Katolikana.com – Saulus dari Tarsus bukanlah musuh biasa. Ia adalah penganiaya yang bernapaskan ancaman dan pembunuhan terhadap murid-murid Yesus (Kisah 9:1).
Namun di jalan menuju Damsyik, terang dari surga menjatuhkannya. Suara Yesus yang bangkit bertanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”
Saat itu juga, ia mulai melihat—bukan dengan mata jasmani, tetapi dengan hati yang diubah secara radikal.
Pertobatan heroik
Pertobatan Paulus bersifat heroik karena melawan seluruh arus hidupnya. Ia bukan sekadar mengganti agama, melainkan mati terhadap harga diri, karier, dan keamanan sebagai seorang Farisi terhormat.
Dari pemburu umat, ia menjadi buronan bagi bekas sekutunya. Dari pembenci nama Yesus, ia menjadi pemberita yang rela dipenjara, disesah, dan akhirnya dimartir.
Inilah keberanian sejati: memilih kehilangan segalanya demi Kristus yang sebelumnya ia aniaya.
Pertobatan historis
Bersifat historis karena satu pertobatan mengubah peta peradaban. Tanpa Paulus, Injil mungkin tetap tersimpan di Yerusalem. Namun berkat dia, kabar keselamatan menyeberang ke Eropa, menjangkau bangsa-bangsa non-Yahudi, dan membentuk dunia yang kita kenal kini.
Bayangkan jika Saulus tidak dihentikan—sejarah Barat, hukum, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan akan berbeda total.
Meninggalkan jalan lama
Kisah ini mengingatkan bahwa Yesus adalah roti hidup (Yohanes 6:51). Paulus memakan roti itu—memercayai daging dan darah Kristus sebagai sumber hidup kekal. Maka ia tidak lagi hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalamnya.
Pertobatan heroik tidak harus dramatis seperti Paulus, tetapi selalu radikal: meninggalkan jalan lama demi terang sejati. Dunia berubah karena satu orang berani berkata, “Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?”
Apakah kita sungguh bertobat dan siap menjadi alat-alat yang ditunjuk Tuhan untuk mewartakan Yesus dalam hidup kita?
Jumat, 24 April 2026
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.