Mencintai Tugas Pelayanan: Petugas Liturgi Paroki St. Yosef Palembang Dalami Spiritualitas Keheningan Santo Yosef

0 17
RD Gading Johanes Sianipar saat memimpin ekaristi kudus saat rekoleksi petugs liturgi St Yoseph Palembang di gedung serbaguna Santo Louis Sukabangun Jumat, (1/5/2026) (Foto; Daris)

PALEMBANG, Katolikana.com   –  Enam puluh petugas liturgi atau pelayan awam yang terdiri dari Prodiakon, Pemazmur, dan Lektor Paroki Santo Yosef Palembang mengikuti rekoleksi pembinaan rohani di Gedung Serbaguna St. Louis Sukabangun  pada Jumat, (1/5/2026) pukul 08.00 – 13.00 WIB. Mengangkat tema “Mencintai Tugas Pelayanan,” kegiatan ini bertujuan memurnikan kembali motivasi para petugas agar tidak terjebak pada rutinitas teknis, melainkan sungguh menjadi persembahan hidup yang tulus.

Foto bersama Peserta rekoleksi petugas liturgi Paroki Santo Yoseph Palembang Jumat,(1/5/2026) (Foto: Daris)

Keheningan yang Menghidupkan

Narasumber rekoleksi, RD Gading Johanes Sianipar, mengajak peserta menyelami spiritualitas Santo Yosef sebagai pelindung Gereja Semesta. Dalam paparannya yang merujuk pada Apostolik Patris Corde dan Redemptoris Custos, beliau menekankan sosok Santo Yosef sebagai teladan bagi para pelayan altar.

“Santo Yosef adalah tokoh yang tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam Kitab Suci, namun ia melaksanakan kehendak Allah secara radikal. Pelayanan liturgi pun demikian; tidak membutuhkan suara yang keras untuk mencari panggung, melainkan hati yang tulus untuk menjaga kekudusan perayaan ekaristi,” ungkap Romo Gading.

Beliau menambahkan bahwa pelayanan seksi liturgi harus bersumber dari relasi personal dengan Kristus. Mengutip Efesus 6:7, ditegaskan bahwa segala pelayanan yang dilakukan haruslah terarah kepada Allah, bukan untuk pujian manusia.

RD Gading Johanes Sianipar saat memberikan materi tentang Santo Yoseph yang sedang tidur kepada peserta rekoleksi petugas liturgi gereja St Yoseph Palembang ( Foto: Daris)

Mewujudkan Gereja Sinodal

Koordinator Bidang Liturgi, Yohanes Suwarto, menjelaskan bahwa rekoleksi ini merupakan implementasi dari semangat Gereja Sinodal. “Kita dipanggil untuk Bangkit dan Bergerak Bersama. Sebagai petugas liturgi, kita tidak berjalan sendiri, tetapi berjalan bersama umat dari tingkat KBG hingga Keuskupan. Pelayanan kita adalah bukti nyata dari iman, harapan, dan kasih yang hidup,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Ambrosius Anto Suprihanto, perwakilan Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yoseph Palembang. Ia mengingatkan bahwa menjadi Prodiakon, Lektor, atau Pemazmur adalah sebuah panggilan, bukan paksaan. “Seorang petugas harus menghidupi doa dan devosi. Rajin merenungkan Kitab Suci dan setia dalam merayakan Misa adalah bahan bakar utama agar tugas sebagai asisten imam tidak menjadi kering,” pesan Anto kepada para peserta.

Suasana misa perutusan bagi petugas liturgi gereja St Yoseph Palembang (Foo: Daris)

Profesionalisme dalam Kekudusan

Selain aspek batiniah, rekoleksi ini juga menyoroti pentingnya persiapan teknis yang matang sebagai bentuk penghormatan terhadap misteri keselamatan. Sinergi antara berbagai kelompok mulai dari putra altar hingga paduan suara serta pemeliharaan sarana liturgi seperti bejana dan kain altar, dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari kualitas iman seorang pelayan.

Kegiatan rohani ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi dan pembaruan janji pelayanan. Melalui rekoleksi ini, diharapkan para petugas liturgi di Paroki St. Yosef Palembang dapat kembali ke tengah umat dengan semangat baru, melayani dengan hati seorang bapa seperti Santo Yosef, serta menghadirkan suasana ibadat yang khidmat bagi seluruh umat Allah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.