Menelaah Peran dan Makna Sistem Hirarkis dalam Gereja Katolik

0 24
Umen Ola

Oleh Umen Ola

Katolikana.com—Gereja Katolik dikenal sebagai salah satu institusi religius paling tua dan paling terstruktur di dunia.

Salah satu kekhasannya terletak pada sistem kepemimpinan yang bersifat hirarkis: Paus, para uskup, imam, dan diakon, yang bekerja dalam satu jejaring otoritas dan pelayanan.

Bagi banyak umat Katolik, struktur ini terasa wajar—bahkan “alami”—karena setiap hari hadir dalam pengalaman konkret menggereja.

Namun bagi sebagian tradisi Kristen lain, sistem hirarki kerap dipersoalkan: dianggap terlalu institusional, terlalu “berjarak”, dan pada titik tertentu dinilai berpotensi menghambat kebebasan iman.

Perdebatan ini bukan hal sepele. Ia menyentuh pertanyaan mendasar: apakah struktur hirarki adalah bagian esensial dari identitas Gereja, ataukah sekadar bentuk organisasi yang bisa diubah sesuai kebutuhan zaman?

Bisakah Gereja tetap “satu, kudus, katolik, dan apostolik” tanpa hirarki tradisional?

Tulisan ini tidak bermaksud mematikan kritik, tetapi justru menempatkannya secara proporsional: apa yang sebenarnya dimaksud Gereja Katolik ketika mempertahankan struktur hirarki—dan mengapa Gereja menilai struktur itu bukan sekadar urusan administratif.

Hirarki dan identitas Gereja: bukan sekadar “sistem organisasi”

Dalam Syahadat Nicea-Konstantinopel, Gereja mengakui dirinya sebagai satu, kudus, katolik (universal), dan apostolik.

Empat ciri ini sering disalahpahami sebagai “empat sistem organisasi”, padahal dalam iman Katolik, ciri-ciri itu menunjuk pada identitas teologis Gereja sebagai Tubuh Kristus yang kelihatan dalam sejarah.

Di titik inilah struktur hirarki dipahami bukan sekadar produk budaya institusional, melainkan sebagai cara Gereja menjaga kesinambungan misi Kristus secara historis dan sakramental.

Dasar yang sering dirujuk ialah mandat Kristus kepada para rasul dan secara khusus peneguhan perutusan Petrus: “Engkau adalah Petrus…” (bdk. Mat 16:18–19) serta pengutusan dan kuasa pengampunan dosa (bdk. Yoh 20:21–23).

Gereja membaca teks-teks ini sebagai fondasi bagi tugas mengajar, menguduskan, dan menggembalakan—yang diteruskan melalui para rasul dan penerusnya.

Dengan kata lain, bagi Gereja Katolik, hirarki terutama bukan “model manajemen”, tetapi tanda dan sarana untuk menjaga tiga hal: kesatuan iman, legitimasi sakramen, dan kesinambungan perutusan apostolik.

Kritik yang kerap muncul: “Yesus melawan institusi”?

Keberatan terhadap hirarki biasanya bergerak pada tiga arah.

Pertama, ada argumen bahwa Yesus melawan institusi. Dalam beberapa perikop, Yesus memang keras mengkritik kemunafikan dan penyalahgunaan otoritas religius.

Dari sini muncul kesimpulan: institusi adalah ciptaan manusia yang kaku; kabar baik Kerajaan Allah justru membebaskan manusia dari struktur semacam itu.

Kedua, orang menunjuk komunitas perdana dalam Kisah Para Rasul sebagai persekutuan saudara-saudari dengan kesetaraan radikal: semua berbagi, saling melayani, dan tampak tanpa “pemerintahan formal”.

Ketiga, sebagian pembaca menafsir surat-surat Paulus sebagai model Gereja yang “diatur oleh cinta”, bukan oleh struktur kekuasaan: yang utama adalah karunia Roh, kebebasan, dan saling membangun.

Kritik-kritik ini patut dihargai karena mengandung peringatan yang sangat injili: otoritas rohani selalu rentan disalahgunakan. Namun, pertanyaannya: apakah kritik terhadap penyalahgunaan otoritas otomatis meniadakan kebutuhan akan otoritas itu sendiri?

Tanggapan Katolik: institusi dapat dikritik, tetapi perutusan harus dijaga

Gereja Katolik tidak menutup mata bahwa institusi bisa menjadi problematik. Sejarah menunjukkan adanya episode-episode gelap ketika struktur dipakai sebagai alat dominasi. Namun di sisi lain, Gereja membedakan antara:

  1. institusi sebagai sarana perutusan, dan
  2. institusi sebagai mesin kekuasaan.

Yesus mengkritik penyalahgunaan otoritas, tetapi Ia juga membentuk komunitas yang memiliki perutusan, penugasan, dan penataan.

Bahkan dalam komunitas perdana, kita menemukan adanya struktur peran: para rasul mengambil keputusan pastoral, menetapkan pelayan (misalnya diakon), mengajar, dan menjaga kesatuan ajaran.

Paulus pun bukan anti-struktur; ia justru menata kehidupan jemaat agar karunia Roh tidak menjadi chaos. Gambaran “tubuh dengan banyak anggota” (bdk. 1Kor 12) bukan hanya metafora keanekaragaman, tetapi juga metafora keteraturan: setiap anggota punya fungsi dan tanggung jawab.

