Dogma Maria Diangkat Ke Surga dan Keberatan Protestantisme – Tanggapan untuk Loya Latoya

0 54

Bagaimana Gereja Katolik mempertanggungjawabkan dogma “Maria Diangkat ke Surga” (Assumption) di tengah keberatan yang menuntut bukti empiris dan ayat eksplisit seperti yang diajukan Loya Latoya?

Katolikana.com–Dogma Maria Diangkat ke Surga menyatakan bahwa Bunda Maria—sesudah menyelesaikan peziarahan hidupnya—diangkat Allah ke dalam kemuliaan surga dengan jiwa dan raga. 

Ini bukan klaim “Maria terbang” dalam pengertian fisika, melainkan penegasan eskatologis: tubuh manusia tidak diciptakan untuk berakhir sebagai kebinasaan, melainkan untuk dimuliakan dalam Kristus. 

Karena itu, sejak awal, perdebatan tentang Assumption sering macet bukan pada data, tetapi pada cara membaca realitas: apakah misteri keselamatan boleh dipaksa tunduk pada parameter materialisme dan “hanya yang tertulis eksplisit di Alkitab”?

Kesalahan kategori: menimbang yang supranatural dengan alat ukur material
Keberatan yang menuntut “bukti empiris” untuk peristiwa eskatologis kerap jatuh pada kesalahan kategori: menilai realitas supranatural dengan alat ukur yang tepat untuk fenomena material. 

Teologi tidak anti-akal, tetapi akal teologis bekerja dengan horizon berbeda: ia bertanya tentang makna keselamatan, koherensi iman, dan kesaksian Gereja sepanjang zaman—bukan sekadar verifikasi laboratorium. Dalam tradisi Katolik, dogma bukan “dongeng tanpa nalar”, melainkan rumusan resmi Gereja untuk menjaga iman tetap setia pada wahyu Allah.

Kitab Suci bukan logbook: “tidak dicatat” bukan berarti “tidak terjadi”
Salah satu keberatan klasik adalah “keheningan Perjanjian Baru”: karena tidak ada catatan eksplisit tentang Maria diangkat, maka peristiwa itu dianggap tidak pernah ada. Ini adalah bentuk argumentum ex silentio (argumen dari keheningan) yang lemah. Injil adalah kerygma (pewartaan iman), bukan biografi lengkap atau catatan kronologis semua detail. 

Yohanes sendiri mengisyaratkan bahwa tidak semua hal dituliskan (Yoh 21:25). Maka absennya laporan eksplisit tidak otomatis membatalkan iman Gereja, terlebih ketika kita memahami bagaimana Gereja perdana hidup: iman pertama-tama diwariskan lewat pewartaan, liturgi, dan Tradisi Lisan, jauh sebelum budaya “semua harus tertulis” menjadi standar.

Surga bukan koordinat, tubuh mulia bukan tubuh biologis yang butuh oksigen
Keberatan tentang “oksigen”, “ruang angkasa”, atau “koordinat surga” muncul ketika surga diperlakukan seperti lokasi fisik yang bisa diukur GPS. Dalam iman Katolik—sejalan dengan teologi kebangkitan (1Kor 15)—ada konsep tubuh mulia (corpus gloriosum): tubuh yang sungguh nyata, namun tidak lagi terikat pada keterbatasan biologis fana. 

Kristus yang bangkit menegaskan realitas tubuh, tetapi juga melampaui batas ruang dengan cara yang tidak tunduk pada hukum fisika biasa. Maka pertanyaan yang lebih tepat bukan “berapa kadar oksigen di surga”, melainkan: apa arti pemuliaan manusia dalam Kristus, dan bagaimana Maria dipahami sebagai tanda harapan itu.

Masalah “Sola Scriptura”: standar yang dipakai untuk mengadili justru bukan standar Kitab Suci sendiri
Banyak keberatan terhadap Assumption berangkat dari prinsip bahwa yang benar hanya yang tertulis eksplisit di Alkitab. Namun, prinsip “hanya Kitab Suci saja” sebagai satu-satunya sumber iman—dalam bentuk eksklusifnya—tidak pernah dinyatakan sebagai rumus tunggal di Kitab Suci. 

Tradisi Katolik memegang Kitab Suci, Tradisi Apostolik, dan Magisterium sebagai satu kesatuan cara Allah menuntun Gereja dalam kebenaran.

Jadi, ketika seseorang menolak Assumption semata-mata karena tidak menemukan “ayat yang bunyinya sama persis”, ia sedang memakai kacamata hermeneutik tertentu, bukan sekadar “membaca apa adanya”.

Tipologi: Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru dan koherensi iman
Gereja Katolik tidak “mengarang dogma”, melainkan membaca wahyu Allah secara utuh—termasuk melalui tipologi: Perjanjian Lama dibaca sebagai bayang-bayang yang digenapi dalam Kristus. Salah satu gambaran kuat ialah Tabut Perjanjian (2Sam 6): tempat kehadiran ilahi yang diperlakukan kudus, tidak diperlakukan sembarangan, dan menjadi tanda misteri Allah. 

Dalam terang Kristus, Maria dipahami sebagai Tabut Perjanjian Baru karena mengandung Sang Sabda yang menjadi daging.

Dari sini muncul koherensi teologis: jika Allah memperlakukan simbol kehadiran-Nya dengan kekudusan, masuk akal secara iman bahwa Ia juga memuliakan Bunda yang mengandung Putra-Nya—bukan karena “Maria lebih hebat dari Allah”, melainkan karena karya Allah sendiri di dalam diri Maria.

Apokrifa: bukan fondasi dogma, melainkan jejak sejarah keyakinan umat
Tuduhan bahwa Gereja mendasarkan dogma pada teks apokrif seperti Transitus Mariae perlu diluruskan. Gereja tidak menjadikan apokrif sebagai dasar dogma. Keberadaan teks semacam itu lebih tepat dilihat sebagai cermin sejarah bahwa sejak awal ada sensus fidelium (rasa iman umat) mengenai pemuliaan Maria. 

Magisterium menilai secara kritis mana unsur legenda dan mana inti yang sejalan dengan iman Gereja. Dengan kata lain: apokrifa bisa menjadi “indikator historis” adanya keyakinan, tetapi bukan “bukti doktrinal” yang berdiri sendiri.

Logika kasih: Potuit, Decet, Ergo Fecit
Penalaran teologis yang kerap disalahpahami adalah: Allah berkuasa (potuit), pantas sesuai kasih dan kekudusan-Nya (decet), maka Ia melakukannya (ergo fecit). Ini bukan “sulap logika”, melainkan argumen koherensi iman: bila Allah adalah Kasih dan Kristus menaklukkan maut, maka pemuliaan Maria dibaca sebagai tindakan yang selaras dengan karakter Allah dan karya keselamatan. 

Dalam kerangka ini, Assumption bukan “bonus arbitrer”, melainkan tanda yang konsisten dengan Kristologi dan antropologi Kristiani: manusia diselamatkan secara utuh.

Bukti negatif yang relevan: ketiadaan relikwi tubuh Maria
Ada satu fakta historis-devosional yang sering diabaikan: tidak ada tradisi relikwi tubuh Maria yang mapan seperti relikwi para martir dan orang kudus lain. Dalam dunia Gereja perdana, relikwi dan makam sangat dihormati dan menjadi pusat ziarah. 

Bila tubuh Maria diketahui berada di suatu tempat, sangat wajar bila tempat itu menjadi klaim dan pusat devosi besar. Ketiadaan tradisi relikwi tubuh Maria bukan “bukti matematis”, tetapi merupakan indikasi yang selaras dengan keyakinan Gereja tentang pemuliaan Maria.

Iman itu supra-rasional, bukan irasional
Pertanyaan akhirnya bukan “apakah iman harus masuk akal?” melainkan “akal macam apa yang dipakai saat membahas misteri?” Iman Katolik tidak menolak nalar; ia menolak reduksionisme yang menyamakan realitas Allah dengan objek laboratorium. 

Dogma Assumption bukan sekadar klaim spektakuler, melainkan kabar harapan: pemuliaan Maria adalah tanda awal dari janji kebangkitan bagi Gereja. Karena itu Gereja berani bernyanyi: “Assumpta est Maria in caelum, gaudent angeli”—Maria diangkat ke surga, para malaikat bersukacita—sebab yang dirayakan bukan sensasi, melainkan kesetiaan Allah pada janji keselamatan-Nya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.