“Perayaan syukur 100 Tahun MSF Momentum Introspeksi, Evaluasi dan Programasi”, kata Uskup Keuskupan Palangkaraya Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF
Surakarta, Katolikana.com – Perayaan Ekaristi yang agung, khusuk, penuh semangat menandai 100 Tahun ( centeranium ) MSF Berkarya di Indonesia. Perayaan syukur, yang dirayakan Propinsi Jawa, menghidupi misi pewartaan Injil, mengingatkan peran tiga misionaris MSF pertama tiba di Indonesia pada tahun 1926. Karya awal mereka difokuskan di Kalimantan sebelum menyebar ke Jawa, khususnya paroki Atmodirono, Sendang Guo, dan daerah lainnya.
Perayaan Ekaristi dilaksanakan di Gereja Santo Paulus Paroki Kleco Surakarta pada Selasa (24/2/2026) pukul 18.00 WIB. Dipimpin oleh Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF, Uskup Keuskupan Palangkaraya sebagai Selebran Utama, didampingi oleh:
Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF, Uskup Keuskupan Agung Samarinda,
Rm. F.X. Sugiyana, Pr, Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang,
Rm. Yohanes Risdiyanto, MSF, Pemimpin MSF Propinsi Jawa,
Rm. Fransiscus Anggras Prijatno, MSF, Pastor Paroki St. Paulus Kleco
Diakon Filipus Bimo Perbowo, MSF sebagai Konselebran.
Hadir dalam Perayaan Ekaristi Kuria Keuskupan Agung Semarang (KAS), para Romo, Suster, Bruder pemimpin anggota Muperkas (Musyawarah Para Pemimpin Religius KAS). Selain itu juga hadir Romo, Suster, Bruder, Diakon, Frater dari komunitas pastoran dan komunitas religius di Solo, Yogyakarta, Semarang dan sekitarnya, seluruh Kerabat MSF dan umat dari seluruh Paroki MSF yang ada di Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) serta tamu undangan.
Perayaan Ekaristi khidmat
Perayaan Ekarsti berjalan dengan khidmat. Tugas perutusan setelah Misa diteguhkan.
“Berjalan bersama keluarga dan kaum muda yang berpengharapan” menjadi tema yang diangkat pada perayaan ini sekaligus rumusan tugas perutusan.

Lebih dari itu MSF berkehendak ‘Camminiamo insieme per portare la speranza ai lontani’ menjadi peta jalan menapaki karya misi setelah merayakan 1 Abad MSF di Indonesia. “Berjalan bersama -sinodalitas- membawa harapan kepada mereka yang jauh atau yang terpinggirkan secara fisik maupun spiritual”.
Kendati saat Perayaan Ekaristi akan dimulai, hujan cukup lebat, sekitar 1.500 umat tetap mengikuti perayaan dengan khidmat. Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF mengungkapkan bahwa hujan lebat menjadi pertanda berkat yang turun mewarnai ungkapan perayaan syukur.

Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF, Uskup Keuskupan Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF, dan
Pemimpin MSF Propinsi Jawa Romo Yohanes Risdiyanto, MSF.
Homili Misa
Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF menyampaikan dalam homili bahwa usia 100 tahun merupakan usia yang diberkati Tuhan. MSF Propinsi Jawa mengambil tema :”Berjalan bersama keluarga dan orang muda membawa harapan”.
Tema ini diteguhkan dengan bacaan I, Surat 1 Petrus yang mengungkapkan bahwa berjalan bersama itu menjadi saksi Kristus dan akan mendapat bagian pada kemuliaan yang akan datang.
Berjalan bersama dilakukan dengan sukarela, tidak mencari keuntungan sendiri dan demi kemuliaan Allah. Pewartaan yang sungguh-sungguh kuat, disertai dengan teladan, menunjukkan diri menjadi teladan bukan mencari teladan.
Berjalan bersama, menolak yang congkak, mengasihani dengan rendah hati. Allah lah yang memberikan keteguhan, kekuatan dan mengokohkan kita untuk berjalan bersama. Modal mewartakan kabar suka cita adalah kekokohan iman”, kata Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF.
Dalam Injil, upaya pewartaan Kerajaan Allah tidak lain melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Misionaris pertama saat ‘turne’ atau kunjungan di pedalaman selain membawa perlengkapan liturgi juga membawa obat-obatan yang secara manusiawi mengupayakan kesejahteraan dan martabat kemanusiaan.
Misi yang utama pewartaan membabtis dan menjadikan murid-murid Yesus.
Setelah 100 tahun, tugas panggilan menjadi pewarta sukacita, maka usaha pertama bagaimana memiliki iman yang kuat dan menarik orang-orang bergabung menjadi murid Kristus.
Saat ini pewartaan juga harus bisa mencerahkan di era milenial, mendampingi kaum muda di era Artificial Intelligence.
Perayaan 100 Tahun MSF mengajak untuk melakukan tiga tahap. Pertama introspeksi. Intropeksi melihat diri sendiri, sudahkah kuat iman kita? Sudah menarik kah iman kita sehingga menarik bagi orang lain?
Tahap kedua evaluasi. Apa pendapat orang lain terhadap apa yang kita perbuat. Apakah menghargai, mencemooh atau bagaimana kesan mereka?
Ketiga tahap programasi, bagaimana ke depan langkah yang dilakukan setelah 100 tahun perayaan MSF?
Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF menguraikan tiga tahap tersebut pada umat dengan diselingi pantun yang mudah diingat umat diantaranya: Jika ada lampu tidak perlu cari lilin. Jika ada Aku (Yesus) tidak perlu ada yang lain.
“Untuk menjadi misionaris, hendaknya memiliki iman yang kuat dan menarik sehingga dapat ikut ambil bagian mewartakan Yesus dengan cara-cara yang menarik”, ungkap Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF mengakhiri homili.

