Refleksi bacaan Selasa (20/1/2026) Romo Albert Herwanta, O.Carm.

Katolikana.com – Bacaan Kitab 1 Samuel 16:1-13 dan Injil Markus 2:23-26 mengajarkan perbedaan mendasar antara perspektif manusia dan perspektif ilahi.
Cara pandang Tuhan berbeda dengan cara pandang manusia.
Bagaimana memahaminya?
Melihat hati
Dalam kisah pengurapan Daud, Samuel terpukau pada penampilan fisik dan kedewasaan Eliab. Namun, Tuhan menegaskan, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
Tuhan mengutamakan kesungguhan hati, kesetiaan, dan kemurnian batin, bukan penampilan lahiriah.
Daud, si bungsu yang dianggap remeh, justru dipilih Tuhan.
Kisah dalam Markus 2:23-26 membantu memahami hal di atas secara lebih mendalam.
Maksud sejati di balik tindakan
Ketika orang Farisi mengkritik murid-murid Yesus yang memetik gandum pada hari Sabat, mereka hanya terpaku pada ketaatan hukum lahiriah dan penilaian moral yang hitam-putih.
Yesus menanggapi dengan menyoroti hati dan maksud sejati di balik tindakan murid-murid-Nya, yakni kebutuhan mendasar dan kelaparan. Ia mengutip contoh Daud yang, dalam situasi mendesak, makan roti sajian yang hanya boleh dimakan imam.
Prinsipnya: hukum dan penampilan lahiriah bukanlah tujuan mutlak; belas kasihan, kebaikan, dan kebutuhan manusia yang otentik lebih utama di mata Tuhan.
Transformasi paradigma
Makna rohaninya bagi orang Kristen amat mendalam dan menyangkut transformasi paradigma.
Pertama, kita diajak untuk menilai diri sendiri dan orang lain bukan berdasarkan capaian, penampilan, atau kesan lahiriah, tetapi dengan mengutamakan integritas hati, motivasi, dan pertumbuhan hidup dalam Kristus.
Kedua, ibadah dan ketaatan kita mesti lahir dari hati yang tulus, bukan sekadar ritual dan kesalehan yang tampak. Ketiga, kita diingatkan bahwa Tuhan bekerja di luar “kotak” ekspektasi kita. Ia sering memilih dan memberkati yang dianggap lemah dan tak berarti oleh dunia.
Oleh karena itu, kita mesti mengarahkan hidup kita agar selaras dengan pandangan Tuhan—mengasihi yang Dia kasihi dan menghargai apa yang Dia hargai, yaitu hati yang sepenuhnya milik-Nya. Hal itu tidak selalu mudah dan untuk itu kita membutuhkan rahmat Allah.
Marilah memohon rahmat Allah, agar kita dapat membedakan antara perspektif manusia dan perspektif Tuhan, perspektif ilahi.
Selasa, 20 Januari 2026
HWDSF
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.