28 Frater 4 Keuskupan Regio Papua Terima Jubah Putih, Uskup Bernard: Simbol Kemurnian, Kejujuran, dan Ketulusan

0 20

Nabire, Katolikana.com – Di hadapan altar Tuhan yang kudus para keluarga, para umat dari berbagai daerah berkumpul untuk menyaksikan dan mendoakan para Frater  yang akan melangkah ke babak baru dalam ziarah panggilan hidupnya. Suasana yang begitu khikmat dengan misa tradisi katolik Roma itu mengantarkan 28 orang Frater dari empat Keuskupan Se-Regio Papua.  

Upacara penerimaan jubah bukan sekedar berganti pakaian lahiriah bagi seorang calon imam akan tetapi jubah adalah simbol penyerahan diri secara total. Memaknai penjubahan juga merupakan tanda pertobatan dan kesediaan untuk mengenakan Kristus dalam seluruh pikiran, perkataan dan perbuatannya. Penjubaan bagi frater berlangsung di Gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, 2 Juni 2026.

Pesan yang disampaikan dari dewan Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) bahwa helai kain jubah bagi para Frater diingatkan untuk mati bagi keinginan duniawi dan hidup sepenuhnya bagi Allah dan menjadi pelayan umatnya.

Kita tahu bahwa jalan panggilan ini tidak pernah dilewati sendirian.Di balik jubah yang mereka kenakan hari ini adalah doa-doa yang tidak putus dari orang tua keluarga para pembina dan anda sekalian umat Allah. Oleh karena itu marilah kita menyatukan hati memohon agar Roh Kudus menguatkan pundak para Frater kita agar mereka setia, rendah hati dan berani menghidupi makna dari jubah yang mereka terima.

Mgr. Bernardus Baru, OSA bersama Pastor Rektor Seminari TOR  Stepanus Yogi, Pr, Yohanes Sudriyanta, SJ, Yohanes Adriyanto, SJ di depan Altar Gereja KSK pada 2 Juni 2026/Foto: Marinus/Katolikana

Perayaan ekaristi dipimpin oleh pastor selebran umat, Pastor selebran utama Mongsinyur Bernardus Bofitwos Baru,OSA dan didampingi oleh konselebran pastor Stefanus Yogi, Pr, Yohanes Sudriyanto, SJ, Daniel Gobai, Pr, Vincensius Budi Nahibah, Pr, Yoseph Setiadi, Pr, Gunawan, SCJ, Yohanes Adrianto,SJ dan diakon Hendrikus.

Mgr Bernardus Baru, OSA mengatakan bahwa perayaan iman, perayaan panggilan anak-anak kita, adik-adik kita, teman-teman kita. Hari ini menerimakan jubah sebagai satu proses panggilan formasio khusus untuk mengikuti panggilan Tuhan.

Mengutip tokoh-tokoh para rasul dari Injil Yohanes dalam sejumlah perjumpaan, sejumlah dialog yang terjadi antara sejumlah tokoh penting di dalam Alkitab dan ada dari mereka yang menjadi rasul yaitu Petrus.

Mengikut Yesus

Dalam homilinya, Mgr. Bernardus Baru,OSA mengajak umat untuk merenungkan dan mendalami pertanyaan Yesus atau ajakan Yesus sendiri kepada kita semua. Dimana para murid-murid Yesus mengikutinya dan Yesus tahu bahwa mereka mengikuti dari belakang. Untuk mengikut panggilan khusus, ikut dalam panggilan yang lebih partikular ambil bagian dalam tugas-tugas khusus Yesus yaitu tugas imamatnya, tugas penginjilan pewartaan kabar baik dan  kabar sukacita.

Dalam hal  mengikut jalan kebenaran tentu ada tantangan-tantangan yang harus di lewati. Sesungguhnya Yesus bagi mereka yang mau mengikuti dia melalui proses formasi yang membutuhkan waktu, membutuhkan informasi, mempersiapkan metode materi pengajaran pendidikan yang tidak mudah. Oleh karena itu mereka yang hari ini menerimakan jubah tentu melalui proses yang panjang sampai pada  puncak pentabisan imam.

Tentu berjalan bersama dalam misi Kristus untuk mengikut Yesus akan menghadapi godaan dan cobaan sehingga perlu siap secara mental, moral, spiritual. Untuk itu jaga benih-benih baru yang tumbuh dengan baik untuk melanjutkan karya-karya keselamatan di bumi ini.  