MSF bestie keluarga dan orang muda
Provinsial MSF Propinsi Jawa Romo Yohanes Risdiyanto, MSF dalam sambutan mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas terselenggaranya Perayaan Ekaristi 1 Abad MSF Berkarya di Indonesia. Romo Risdiyanto mengungkapkan bahwa usia 100 Tahun direfleksikan sebagai sebuah kekuatan yang dijalani misionaris menjangkau pulau-pulau dan wilayah-wilayah yang sulit dijangkau serta di berbagai manca negara.
Keluarga dan kaum muda menjadi peluang fokus pelayanan MSF sehingga keluarga dan kaum muda bisa menjadi “bestie” sahabat MSF.
Di sisi lain, merefleksikan kelemahan, panggilan untuk menjadi imam, bruder dan suster akhir-akhir ini melemah.
Tantangan pelayanan MSF, menyertai hidup kaum muda dan Gen Z zaman ini. Harapan MSF Keluarga dan kaum muda tampil dalam karya misi MSF seperti halnya Yesus yang tampil dari keluarga yang tersembunyi, keluarga Kudus Nazaret, dalam karya pewartaan Injil, menyembuhkan dan mengajar.
Momentum 100 Tahun MSF di Indonesia mengingatkan pada Pater Berthier yang memberi inspirasi energi bermisi bagi MSF. Misi membuat Gereja bersemi.
Inspirasi Pater Berthier : ” Secara khas MSF, tiap anggotanya dengan rendah hati ‘mesti’ masuk ke sekolah Yesus, Maria dan Yosef. Itulah sekolah Nazaret”.
Dari Yesus, para MSF berjumpa dengan Penyelamat yang berbelas kasih. Dari Maria para MSF berjumpa dengan seorang ibu yang memiliki kelembutan hati untuk melayani. Dari Yosef para MSF menemukan tempat pengungsian dan perlindungan. Hal ini mengisyaratkan MSF dituntut menjadi tempat perlindungan.
Tiga hal itu menjadi jalan bagi para MSF untuk semakin religius dalam menapaki jalan kekudusan.
“Jika Allah berkenan para misionaris akan memiliki hati apostolik”, kata Romo Yohanes Risdiyanto, MSF mengutip pesan Pater Berthier.
Kesan dan pesan
Mengawali pemberian pesan dan kesan Uskup Keuskupan Agung Samarinda Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF menyampaikan pantun.
Wis suwe ora jejamu. Jejamu pisan godhong mrico. Wis suwe ora ketemu.Ketemu sepisan ing Greja Kleco
(Sudah lama tidak minum jamu. Jamu sekali daun mrica. Sudah lama tidak bertemu. Temu sekali di Gereja Kleca)
Selanjutnya Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF mengungkapkan kesan bahwa pergumulan dan penghayatan serta menghidupi semangat misioner dijalani para MSF secara penuh sukacita.
Tambahan tenaga dan karya pelayanan yang lebih luas memberi makna mendalam akan tugas perutusan yang positif.
Menghidupi semangat kekeluargaan menjadi penting dalam upaya berjalan bersama. Kerasulan keluarga juga dihidupi sehingga karya MSF dalam pendampingan keluarga semakin berkembang maju.
Kerasulan panggilan membekali anggota MSF meningkatkan cara-cara dan upaya karya panggilan.
“Pendek kata warga MSF menyadari dan mengerti serta menghayati spiritualitas dan karisma-karismanya. MSF dalam perkembangannya juga bergandengan tangan dengan pihak-pihak internal dan eksternal. Diantaranya bergandengan tangan dengan Kerabat MSF dan kaum awam. Perkembangan ini menjadi sarana menularkan spiritualitas MSF kepada semakin banyak orang”, kata Uskup Keuskupan Agung Samarinda Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF.
Karya MSF di KAS
Wakil Kuria Keuskupan Agung Semarang Romo FX Sugiyono, Pr dalam sambutan menyampaikan selamat dan profisiat kepada kongregasi MSF yang merayakan 100 tahun berkarya di Indonesia. Rasa syukur menyertai karya MSF dan buah-buah spititualitas yang di hasilkan bersama umat secara khusus umat KAS.
Mewakili Bapak Uskup dan seluruh umat di KAS Romo FX Sugiyono, Pr menyampaikan terima kasih kepada MSF yang lahir bertumbuh, berkembang dan berkarya di KAS. Karya-karya MSF diberikan baik karya formasio iman dan pendampingan untuk KAS. (Hadir di Wilayah KAS di Atmodirono tahun 1932. Kini berada di 17 Paroki di KAS).
“Karya MSF di KAS sungguh nyata dalam pengembangan iman, pendampingan keluarga, hingga terbentuknya kader-kader Gereja. Melalui karya MSF benih-benih iman tumbuh dalam diri umat sehingga umat KAS semakin cerdas, tangguh, misioner dan sinodal”, kata Romo FX Sugiyono, Pr.
Sambutan Superior Jendral MSF
Romo Agustinus Purnama, MSF Superior Jenderal MSF pada saat usai Misa menyampaikan sambutan secara on line. Beliau mengungkapkan Dewan Pimpinan Umum (DPU) Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) Dunia menyampaikan ucapan selamat berpesta. Semoga dengan peringatan 100 tahun para misionaris MSF semakin kuat, bahagia dan maju terus bersama umat melayani umat, Gereja dan negara Indonesia.

