Katolikana.com – Hari ini, kita membaca ajaran Yesus yang amat penting, yakni Sabda Bahagia (Matius 5:1-12). Di sana, Yesus memulai rangkaian ajaran yang disebut Khotbah di Bukit (Matius 5-7). Yesus menyajikan visi tentang kebahagiaan yang revolusioner dan membalikkan nilai-nilai dunia.
Kunci dasar
Kunci dasarnya terletak pada ungkapan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”
“Miskin di hadapan Allah” ini bukanlah kemelaratan materi, melainkan sikap hati yang mendalam: kerendahan hati yang radikal dan ketergantungan total pada Allah.
Mengosongkan diri
Orang mengosongkan diri dari sikap mengandalkan kemampuan sendiri dan mengakui bahwa di hadapan Allah ia tidak memiliki apa pun.
Ia adalah pengemis di hadapan belas kasihan ilahi.
Sikap ini menjadi pintu penting untuk menuju dan memasuki Kerajaan Surga, karena Kerajaan itu bukanlah upah atau hasil dari upaya manusia, melainkan anugerah yang hanya dapat diterima oleh tangan-tangan yang kosong dan terbuka.
Mereka yang angkuh, hanya puas pada prestasi diri sendiri, atau suka membenarkan diri sendiri tidak memiliki ruang untuk menerimanya.
Duka cita atas dosa
Sabda Bahagia mengalir dari prinsip pertama ini. Menjadi lemah lembut, berdukacita, lapar dan haus akan kebenaran, menjadi murah hati dan suci hati—semua ini adalah ungkapan dari hati yang pertama-tama telah mengakui kebutuhannya.
Orang yang “miskin di hadapan Allah” adalah mereka yang sungguh-sungguh berdukacita atas dosa, yang lapar akan kekudusan yang tidak mereka miliki, dan yang berbelas kasihan karena mengetahui bahwa mereka sendiri membutuhkannya.
Cara berpikir ilahi yang konsisten
Tema ini bergema dengan kuat dalam Mazmur Tanggapan (Mazmur 146:7, 8-9, 9-10), yang menyanyikan, “TUHAN itu tetap setia untuk selama-lamanya, Ia menjamin keadilan bagi orang yang diperas, memberi makan kepada orang yang lapar.”
Pemazmur memuji Allah yang kesetiaan-Nya bukan kepada yang berkuasa, melainkan kepada mereka yang berada dalam posisi membutuhkan: yang tertindas, yang lapar, yang terpenjara, orang asing, anak yatim, dan janda.
Mereka diberkati bukan karena penderitaan mereka, tetapi karena percaya dan mengalami bahwa Allah berada di pihak mereka.
Dialah pertolongan dan harapan mereka.
Sabda Bahagia dan Mazmur itu mengungkapkan cara pikir ilahi yang konsisten.
Berkat sejati
Kerajaan Allah ditegakkan bukan oleh kuasa duniawi, tetapi oleh kasih karunia yang mengisi kemiskinan manusia.
Jalan menuju “berkat sejati” dimulai ketika kita mengakui kebutuhan rohani kita, membuka diri kepada Allah yang meninggikan yang rendah hati dan mengisi yang lapar dengan hal-hal yang baik.
Kemiskinan kita menjadi ruang bagi tersedianya berkat melimpah dari Tuhan.
Apakah kita telah memiliki sikap miskin di hadapan Allah?
Minggu, 1 Februari 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.