Seabad Masehi NU dan Wajah Toleransi Gereja-gereja di Malang

0 57

Kisah sejuk dari Malang: Saat Gereja Katedral tiadakan Misa demi Seabad NU. Bukti nyata Pancasila bukan sekadar kata, tapi aksi mengalah demi harmoni.

Pemandangan di sudut-sudut Kota Malang  bukan sekadar kerumunan massa yang merayakan hari jadi organisasinya. Lebih dari itu, ia menjadi panggung terbuka bagi implementasi Pancasila yang paling sejati. Saat Nahdlatul Ulama (NU) memperingati seabad usianya berdasarkan kalender Masehi, sebuah narasi besar tentang moderasi dan toleransi beragama tertulis secara alami di jalanan kota pendidikan ini.

Pengorbanan di Balik Ritual

Salah satu potret paling menyentuh adalah keputusan Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Katedral Malang). Pihak Gereja memilih untuk meniadakan jadwal Misa yang biasanya rutin digelar pada Sabtu sore hingga Minggu pagi dan sore. Bagi umat Katolik, Misa Minggu adalah kebutuhan bukan sekadar kewajiban spiritual utama dalam sepekan. Meski ada Misa harian, frekuensi dan jumlah umat yang hadir tentu tak sebanyak Misa mingguan. Menghilangkan jadwal tersebut bukan perkara sepele; ada “pengorbanan” ibadat demi memberikan ruang bagi saudara Muslim yang sedang merayakan kegembiraan.

Tak hanya Katedral, Gereja-gereja Kristen Protestan di sekitar lokasi acara pun membuka pintu lebar-lebar. Mereka tidak sekadar menonton, tetapi aktif menyediakan tempat rehat, toilet, hingga makanan dan minuman bagi para jamaah yang kelelahan. Semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran kolektif. Padahal, jika ingin bersikukuh pada hak beribadah, pihak gereja memiliki alasan yang kuat untuk tetap berkegiatan. Toh, peringatan seabad NU ini adalah versi Masehi setelah versi Qomariah (Hijriah) sudah dirayakan dua tahun silam. Namun, mereka memilih untuk tidak menggunakan “hak benar” itu demi kemaslahatan yang lebih besar. Peringatan yang sama, juga sudah dilakukan di Jakarta.

Sosiologi vs Dogma: Melampaui Ego Sektoral

Logika praktis berbicara: kedatangan ribuan jamaah dari berbagai daerah pasti akan mengunci urat nadi lalu lintas Malang. Jarak antara pusat keramaian dengan Gereja Katedral yang hanya sekitar satu kilometer membuat kemacetan menjadi kepastian. Di sinilah peran sosiologi menjadi jauh lebih krusial dibandingkan debat dogmatis.

Ketika sebuah komunitas terjebak hanya pada dogma, relasi sosial cenderung akan berantakan. Sikap “keakuan”, ego sektoral, dan merasa benar sendiri biasanya menjadi penghalang utama terciptanya harmoni. Jika pihak Gereja bersikukuh pada agenda internalnya, konflik kepentingan dan ketidaknyamanan ruang publik tak akan terhindarkan. Namun, dengan mengedepankan perspektif sosiologis—yakni hidup sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk—keputusan untuk mengalah menjadi keputusan yang sangat bijak dan visioner.

Ironi Ketidakseimbangan

Sayangnya, keindahan di Malang ini sering kali belum berimbang dengan realita di tempat lain. Kita masih kerap melihat pihak-pihak tertentu yang terlalu kaku memegang pemahaman sektarian. Masih segar dalam ingatan bagaimana reaksi sebagian elit ketika ada sebuah masjid yang dengan terbuka menyambut dan menjamu para Bikshu Thudong dalam perjalanan spiritual mereka menuju Borobudur.

Ada jarak yang lebar antara “akar rumput” dan “elit”. Di tingkat warga, kegembiraan menolong sesama manusia melampaui sekat agama. Namun di tingkat elit, dogma sering kali dijadikan alat untuk membatasi ruang gerak toleransi. Padahal, jika kita menggunakan Pancasila sebagai filter dan kompas moral, seharusnya tidak ada lagi mentalitas “menang-kalah”. Pancasila adalah titik temu yang memungkinkan semua pihak merasa menang tanpa ada yang harus merasa tersisihkan.

Mengalah untuk Kemanusiaan

Selama ini, paradigma hidup bersama kita masih sering terjebak pada hegemoni mayoritas. Ada anggapan tak tertulis bahwa mayoritas berhak atas segalanya, sementara minoritas harus selalu mendukung dan “tahu diri”. Harmoni yang tercipta pun terkadang hanya semu—ibarat menyembunyikan sampah di bawah permadani indah agar ruangan terlihat bersih.

Inspirasi dari Malang mengajarkan bahwa mengalah bukan berarti kalah. Mengalah demi ketertiban umum dan kebahagiaan sesama adalah bukti dari jiwa yang besar. Pihak-pihak yang masih mengedepankan ego sektoral sudah saatnya belajar lebih dalam tentang esensi spiritualitas.

Agama yang dijalankan tanpa sentuhan spiritualitas hanya akan melahirkan fanatisme buta. Umat yang hanya berpedoman pada “dogma mati” cenderung akan abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kompas moral mereka menjadi bias karena hanya fokus pada keselamatan kelompok sendiri, padahal mereka hidup di ruang publik yang berbagi dengan orang lain yang juga memiliki dogma berbeda.

Keluar dari Cangkang

Jika kita tidak berani keluar dari cangkang eksklusivitas, dunia akan selalu terasa sempit dan penuh curiga. Kita akan terus melihat pihak lain dengan “kacamata kotor”. Apa yang dilakukan Gereja-gereja di Malang saat peringatan seabad NU adalah upaya membersihkan kacamata tersebut.

Toleransi bukan sekadar membiarkan orang lain beribadah, tetapi juga kemauan untuk menyesuaikan diri agar orang lain dapat merayakannya dengan nyaman. Itulah wajah asli Indonesia yang kita impikan kini, setelah sekian lama terkikis: sebuah ruang di mana spiritualitas melampaui dogma, dan kemanusiaan berdiri tegak di atas segala perbedaan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.