kasih, lantas umatnya pada latah mengartikan “kasih” itu sendiri. Semua orang yang pergi ke gereja pada dasarnya orang berdosa semua (termasuk lgbt). Itulah kenapa kita dianjurkan mengaku dosa sebelum misa. Tapi, kalo sampai mengadakan Ekaristi dengan simbol-simbol yang jelas-jelas merepresentasikan identitas yg bertentangan ajaran Gereja, itu namanya sudah pelecehan. Lagipula, kalian lgbt mau Ekaristi biasa juga sah dan boleh kok tanpa perlu embel-embel bendera lgbt, karena pada dasarnya kita ini orang berdosa yang pergi Ekaristi untuk menyembah dan memohon belas kasih Allah. KAS sebagai keuskupan ayo tolong direfleksikan ulang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.