Kasih Tuhan dan Pertobatan Manusia

Kebijaksanaan 12:13,16,19; Roma 8:26-27; Matius 13:24-43

0 122

Katolikana, com – Salah satu cara menangkap pesan bacaan-bacaan liturgi hari Minggu adalah membaca dan merenungkan secara cermat bacaan pertama dan Injil.

Pada umumnya ada kesamaan ide antara keduanya.

Apakah gagasan utama keduanya dan bagaimana itu relevan untuk hidup kita?

Kesabaran Tuhan
Bacaan pertama dan Injil pada Minggu XVI Tahun A memiliki dua gagasan utama, yakni kasih sayang dan kesabaran Tuhan serta harapan akan pertobatan.

Bagaimana kita memahaminya dalam satu kesatuan gagasan?

Bacaan pertama menegaskan bahwa Allah yang Mahakuasa mengadili dengan belas kasihan dan memberikan kesempatan untuk bertobat (Keb 12:18-19). Ia menunjukkan kekuasaan-Nya tidak dengan sewenang-wenang. Tuhan itu panjang sabar dan penuh belas kasihan kepada orang yang mengasihi-Nya dan mau bertobat dari dosa-dosanya.

Memberi waktu
Injil pun berbicara hal yang serupa. Misalnya, perumpamaan gandum dan lalang itu. Pemilik ladang melarang para hamba-Nya mencabut lebih awal lalang yang tumbuh di antara gandumnya. Ia memilih membiarkan gandum dan lalang tumbuh bersama hingga waktu panen tiba.

Perumpamaan itu melambangkan kesabaran Tuhan yang memberi waktu bagi manusia untuk bertobat dan tidak menghendaki kebinasaan orang berdosa. Tuhan tidak menghukum manusia ketika mereka masih berada dalam hidupnya.

Hidup ini adalah kesempatan berproses. Tuhan memberikan kesempatan sampai akhir hidup manusia. Penghukuman yang adil dijatuhkan ketika batas waktu pertobatan telah habis.

Tidak terburu-buru
Apakah pesan sabda Tuhan hari ini? Pertama, sebagai orang Kristen hendaknya kita tidak terburu-buru menghakimi orang lain sebagai “lalang” yang harus disingkirkan. Kita dipanggil untuk meneladani kerahiman dan kesabaran Allah terhadap manusia yang lemah atau berbeda.

Kedua, fokus utama orang Kristen tidak memberantas kejahatan dengan kekuatan sendiri, melainkan bertumbuh sebagai “gandum” yang baik dan menjadi ragi yang merasuki dunia dengan kasih, seraya menyerahkan penghakiman terakhir sepenuhnya kepada Tuhan yang adil dan penuh belas kasihan.

Memahami sikap Tuhan dan mengikuti teladan-Nya sungguh tidak mudah. Ketika melihat kejahatan sesama, kita kerap cenderung menghukumnya. Kalau bisa si jahat itu dibinasakan saja daripada mengganggu kehidupan bersama.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan lagi bahwa tugas kita bukan menghakimi, melainkan mengasihi.

Apakah kita bisa bersabar dan berbelas kasihan kepada mereka yang bersalah dan berdosa? (*)

Minggu XVI, 19 Juli 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.