LEKAS Perkuat Strategi Transformasi Pembelajaran: Catatan Rapat Kerja

0 65
LEKAS fokus perkuat strategi transformasi pembelajaran (foto: AA Kunto A)

Katolikana.com–Pendidikan dan pelatihan “Transformasi Sekolah Katolik” LEKAS (Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang) sudah berlangsung dalam 3 batch. Ada 290 peserta yang sudah mengikuti, terdiri dari 56 pengurus yayasan, 73 kepala sekolah, dan 161 guru junior-medior. Secara khusus, diklat LEKAS diperuntukkan bagi sekolah-sekolah katolik di Keuskupan Agung Semarang. Namun, beberapa sekolah di keuskupan lain tercatat juga mengirimkan peserta.

Pengurus LEKAS menggelar rapat kerja di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, 9-10 Mei 2026, untuk mengevaluasi perjalanan diklat dan dampak yang sudah dibuahkannya. Hadir dalam raker ini Kepala UPP Pendidikan KAS Romo Deny Sulistiawan, Ketua LEKAS Ferdinand Hindiarto, dan fasilitator LEKAS: Romo CB Mulyatno, Romo Singgih Guritno, T Sarkim, R Rohandi, Titus Odong Kusumadjati, HJ Sriyanto, Risang Baskara, Albert Harimurti, dan AA Kunto A. Berikut beberapa catatan dari pertemuan ini.

Menembus Dinding Yayasan

Diskusi dinamis terjadi saat membedah level yayasan. Ada tantangan besar bagaimana menyelaraskan program LEKAS dengan agenda prioritas yayasan.

Romo Singgih Guritno menyoroti urgensi perubahan pola pikir. “Pola kerja yayasan rata-rata masih volunteer, sehingga yang dibahas melulu soal masalah,” ungkapnya dalam rapat tersebut. Senada dengan itu, Sarkim melihat banyak yayasan yang energi dan sumber dayanya terbatas, bahkan tidak memiliki divisi khusus untuk mengawal pengembangan SDM maupun pengembangan pembelajaran.

Sebagai solusi, LEKAS memutuskan untuk memberikan “pendampingan personal”. Ke depan, peserta akan dibekali template kerja yang konkret agar hasil diklat tidak hanya berakhir di tumpukan kertas, melainkan menjadi panduan praktis yang selaras dengan kebijakan yayasan.

LEKAS dorong perubahan dari pemimpin administratif menjadi pemimpin pembelajaran (foto: Esa Marhendra)

Kepala Sekolah: Keluar dari Zona Administratif

Di kelas kepala sekolah, diagnosisnya cukup telak: mayoritas pemimpin sekolah masih berkutat dalam kerja-kerja administratif dan ketakutan berlebih terhadap regulasi.

Ferdinand Hindiarto mengusulkan strategi radikal berupa shock therapy di awal pelatihan. Menggunakan data-data pendidikan global yang kontras dengan realitas lokal, para kepala sekolah diharapkan terpacu untuk berubah dari pemimpin administratif menjadi pemimpin pembelajaran.

Mindset harus bergeser dari sekadar mengejar angka (numbers) menuju kualitas,” timpal Romo Singgih. Ia mencontohkan, sekolah-sekolah yang memiliki kualitas unik akan lebih mudah mendapatkan dukungan publik daripada sekolah yang hanya berkutat pada masalah finansial akibat kekurangan murid.

Guru dan Laboratorium Mini PLC

Sementara itu, di level guru, fokusnya adalah memulihkan gairah pedagogi. Ada temuan yang perlu dibenahi bagaimana teknologi tidak justru mengerdilkan imajinasi guru.

LEKAS pun merancang penguatan pada dasar-dasar pedagogi dan critical thinking. Salah satu temuan menarik dalam evaluasi adalah masih lemahnya kemampuan guru dalam menganalisis hasil belajar siswa sebagai bahan refleksi. Untuk itu, model Professional Learning Community (PLC) akan terus diperkuat sebagai wadah kolaborasi antar-guru agar mereka mampu mengidentifikasi kebutuhan siswa secara lebih presisi dan utuh.

LEKAS ajukan kurikulum holistik yang dimulai dari pendidikan usia dini (foto: AA Kunto A)

Pilot Project di Level Pendidikan Dini

Sebagai langkah konkret, LEKAS akan mendampingi satu sekolah sebagai pilot project. Sekolah ini dipilih karena, saat dikunjungi LEKAS tempo hari, kepemimpinan kepala sekolahnya progresif. Gurunya semangat. Dukungan pastor paroki juga kuat. “PLC sudah berjalan,” nilai Risang mengenai bagaimana materi di LEKAS langsung mereka implementasikan dan berdampak perubahan.

LEKAS akan mendampingi penyusunan kurikulum yang khas, yakni kurikulum holistik yang dimulai dari pendidikan usia dini. Kurikulum ini mencakup secara utuh aspek kognitif, sosial, dan moral. Dalam waktu dekat, LEKAS akan menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan bagi sekolah tersebut. Tujuannya jelas, yakni menciptakan rujukan nyata bagi sekolah-sekolah lain di Keuskupan Agung Semarang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.