Arca Bunda Maria Diarak oleh Ribuan Umat Katolik dan Muslim Menyusuri Jejak Sejarah Misi Katolik Papua di Fakfak

0 14

Fakfak, Katolikana.com – Hari ini, Jumat, 22 Mei 2026, peristiwa bersejarah dan penuh makan, umat Katolik dan Muslim berbaur dalam persaudaraan di momen perayaan Ribuan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang dipusatkan di Kabupaten Fakfak.

Perarakan diawali sejak pukul 06.00 WIT di Rumah Kapitan, Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak. Prosesi adat dilaksanakan oleh keluarga besar umat Islam Kampung Sekru sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan dalam menyambut perayaan iman umat Katolik di Tanah Papua.

Kegiatan tersebut dihadiri Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, para imam dari perwakilan lima keuskupan di Regio Papua, Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong Pastor Izaak Bame, Pr, para pastor se-TPW Fakfak, tokoh agama, tokoh adat, panitia HUT 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua, keluarga besar umat Islam Kampung Sekru, serta umat Katolik dari Kampung Torea.

Uskup Keuskupan Timika Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA bersama rombongan melakukan prosesi ada minum kopi brsama di Rumah Kapitan yang menyimbolkan persaudaraan umat Katolik dan Muslim. Foto: Dokumentasi Panitia/Katolikana.

Prosesi adat yang dilanjutkan dengan minum kopi bersama di Rumah Kapitan menjadi simbol kuat silaturahmi dan persaudaraan lintas agama yang terus dijaga masyarakat Fakfak. Rumah Kapitan Kampung Sekru sendiri memiliki nilai sejarah penting karena menjadi tempat pertama Pastor Cornelis Johannes Le Cocq d’Armandville, SJ, singgah saat tiba di Tanah Papua.

Dalam catatan sejarah, Pastor Le Cocq d’Armandville diterima dan diizinkan tinggal sementara oleh keluarga Kapitan yang saat itu telah memeluk agama Islam. Dari tempat tersebut kemudian dimulai karya misi Katolik di Tanah Papua, termasuk pembaptisan pertama terhadap 73 anak.

Suasana toleransi dan kebersamaan tampak begitu kuat sejak awal kegiatan. Warga Muslim dan umat Katolik berjalan berdampingan mengikuti seluruh rangkaian prosesi dalam semangat filosofi hidup masyarakat Fakfak, “Satu Tungku Tiga Batu.”

Usai prosesi adat, para remaja masjid dan tokoh umat Islam Kampung Sekru mengantarkan Mgr. Bernardus Bofitwos Baru bersama rombongan melalui jalur laut menuju lokasi bersejarah tempat Pastor Le Cocq d’Armandville pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Papua. Foto: Dokumentasi Panitia/Katolikana.

Tim Dokumentasi Panitia melaporkan kepada Katolikana.com, setelah prosesi adat, para remaja masjid dan tokoh umat Islam Kampung Sekru mengantarkan Mgr. Bernardus Bofitwos Baru bersama rombongan melalui jalur laut menuju lokasi bersejarah tempat Pastor Le Cocq d’Armandville pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Papua.

Setibanya di lokasi tersebut, rombongan disambut umat Katolik yang telah menunggu di pesisir Kampung Sekru.

Bunda Maria Diarak di Kampung Muslim

Sejumlah prosesi kemudian dilaksanakan, di antaranya penyerahan rosario oleh uskup kepada masyarakat Kampung Torea yang diyakini merupakan bagian dari keturunan 73 orang pertama yang dibaptis oleh Pastor Le Cocq d’Armandville. Kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama di lokasi injak pertama pastor tersebut di Tanah Papua.

Selanjutnya, arak-arakan Rosario Arca Bunda Maria sekaligus napak tilas 132 Tahun Misi Katolik dimulai dari Kampung Sekru menuju Kampung Raduria melalui jalur darat sejak pukul 08.00 WIT. Ribuan umat mengikuti perarakan dengan penuh doa dan penghormatan.

