Peziarah dari Paroki Santo Michael Bandung lakukan Ziarah di Gerbang Maria dan Kapel Adorasi Paroki Santo Paulus Kleco Solo

0 12

Surakarta, Katolikana.com – Peziarah dari Paroki Santo Michael, Waringin, Bandung yang tergabung dalam rombongan empat bus, dengan peziarah 181 orang, melakukan perjalanan ziarah di tempat ziarah Poh Sarang Kediri, Surabaya – Madura, Madiun, Tawangmangu, lalu ke Gereja Santo Paulus Kleco Solo (dalam perjalanan pulang ke Bandung).

Kunjungan ziarah dilakukan pada Minggu (31/5/2026) bersamaan dengan hari terakhir penutupan Bulan Mei sebagai Bulan Maria.

Rombongan pernah berziarah di Gua Maria Mojosongo Solo, kini ke Gereja Santo Paulus Kleco. Di Gereja Kleco peziarah berdoa di depan Gerbang (Kori) Maria dan Kapel Adorasi.

“Selama kunjungan di Gereja Kleco, suasana cukup hening meskipun peserta cukup banyak, secara pribadi bisa berdoa di Gerbang Maria dan Kapel Adorasi”, ungkap Pastor Telesforus Nugroho Krisusanto, SS.CC Pastor Paroki Santo Michael, Waringin, Bandung.

Hal yang sama diungkapkan Theresia Gunawan yang menyatakan damai dan penuh sukacita bisa berziarah di Gerbang Maria dan Kapel Adorasi.

Sementara itu Rudi, salah satu pengurus DPPH Paroki Santo Michael, Waringin, Bandung menyatakan suasana sangat nyaman, tempat cukup besar. “Di Gereja Kleco kami sangat tertarik dengan adanya Kapel Adorasi, tempat doa di depan Bunda Maria, bunga-bunya yang bagus dan para peserta ziarah dari paroki kami merasa nyaman berada di Kleco”, kata Rudi.

Dengan adanya Gerbang Maria dan Kapel Adorasi, Paroki Santo Paulus Kleco Solo, akhir-akhir ini, sering manerima kunjungan ziarah dari berbagai komunitas dan paroki dari berbagai luar kota.

Peziarah bergantian memasuki Kapel Adorasi untuk berdoa di Kapel Adorasi Gereja Santo Paulus Kleco Solo, Minggu (31/5/2026)

Gereja Santo Paulus Kleco sebagai tempat ziarah
Paroki Santo Paulus Kleca memiliki kekhasan yang kuat dalam mengintegrasikan iman Katolik dengan budaya lokal Jawa-Nusantara. Kekhasan ini diwujudkan secara konkret melalui konsep ruang devosi yang terpadu, khususnya dalam Kapel Adorasi, Gapura Wening, dan Kori atau Gerbang Maria, yang dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan spiritual umat.

Konsep utama yang mendasari keseluruhan tata ruang adalah poros spiritual: Per Mariam ad Iesum – melalui Maria menuju Yesus.

Prinsip ini diwujudkan dalam susunan ruang yang mengikuti hirarki spiritual Jawa: Nista – Madya – Utama, yang menggambarkan perjalanan iman manusia. Nista yaitu manusia datang dengan segala keterbatasannya. Madya adalah proses pertobatan dan doa. Utama berarti perjumpaan dengan Allah.
Perjalanan ini secara konkret dialami umat melalui elemen-elemen ruang sebagai berikut:

Peserta ziarah dari Paroki Santo Michael Bandung rehat di Gereja Santo Paulus Kleco Solo.


Kori atau Gerbang Maria
Kori menjadi pintu masuk menuju ruang yang lebih dalam, sekaligus simbol awal perjalanan rohani. Pada bagian ini ditempatkan patung Bunda Maria sebagai sosok yang menyambut dan mendampingi umat. Maria dihadirkan sebagai ibu yang lembut, yang mendoakan dan mengantar umat untuk datang kepada Tuhan. Area ini juga menjadi tempat devosi kepada Bunda Maria, menegaskan perannya sebagai pengantar dalam perjalanan iman.

Gapura Wening
Gapura ini menjadi simbol peralihan batin, dari kehidupan sehari-hari menuju suasana hening. Kata “wening” bermakna kejernihan dan keheningan batin, yang dalam tradisi Jawa merupakan bagian dari laku rohani. Dengan demikian, melewati gapura ini tidak hanya berarti berpindah tempat, tetapi juga memasuki kesadaran spiritual yang lebih dalam.

Gerbang (Kori) Maria di Gereja Santo Paulus Kleco Solo menjadi tempat doa yang dikunjungi peziarah pada Bulan Mei Bulan Maria.

Kapel Adorasi
Kapel ditempatkan pada hirarki tertinggi sebagai ruang utama (utama), melambangkan tempat perjumpaan pribadi dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

Bentuk arsitekturnya mengadopsi pendhapa dengan atap tajug, yang dalam tradisi Jawa digunakan untuk bangunan sakral.

Kapel ini menjadi pusat kontemplasi, tempat umat berdoa secara hening dalam adorasi, memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan.
Keseluruhan bangunan menggunakan material bata terakota, yang tidak hanya mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga memiliki makna simbolis: mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian (2:7).

Leave A Reply

Your email address will not be published.