Uskup Mgr Bernardus memberkati Salib, Jubah, Rosario dan Alkitab sebelum pemberkatan bagi para Frater pada 2 Juni 2026. Foto: Istimewa/Katolikana

Panggilan Menjadi Selibat

Pesan yang disampaikan Mgr. Bernard juga dalam hal panggilan diajak untuk melihat pertama-tama adalah melihat tentang siapa itu Yesus. Melihat bukan hanya sekedar melihat secara mata biasa, kasat mata kita. Kita lebih fokus melihat mata iman, mata cinta dan mata kasih.

Penglihatan secara vision, secara mistik dan pengalaman-pengalaman spiritual yang digumuli dan dijalani oleh setiap para panggilan yang mengikuti panggilan Tuhan. Oleh karena itu, proses melihat dan dilihat, proses mengenal dan dikenal adalah proses hakiki dan esensial dalam formasi mulai dari informasi dasar, lanjutan studi dan informasi lanjutan setelah jadi imam.  

Prinsip formasi hakiki bagi mereka-mereka yang mengikuti panggilan khusus dalam perjalanan waktu mengalami badai taufan, banyak godaan dan tantangan sehingga dalam perjalanan waktu jatuh tersungkur di jalan licin, di tempat gelap dan seterusnya karena tidak mampu menjaga relasi terus-menerus antara melihat dan melihat antara mengenal dan dikenal antara memahami dan dipahami antara imam sejati.

Mgr Bernardus Baru, OSA mengatakan, “Saudara sekalian semoga mereka dalam formasi hari ini menerimakan jubah dengan simbol putih. Jubah putih itu adalah simbol ketulusan sumber simbol ketulusan hati kemurnian dan kejujuran karena itu Yesus mengatakan kepada Nataniel lain tidak ada kepalsuan di dalam dirimu Yesus.”

Biarawan dan Biarawati sebagai pijakan hidup

Uskup Timika Mgr Bernardus juga menyoroti pentingnya hidup sederhana, jujur dan terbuka kepada umat dan kepada sesama. Kata dia, seorang pastor, seorang biarawan, biarawati yang memilih hidup selibat mengedepankan sifat kejujuran dan keterbukaan dan perhatiannya terbuka dan apa adanya.

“Misalnya, orang yang menjadi pijakan hidup kepada orang banyak mulai muncul krisis kepercayaan. Ini kan kurang baik, maka dengan ini pentingnya, anak-anak yang menerima penjubaan perlunya belajar menanamkan kejujuran dalam diri setiap orang. Sikap polos itu menjadi salah satu nilai utama di dalam panggilan khusus untuk mengikuti Tuhan,” kata Mgr. Bernard.

Menurutnya Tuhan Yesus sendiri mengambil kesempatan untuk berdoa sehingga prinsip imitasi, mengimitasi cara Yesus sendiri bisa menyediakan waktu khusus untuk berdiam dan berdoa, punya waktu untuk diri sendiri untuk berdoa, berdialog dengan Tuhan di tempat yang sepi. Kita membutuhkan waktu kesendirian untuk berdialog dengan Tuhan mendengarkan suara Tuhan dalam diri kita.

Kita seorang imam baik itu biarawan-biarawati kita mesti berbeda karena kita dipilih khusus dan kita membangun relasi khusus membangun intimitasi yang khusus dengan dia dan Yesus menjadikan kita sebagai travelling karena kitalah perpanjangan tangan dia. Kita adalah persona kristen kita adalah alter kristik.

Semoga kedepan punya jadwal untuk berdoa pribadi, punya jadwal untuk membaca kitab suci dan meditasi dan studi beribadah, punya waktu untuk membaca buku-buku rohani pribadi, punya waktu untuk ziarah pribadi, punya waktu untuk pantang puasa, latihan rohani kalau tanpa waktu-waktu itu dibuat seperti itu kita hanya foto copi frater atau suster. Yang di dalamnya adalah penuh dengan racun dan penuh dengan keinginan yang lain yang jahat yang justru membuat kita pada saatnya hancur.

Selanjutnya Mgr. Bernard berpesan kepada para frater yang berasal dari empat keuskupan regio Papua. “Yesus memberikan pernyataan terakhir ikutlah aku maka kita mengikuti dia. Mengikuti semua prinsipmu, pribadinya, karakternya, polanya, metodenya, cara-caranya itu yang kita ikuti.”

“Kita imitasi, kita adopsi dalam diri kita seperti Paulus katakan bukan aku lagi hidup di dalam diriku tapi Kristuslah yang hidup di dalam aku. Kita yang dipanggil secara khusus kita berdoa semoga anak-anak kita ini, teman-teman, adik-adik kita ini yang hari ini mau menerima jubah sungguh-sungguh mengikuti proses ini,” kata Mgr. Bernard.

Leave A Reply

Your email address will not be published.