Uskup Timika Mgr. Bernard menyalami warga kampung Sekru. Foto: dokumentasi panitia/Katolikana

Menariknya, kegiatan tersebut juga dihadiri umat Muslim Kampung Sekru yang sejak pagi berkumpul di pesisir kampung untuk menyambut rombongan peserta napak tilas. Anak-anak, remaja masjid, ibu-ibu, hingga para tua-tua adat Muslim tampak berjalan bersama umat Katolik dalam suasana penuh rasa hormat dan kekeluargaan.

Bagi masyarakat Muslim Kampung Sekru, sosok Bunda Maria atau Sayyidah Maryam merupakan figur suci yang dihormati dalam ajaran Islam.

“Beliau dihormati karena kesucian, ketaatan beribadah, serta mukjizat luar biasa dari Allah SWT saat melahirkan Nabi Isa AS tanpa pernah disentuh laki-laki,” ujar Saida, salah seorang warga Kampung Sekru.

Perjalanan napak tilas 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua dan perarakan Rosario yang membawa Arca Bunda Maria menuju Goa Maria terus berlanjut. Sepanjang jalur perarakan, ribuan umat Katolik dan masyarakat Fakfak tampak memadati sisi jalan untuk menyaksikan sekaligus mengikuti prosesi tersebut.

Ribuan umat Katolik dan Muslim mengikuti perarakan dan napak tilas jejak sejarah Katolik di Kampung Sekru, Fakfak. Foto: Dokumentasi Panitia/Katolikana

Di Kampung Raduria, Arca Bunda Maria disinggahkan sejenak untuk pelaksanaan prosesi adat dan doa bersama di salah satu rumah bersejarah yang diyakini pernah menjadi tempat tinggal Pastor Le Cocq d’Armandville saat berada di kampung tersebut.

Kampung Raduria dipilih sebagai salah satu titik penting napak tilas sejarah misi Katolik karena menjadi lokasi persinggahan kedua Pastor Le Cocq d’Armandville setelah tiba dari Sekru.

Dalam perjalanan sejarahnya, pastor tersebut sempat meninggalkan Fakfak dan mengunjungi Bomfia di Seram, Kasegui, hingga Langgur di Kepulauan Kei. Setelah kembali ke Fakfak, ia bermalam di Kampung Raduria sebelum melanjutkan karya misi hingga membuka pos misi kedua di Pulau Bonyom.

Setelah prosesi di Raduria selesai, arak-arakan Rosario dan napak tilas dilanjutkan melalui jalur laut menuju Pulau Bonyom. Ribuan umat, para pastor, suster, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama mengikuti perjalanan tersebut dengan penuh khidmat.

Para rombongan menyeberang ke Pulau Bonyom untuk menjejak situs sejarah misi Katolik pertama di Tanah Papua. Foto: Dokumentasi Panitia/Katolikana.

Pulau Bonyom sendiri merupakan salah satu situs penting sejarah misi Katolik di Tanah Papua karena masih menyimpan peninggalan sumur tua yang diyakini dibuat pada masa Pastor Le Cocq d’Armandville. Saat ini, pulau tersebut tengah dipersiapkan sebagai kawasan wisata religius dan rohani.

Sesampainya di Pulau Bonyom, Arca Bunda Maria kemudian ditempatkan di Goa Maria yang baru saja dibangun sebagai bagian dari situs religi dan sejarah misi Katolik di Tanah Papua. Prosesi penempatan Arca Bunda Maria dipimpin langsung oleh Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., didampingi Pastor Izaak Bame, Pr., para pastor tamu, pastor paroki se-TPW Fakfak, para suster, serta ribuan umat yang memadati kawasan Pulau Bonyom.

Momentum tersebut menjadi gambaran nyata harmonisasi kehidupan beragama di Kabupaten Fakfak, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya terus menjaga persatuan, toleransi, dan warisan persaudaraan yang hidup turun-temurun di Tanah Papua

Leave A Reply

Your email address will not be published.