Karena itu, dari perspektif Katolik, pertanyaan “apakah Gereja bisa tanpa hirarki?” bukan pertama-tama soal efisiensi organisasi, melainkan soal kesatuan iman dan kesinambungan sakramental.

Apa makna hirarki dalam Gereja Katolik?

Secara ringkas, hirarki dalam Gereja Katolik adalah struktur pelayanan yang menata otoritas rohani: Paus sebagai Uskup Roma dan tanda kesatuan universal; para uskup sebagai gembala Gereja partikular; imam dan diakon sebagai rekan sekerja dalam pelayanan Sabda, liturgi, dan karya pastoral.

Struktur ini dipertahankan bukan karena “Gereja menyukai kekuasaan”, melainkan karena Gereja memandang dirinya bukan sekadar kumpulan individu religius yang sepakat berkumpul, tetapi komunitas yang dipanggil dan dibentuk oleh Kristus, yang hidup dalam sejarah, membutuhkan penanggung jawab perutusan.

Gereja, dalam pemahaman Katolik, mendahului pilihan individual anggota. Seseorang masuk ke dalam Gereja yang sudah ada, menerima iman yang sudah diwariskan, ikut ambil bagian dalam sakramen yang sudah ditata, dan diutus dalam misi yang sudah berjalan dua ribu tahun.

Di sini hirarki berfungsi sebagai penjaga kontinuitas: agar Gereja tidak berubah menjadi sekadar “komunitas selera rohani” yang mudah terfragmentasi.

Apakah Gereja bisa bertahan tanpa struktur hirarki?

Secara teoritis, selalu mungkin ada komunitas orang percaya yang berkumpul, membaca Kitab Suci, berdoa, dan berusaha mengikuti Yesus tanpa struktur hirarki. Namun pertanyaan Katolik lebih spesifik: apakah komunitas itu masih dapat disebut “Gereja” dalam arti satu, kudus, katolik, dan apostolik?

Bagi Gereja Katolik, jawabannya cenderung tegas: tanpa hirarki apostolik, Gereja akan kehilangan suksesi apostolik—yakni kesinambungan penggembalaan dan pengajaran yang ditautkan pada para rasul. Konsekuensinya bukan kecil:

  1. Kesatuan ajaran rentan pecah
    Tanpa otoritas pengajaran yang diakui, perbedaan tafsir mudah berujung pada fragmentasi. Kesatuan iman menjadi “negosiasi tanpa akhir”.
  2. Sakramen kehilangan jaminan keabsahan dalam tradisi Katolik
    Dalam teologi Katolik, sakramen bukan sekadar simbol yang disepakati komunitas, melainkan tindakan Kristus yang dipercayakan kepada Gereja. Karena itu dibutuhkan mandat pelayanan yang jelas.
  3. Identitas “apostolik” menjadi kabur
    Apostolik bukan hanya soal “mengikuti ajaran para rasul”, tetapi juga soal kesinambungan perutusan yang kelihatan dalam sejarah melalui para penerus.

Namun, penting dicatat: argumen ini tidak berarti hirarki tidak bisa dikritik. Justru sebaliknya—karena hirarki begitu penting, ia harus terus-menerus dimurnikan. Hirarki yang sehat bukan yang makin dominan, melainkan yang makin menyerupai Kristus sebagai Gembala Baik: mendengar, menuntun, dan melayani.

Hierarki: alat pelayanan, bukan tujuan

Di titik ini, kritik paling tajam terhadap hirarki sebenarnya bukan “struktur itu ada”, melainkan struktur itu dipakai untuk apa. Bila hirarki berubah menjadi politik gerejawi, ia mengkhianati hakikatnya.

Tetapi bila hirarki dipahami sebagai pelayanan—sebagai cara menjaga kesatuan dan memelihara umat—maka struktur itu justru menjadi sarana pastoral.

Dalam kerangka ini, hirarki bukan lawan dari kebebasan iman. Ia seharusnya menjadi pagar agar kebebasan tidak berubah menjadi relativisme, dan agar keragaman tidak berubah menjadi perpecahan.

Hirarki perlu, tetapi harus terus diselamatkan

Sistem hirarki dalam Gereja Katolik—dengan segala keterbatasannya—dimaknai sebagai bagian dari cara Gereja menjaga identitasnya sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Ia bukan jaminan otomatis bahwa Gereja akan selalu kudus dalam perilaku para pemimpinnya; kekudusan tetap menuntut pertobatan terus-menerus.

Namun tanpa struktur hirarki yang terhubung pada suksesi apostolik, Gereja Katolik akan kehilangan fondasi historis-teologis yang selama ini menjaga kesatuan ajaran, legitimasi pelayanan sakramental, serta kesinambungan perutusan.

Karena itu, perdebatan yang lebih tepat bukan “hapus atau pertahankan hirarki”, melainkan: bagaimana hirarki itu terus dimurnikan agar sungguh menjadi pelayanan—bukan dominasi; menjadi gembala, bukan penguasa; menjadi penjaga kesatuan, bukan sumber ketakutan.

Di situlah hirarki menemukan makna Injilnya: bukan membatasi Gereja, tetapi menjaga agar Gereja tetap berjalan setia di jalur perutusan Kristus. (*)

Penulis: Umen Ola, mahasiswa ITFK Ledalero.

Leave A Reply

Your email address will not be published.