Surakarta, Katolikana.com – Bulan Maret hingga bulan Mei, di Indonesia berdasarkan catatan musim memasuki peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Di beberapa daerah di Indonesia curah hujan masih cukup tinggi hingga mengakibatkan banjir.
Situasi pergantian musim sering disebut situasi pancaroba yang ditandai cuaca tidak menentu. Pada siang hari langit tampak cerah namun tiba-tiba datang hujan. Pagi, siang dan sore hari masih terjadi gerimis dan hujan.
Saat hujan turun sering disertai angin kencang. Pancaroba sering mengakibatkan suhu udara berubah drastis sehingga meningkatkan risiko penyakit seperti flu, batuk, diare, demam berdarah (DBD), dan infeksi saluran napas (ISPA).
Situasi pancaroba berpengaruh signifikan pada anak-anak. Anak-anak lebih rentan terkena penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang belum kuat dan ketidakmampuan mengatur aktivitas secara mandiri.
Perubahan cuaca ini juga berdampak pada kesehatan mental, mendatangkan stres, dan mengganggu konsentrasi serta kehadiran belajar di sekolah. Hal ini juga menyebabkan gangguan kesehatan fisik. Menyebabkan kelelahan, pusing dan demam.

Anjuran dokter
Katolikana.com berbincang-bincang dengan dr. Rustam Siregar, Sp.A dokter spesialis anak yang bertugas di RS Brayat Minulya Surakarta dan beberapa rumah sakit di Solo pada Senin (2/3/2026).
Menurut dr. Rustam Siregar, Sp.A meskipun situasi pancaroba perubahan iklim terjadi, anak-anak akan terhindar dari serangan penyakit seperti flu, demam, batuk, pilek jika kondisi anak telah tercukupi kebutuhan gizi, mendapatkan imunisasi dan memiliki kebiasaan yang sehat dalam keluarga.
Orang tua seyogyanya mengupayakan terpenuhinya kebutuhan akan gizi anak secara seimbang. Karbohidrat harus tercukupi. Nutrisi misalnya dari ikan tawar, ikan laut sering diberikan. Memang antara keluarga satu dengan yang lain tingkat pemenuhan gizi anak berbeda-beda.
Nutrisi nabati dan hewani bisa dikonsumsi untuk menjaga kesehatan. Nutrisi dari nabati seperti tahu dan tempe juga baik diberikan.
Kondisi sekarang ini tidak seperti zaman dulu.
“Dulu jika hujan, panas, anak mengalami demam orang tua hanya memberikan “milk” atau susu. Dulu anak batita hanya diberi pisang dicampur nasi lalu dilembutkan, sekarang berbeda. Harus seimbang nutrisinya”, kata dr. Rustam Siregar Sp. A.
Selain itu menurut dr. Rustam Siregar, Sp.A, anak-anak harus dibiasakan makan teratur dan istirahat yang cukup.
Tahapan pemberian gizi anak perlu disesuaikan sesuai perkembangan anak. Misalnya anak bayi dan balita (0-5 tahun) dilakukan pemberian ASI eksklusif (6 bulan pertama).
Makanan Pendamping Asi (MPASI) yaitu makanan dan minuman bernutrisi yang diberikan kepada bayi usia 6-24 bulan untuk melengkapi zat gizi dari ASI yang mulai tidak mencukupi perlu di berikan. Saat ini upaya bersama melalui posyandu anak cukup membantu usaha ini.
Imunisasi dasar, dan stimulasi fisik untuk pertumbuhan otot dan tulang serta keterampilan sosial perlu juga mendapatkan perhatian oleh orang tua.
Tips menghadapi pancaroba
Menjaga daya tahan tubuh dengan makan bergizi dan istirahat cukup.
Menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah sarang nyamuk DBD.
“Di Jawa Tengah demam berdarah juga perlu diwaspadai, karena 1.010 kasus per Januari 2024 terdapat 34 orang meninggal dunia. Maka pemberantasan nyamuk harus terus digalakkan, ” ungkap dr. Rustam Siregar, Sp. A.
“Faktor kekurangan gizi bagi anak-anak menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap timbulnya penyakit.
Kekurangan gizi, kondisi tubuh menurun, kuman dengan mudah dapat menyerang tubuh. Maka bagi anak-anak perlu dilakukan imunisasi.
Nutrisi untuk perkembangan otak juga perlu diperhatikan orang tua. Orang tua perlu secara tegas mengingatkan anak-anak untuk tidak tidur larut malam apalagi banyak waktu yang digunakan untuk main gadget”, kata dr. Rustam Siregar, Sp. A. mengakhiri perbincangan dengan Katolikana.com.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta