Oleh Dr. Ignasius Ngari OFM, Pengajar pada STFT Fajar Timur, Jayapura
Tulisan ini untuk mengenang Pater Nico Syukur Dister, yang wafat pada Minggu, 12 April 2026
“Tidak banyak literatur yang mengungkap biografi Prof, Nico Syukur Dister, termasuk juga pemikirannya.” Demikianlah pernyataan dalam Studi Kritis Pemikiran Nico Syukur Dister tentang Pengalaman Keagamaan oleh Idrus Ruslan dalam Jurnal Kalam Vol 7, No 2 (2013:3).
Sebagai orang yang dididik dan dimintai secara tidak langsung untuk menggantikannya di masa tua, pernah hidup bersama dengannya dan yang secara langsung mewawancarainya, saya merasa berutang untuk menulis biografinya.
Nama lengkapnya Nicolas M.J.A. Syukur Dister. Ia biasa menulis namanya, Sdr, Nico S. Dister. Orang-orangnya menyebutnya “Pater Nico”. Orang serumahnya biasa memanggil ‘formal’ Saudara Nico.
Negeri Belanda
Ia berkebangsaan Belanda yang kemudian mengambil kewarganegaraan Indonesia dan mengambil nama Syukur sebagai namanya karena nama tersebut, katanya mewakili nama yang tersebar di seluruh Indonesia.
Ia dilahirkan di lahir di Maastricht (Nederland) pada tahun 7 Maret 1939 dari orang tua bernama, Yohanes H. Nikolaus Dister dan Maria Katarina. Ia memiliki dua orang saudara kandung bernama Lily Dister dan Josef Dister. Ketika di kelas VII -X, Sekolah Menengah Umum, Nico mendapat pengajaran agama dari dua guru agama, yang kedua-duanya diidolakan yakni, Pastor Hari Mulders, SJ dan Laetus Keulaerds OFM.
Tahun 1954, Nico mengikuti rombongan siswa berziarah ke Lourdes. Pada saat itu, ia sudah berkeinginan untuk menjadi seorang pastor dalam Gereja Katolik. Dalam berjalanan tersebut ia timbang-menimbang antara menjadi imam Serikat Yesus (SJ) atau Fransiskan (OFM). Menurut pendapat pastor Hari Mulders SJ, ia dilahirkan untuk menjadi Yesuit. Karena tidak yakin akan tujuan kelahiran yang disebut putra St. Ignasius itu, Nico mulai membaca riwayat hidup St. Ignasius dan St Fransiskus dari Asisi.
Merasa tertarik dengan biografi dari St. Fransiskus Asisi, pada 1955, ketika berada di kelas XI – XII, dengan bantuan putra St. Fransiskus, Nico pindah ke kolese Misi yang merupakan salah satu dari ketiga Seminari Menengah Fransiskan di Belanda.
Setelah masa timbang-menimbang itu, pada tahun 1957, Nico memasuki masa novisiat OFM, sebuah tempat untuk memulai hidup religius yang juga sebagai jalan menjadi imam dari tarekat religius.

Dari tahun 1958 hingga 1965, Nico memasuki pendidikan calon imam selama enam tahun. Pada saat itu yang dipelajari adalah filsafat, teologi dan ilmu pengetahuan alam. Sebagai Saudara Muda, sebutan dalam tarekat OFM itu, Nico amat terkesan oleh pengajaran konfrater Hans (Donulus) van Munster, OFM, ahli filsafat Kierkegaard dan di kemudian hari menjadi sekretaris KWB (Konferensi Waligereja Belanda). Selain sebagai dosen filsafat di philosophicum fransiskan Belanda di Venray, tempat Saudara Muda OFM berstudi, saudara Donulus juga Magister Saudara Muda (1958-1959).
Saudara Donulus memberi Nico dan teman-temannya pengajaran agama dengan judul: “Kernvragen rond het Christendom” (Pertanyaan inti sekitar Agama Kristiani). Karena bahan ajaran magister ini, Nico merasa sedemikian gembira dan bersyukur menjadi seorang Kristiani. Ini juga yang mendorongnya untuk memberikan sukacita kepada orang lain dari negara lain. Pengajaran dari magister inilah yang paling menginspirasi Nico untuk dapat membatinkan semangat zaman untuk bermisi.
Dalam semangat untuk menjadi misionaris, Nico ditabiskan imam 8 Maret 1964. Ia tak langsung diutus ke tanah misi. Ia harus mempersiapkan diri menjadi misionaris yang handal dalam waktu yang lebih panjang. Karena itu, dari tahun 1965 hingga 1968, Nico menempuh studi lanjut filsafat di Univesitas Katolik Leuven (Belgia) dengan perhatian khusus untuk psikologi dan sejarah filsafat.
Filsafat rupanya bukan titik akhir studinya, pada 1968 hingga 1971, ia menempuh pendidikan spesialis dalam bidang teologi di Wilhelmsuniversitaet, kota Muenster, Jerman di mana waktu itu Karl Rahner dan Johan-Baptst Metz mengajar. Dalam periode studinya di Jerman ini Nico menyelesaikan disertasi untuk Universitas Leuven di mana mendapat promosi doktor pada tahun 1972. Disertasinya berkenaan dengan Coincidentia Oppositorum in Deo/ in Infinito (Pertentangan saling Bertindih di dalam Allah atau di dalam Yang Tak Terhingga).
Negeri Misi
Gelora misi rupanya tak memberikan jedah bagi studinya yang panjang. Tahun itu juga berangkat ke Indonesia untuk mengajar di STF Driyarkara. Beliau mengajar Teologi Dasar, Psikologi Agama dan Metafisika. STFT FT. Sejak tahun 1977 ia merangkap sebagai dosen Sekolah Tinggi Kateketik “Karya Wacana” (Jakarta).
Hidup yang adalah misi tak menghentikannya untuk berkarya di luar ibu kota negara. Tahun 1983, ia bermisi ke ufuk paling timur Nusantara. Ia dipanggil untuk mengajar pada Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur”, Papua, sambil juga membantu di STF Driyakara, Jakarta.
Sebagai tenaga pengajar di STFT Fajar Timur, ia menempatkan diri sebagai seorang pengajar hingga tahun 2023, di mana beliau secara formal mengakhirinya dengan kuliah umum penutup. Ia hadir sebagai seorang gembala para mahasiswa dan mahasiswi. Apa yang dikerjakan di sana meliputi cukup banyak bidang studi. Hal ini disebabkan pada era itu, STFT Fajar Timur tidak memiliki tenaga yang cukup dalam bidang akademis.
Nico mengajar banyak matakuliah teologi dan filsafat. Di bidang teologi beliau mengajar pengantar teologi, kristologi, sejarah dogma, pneumatologi. Di bidang filsafat dia mengajar pengantar filsafat, sejarah filsafat, metafisika, filsafat manusia dan filsafat ketuhanan. Di samping mengajar dia juga menjabat pimpinan SFTF Fajar Timur dari 1984 hingga 1988 dan ketua satu bidang akademik pada dari 1994 hingga 1998.
Puncak karir akademisnya tercapai pada 4 Juni 2005. Di Auditorium Universitas Cendrawasih, ia memberikan pidato pengukuhan dan dikukuhkan sebagai professor teologi. Hingga kini, dialah yang mengukir sejarah tertinggi itu pada STFT Fajar Timur. Pidato pengukuhannya berjudul: Penghubung antar Agama Maria dalam Alkitab dan Al-Quran serta Penghormatan terhadapnya dalam Tradisi Kristiani dan Islami. Konon, ia sudah harus menjadi professor pada awal 1990-an. Namun karena kesalahan administrasi pengukuhan itu baru terwujud pada 2005.

Pada 2009, ketika penulis mulai membantu sebagai tenaga pengajar di STFT Fajar Timur, Nico sudah tidak berstatus sebagai dosen tetap. Namun sumbangsih untuk kampus tak berhenti karena status pekerjaan. Ia terus memberikan kuliah manakalah dibutuhkan dan memberikan masukan yang perlu bagi pengembangan STFT Fajar Timur. Seringkali ia dibutuhkan karena tenaga pengajar masih tetap tidak mencukupi. Pernah ketika kami meminta Saudara Nico mengajar untuk mata kuliah filsafat ketuhanan, ia sempat bertanya balik, “Apakah kamu sudah mencari seluruh Indonesia?” Meski dengan pertanyaan tersebut, ia tetap menyatakan kebersediaannya.
Pada 11 November 2023, beliau mengakhiri kehadirannya di STFT Fajar Timur secara definitif. Karena beliau memulainya pada tahun 1983 sebagai pemberi kuliah, maka ia mengakhirinya dengan memberi kuliah umum. Kuliah yang merangkul karya filsafat Kristianinya itu diberi judul: Filsafat Ketuhanan dan Teologi Dasar: Menanyakan Adanya Allah, Sifat-nya dan Dibiarkan-nya Derita di Dunia padahal Ia Mahabaik, (Makalah Seminar Dosen SFTF Fajar Timur, 11 November 2023).
Harus diakui bahwa kehadirannya di STFT Fajar Timur begitu berarti. Ia termasuk yang membangun sistem pendidikan sarjana yang berbasiskan SKS dan memulai membuka diri bagi akreditasi. Pada tahun 1998, di bawah kepemimpinannya sebagai ketua bidang akademik STFT Fajar Timur mendapat akreditasi B.
Di seantero Indonesia, ia dikenal sebagai tokoh psikologi agama. Ia menulis paling kurang empat buku di bidang psikologi tersebut. Secara khusus di dalam kekristenan ia dikenal sebagai seorang teolog yang handal secara khusus di bidang teologi sistematik. Karya-karya di bidang teologi merupakan karya yang monumental yang amat komprehensif dan untuk sebagian dapat dikatakan tak tergantikan. Di samping karya-karya teologi, ia juga memberikan sumbangsing di dalam bidang filsafat secara khusus filsafat agama Kristiani dan metafisika.
Karya-karyanya tidak hanya berurusan dengan tiga bidang tersebut. Ia adalah seorang religius yang banyak memberi kontribusi pada bidang hidup religius secara khusus kefransiskan (ilmu yang terkait dengan spiritualitas fransiskan). Ia menulis baik buku maupun tulisan-tulisan lain yang terkait dengan kehidupan fransiskan dan hidup religius pada umumnya. Pada bidang ini, ia tidak hanya memberikan kontribusi pada bidang kognitif, tetapi ia adalah orang terlibat langsung dalam menghidup kitab suci seturut teladan St. Fransiskus Asisi. Tak mengherankan selain di bidang akademis, ia banyak mencurahkan waktunya untuk memberikan perhatian pada anak yatim piatu dan para janda di bawah Yayasan Yapukepa, di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura.
Di daerah inilah, Biara Santo Antonius, ia tinggal dan mengisi hari-hari hidupnya menerjemahkan karya-karya teologis, secara khusus Agustinus dan melayani orang-orang kecil. Semua itu dijalankan dengan sebuah irama hidup yang amat jelas dan konsisten. Ia adalah orang yang hidup dengan program yang jelas. Salah satu contoh yang paling jelas adalah ia merencanakan kuliah dan menjalankan kuliah sesuai dengan waktu dan bahan yang disediakan. Bahan yang disediakan selalu diselesaikan tepat pada saat lonceng tanda kuliah berakhir.
Saudara Nico merupakan sosok yang jarang untuk berekreasi. Di pesawat pada saat perjalanan dan di pinggir pantai pada saat rekreasi, ia masih sibuk dengan pekerjaan mahasiswa atau skripsi yang harus diperiksa. Ada yang berguyon bahwa rekreasinya adalah mengendarai mobil.
Kembali pada karya-karya di bidang keilmuan, karya-karyanya menyebar dalam berbagai bidang. Jika merunut pada karya besarnya, ia menghasilkan karya intelektual yang bermutu tinggi. Antara lain 12 buku pribadi, 4 buku bersama, 15 Journal dan 53 tulisan lainnya.
Ia pada awal tahun 1980 berkecimpung dalam bidang psikologi, yang kemudian diperbaharui lagi pada tahun 2022. Selanjutnya, pada pertengahan hingga akhir tahun 1980, ia memberikan perhatian pada bidang filsafat. Pada tahun 1990, ia berkonsentrasi secara luar biasa pada bidang teologi.
Setelah kembali ke negeri Belanda, tak banyak informasi lagi yang diketahui selain satu dua cerita dan salam. Pada 12 April, Minggu pagi, 2026 kita mendapat informasi bahwa Saudara Nico telah dipanggil saudari maut, sebutan para Fransiskan untuk kematian, yang dilihat sebagai transitus ke kelahiran ke dalam keabadian. Ia meninggalkan kita dari muka bumi ini secara fisik pada 11 April 2026 di negeri Belanda pada usia ke 86 tahun.
Simpulan: Sang Itinerium Mentis in Deum
Wajar pada akhirnya hidupnya kita menyimpulkan siapa beliau. Kehidupannya memperlihatkan itinerarium mentis in Deum. Jiwa rasional dan jiwa kehendaknya adalah sebuah peziarahan menuju pada yang ilahi. Ia memberikan kesaksian intelektual yang amat sistematis, konsisten, koheren dan mendalam. Kesaksian intelektual itu beriringan secara seimbang dengan kerendahan hati pelayanan yang luar biasa. Pun orang yang biasa menipunya tetap dilayaninya dengan kasih yang sama.
Ia terdidik secara filsafati. Namun filsafatnya adalah filsafat yang berkerangka rohani. Ini adalah warisan dari style pemikiran Fransiskan, Abad Pertengahan yang tak memisahkan diri dari model neoplatonis Agustinian. Filsafat adalah pelayan teologi sebagai ilmu tertinggi.
Berkaca pada semangat Bonaventura, Tuhan itu pasti. Jika kita hendak mempertanggungjawabkan keberadaan Tuhan, kita sudah memiliki sensus akan yang ilahi. Sensus itu sudah terpatri di dalam jiwa. Pembuktian ala Thomistik hanyalah peneguhan terhadap kerinduan asali jiwa untuk beristiriahat di damaiNya. Kenyataan kosmik adalah jejak dan gambaran yang substansinya sudah dikenal jiwa, yakni yang ilahi.
Peta kosmik bukanlah data tetapi pengalaman eksistensial yang telah dijejaki dan dihidupi. Hidup saudara Nico S. Dister memperlihatkan secara sungguh hidup kenyataan orang yang beriman dan berilmu dalam kerendahan hati pelayanan akademis dan sosial kemasyarakatan yang profesionalismenya tiada tara.
Editor: Basilius Triharyanto
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.