Ontologi Fransiskan: Kritik atas PSN dan Ekstraksi Tambang di Papua

0 21

Esai ini merupakan pembacaan penulis atas tulisan Sosiolog  Robertus Robert berjudul “ Fransiskan” yang dimuat dalam majalah Tempo, 14 Februari 2026. Tulisan tersebut menghadirkan Fransiskan bukan sebatas sebagai spiritualitas religius, melainkan sebagai tawaran ontologis yang radikal terhadap dunia modern yang dikuasai logika kepemilikan dan dominasi.

Saya membaca esai “Fransiskan” bukan untuk mereduksinya,  melainkan untuk sedikit menarik spiral resonansi kritiknya: membawanya keluar dari lanskap Eropa abad pertengahan dan biopolitik Barat, lalu menempatkannya di tanah yang hari ini bergetar oleh proyek strategis nasional dan ekstraksi tambang di Papua. 

Dengan membentangkan karpet merah nalar, esai ini berusaha menelusuri kemungkinan: dapatkah ontologi Fransiskan menjadi kritik sunyi  namun mendasar terhadap rezim pembangunan yang menakar hidup dalam satuan konsesi dan tonase.

Hidup yang Direduksi Menjadi Proyek

Di tanah Papua hari ini, hidup semakin sering diterjemahkan sebagai proyek. Hutan menjadi blok. Sungai menjadi konsensi. Gunung menjadi cadangan mineral. Kampung menjadi “kawasan strategis.”

Logika Proyek Strategis Nasional (PSN) bekerja dalam satu bahasa: optimalisasi. Setiap jengkal tanah diukur dalam tonase, cadangan, dan nilai ekspor. Di sini, kehidupan tidak lagi dipahami sebagai relasi, melainkan sebagai potensi ekonom

Inilah yang oleh Giorgio Agamben sebut sebagai produksi bare life: kehidupan yang ditelanjangi dari makna, lalu dikelola oleh hukum dan kebijakan. Hidup tidak lagi dihormati sebagai bentuk, melainkan sebagai sumber daya.

Tetapi jauh sebelum kapitalisme global merumuskan skema ekstraksi, seorang pemuda Italia berdiri telanjang di alun-alun Assisi pada 1206.  Ia menanggalkan pakaian, harta, dan warisan. Ia bernama Fransiskus dari Assisi. Apa yang ia lakukan bukan hanya sebatas skeptisisme. Itu adalah pembatalan ontologis atas dominasi.

Kemiskinan sebagai Pembatalan

Fransiskus tidak memilih miskin karena ia membenci dunia. Ia memilih kemiskinan sebagai cara hidup tanpa kepemilikan – sine proprio vivere. Di sini, kemiskinan bukan moralitas. Ia adalah ontologi.

Ontologi Fransiskan mengatakan: hidup tidak perlu memiliki untuk bermakna. Dalam logika eksraksi, tanah harus dikuasai agar produktif. Dalam logika Fransiskan, dunia adalah saudara, bukan objek.

Fransiskus menyebut matahari sebagai saudara, bulan sebagai saudari, bahkan kematian sebagai kawan seperjalanan. Ia tidak menaklukkan alam. Ia berpartisipasi di dalamnya.  Ontologi ini memutus fondasi dominum-hak absolut untuk memiliki dan menguasai. Dan bukankah PSN berdiri justru di atas dominum negara dan mandat moral atas ruang?

Biopolitik dan Papua sebagai Zona “Bare life”

Dalam perspektif biopolitik, negara modern tidak lagi sebatas menghukum; ia mengelola kehidupan. Siapa boleh tinggal. Siapa boleh dipindahkan. Siapa dianggap menghambat pembangunan.

Di Papua, logika ini terlihat jelas. Masyarakat adat sering kali diposisikan sebagai hambatan regulatif, bukan subjek makna. Tanah adat menjadi “area terdampak”.  Kehidupan kultural menjadi “variabel sosial”. Di sinilah ontologi Fransiskan berfungsi sebagai kritik diam-diam yang radikal. Dan, jika hidup tidak bisa direduksi menjadi objek hukum dan pasar, maka seluruh arsitektur kehilangan legitimasi ontologisnya.

Fransiskan tidak menyerang negara. Ia membuat negara  dan otoritas lainnhya kehilangan dasar moralnya.

Agamben menyebut bentuk hidup Fransiskan sebagai inoperativitas – sebuah cara hidup yang membuat mesin kekuasaan kehilangan objek kerjanya. Bayangkan jika relasi terhadap tanah tidak lagi berbasis kepemilikan, melainkan berbasis persekutuan. Bayangkan jika pembangunan  tidak lagi dimulai dari konsesi, melainkan dari keberlangsungan komunitas.

Ontologi Fransiska tidak mengajak kita membakar tambang. Ia mengajak kita mempertanyakan: mengapa kita merasa harus memilikinya? Ini bukan perlawanan frontal. Ini pembatalan cara berpikir.

Papua dan Spiritualitas Anti-Ekstraksi

Di banyak kampung Papua, relasi dengan tanah bukan relasi ekonomi semata. Ia adalah kosmologi, memori luhur. Ia juga adalah tubuh kolektif. Nah, Ontologi Fransiskan menemukan resonansinya di sini.

Ketika mama-mama di pasar menjual pinang bukan untuk akumulasi, tetapi untuk keberlangsungan hidup harian-itu bukan  sebatas ekonomi kecil. Itu bentuk hidup.

Ketika orang  di Intan Jaya, Papua mempertahankan hutan bukan demi karbon kredit, tetapi demi keseimbangan kosmos-itu bukan romantisme. Itu ontologi. Dan justru karena itu, ekstraksi besar terasa seperti pelanggaran metafisik, bukan hanya ekologis.

Apakah negara berhak menyebut tanah sebagai “strategis” tanpa bertanya pada mereka yang hidup di dalamnya? Apakah pembangunan selalu identik dengan percepatan industri? Apakah kemiskinan selalu harus diselesaikan melalui eksploitasi sumber daya? Atau mungkin, seperti Fransiskan, kita perlu belajar bahwa hidup bisa bermakna tanpa kepemilikan absolut?

Di tengah polarisasi antara anti-pembangunan dan pro-investasi, ontologi Fransiskan menawarkan jalan ketiga. Bukan nihilisme. Bukan fanatisme. Tetapi kesetiaan pada kehidupan sebagai relasi.

Jika PSN mengandaikan bahwa masa depan Papua ada di dalam perut bumi, maka ontologi Fransiskan mengingatkan bahwa masa depan mungkin justru ada pada cara kita hidup di atasnya. Dan mungkin pertanyaan terbesar bukanlah, berapa ton emas yang tersimpan?, melainkan, apa arti hidup jika semuanya menjadi tambang?

Leave A Reply

Your email address will not be published.