Pemotongan tumpeng
Menandai 100 Tahun MSF berkarya di Indonesia yang diawali dari Kalimantan dan Jawa, setelah Perayaan Ekaristi dilakukan pemotongan tumpeng. Tumpeng dengan simbol segitga yang mengerucut ke atas memberikan peneguhan ingatan akan karya Allah yang berada “diatas” yang memberi anugerah, menyemai benih dan memberikan rahmat kehidupan.
Nuansa Nusantara
Empat orang putri sebagai cucuk lampah 3 putri dari Panti Karuna Putri berasal dari Kalimantan dan 1 suster MASF dari NTT bersama para imam dan petugas liturgi memasuki gedung gereja dalam prosesi diiringi lagu bernuansa Kalimantan. Petugas liturgi berasal dari paroki-paroki dalam komunitas MSF Propinsi Jawa.
Anak-anak putri penari pengiring persembahan mengenakan busana Jawa. Romo Thomas Aquinas Koconegoro, MSF saat menjadi MC Ramah Tamah mengenakan busana adat putra khas Kalimantan dari suku Dayak, yang berbentuk rompi tanpa lengan, dihiasi manik-manik serta ikat kepala berhias bulu burung enggang.
Koor dari Paroki Keluarga Kudus Banteng Yogyakarta bersama para Frater Biara Nazareth Skolastikat MSF mengiringi odinarium dengan lagu-lagu bernuansa Jawa serta iringan musik keroncong.
Mimbar di Panti Imam dihias dengan tameng khas Kalimantan, yang dikenal sebagai Talawang, perisai tradisional Suku Dayak Kalimantan.

Ramah tamah
Ungkapan syukur 100 Tahun MSF berkarya di Indonesia selain Perayaan Ekaristi juga ditandai dengan ramah tamah di halaman parkir sebelah barat gereja Santo Paulus Kleco Surakarta.
Sambil menikmati hidangan yang telah dipersiapkan hadirin juga dihibur dengan sajian hiburan diantaranya Keroncong OMK Paroki Santo Paulus Kleco “Kospaleca”, tarian khas Kalimantan oleh para Suster postulan MASF.
Tampak meramaikan suasana menyanyikan lagu Romo Franciskus Anggras Prijatno, MSF ( Disini Dibatas Kota Ini ) Romo Yoseph Tjoek Prasetyo, MSF (Lagu Kemesraan) dan Romo Hibertus Hartono, MSF (Lagu Koyo Jogja Istimewa).
Syukur, suka cita menjadi energi dalam menapaki langkah menuju abad ke-2 karya misi MSF di Indonesia.
Ke Kota Babad kunjungi saudara.
Sambil berlibur segarkan raga
MSF Sahabat di Indonesia
Kita bersyukur dan bersuka cita
(Pantun Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta