Katolikana.com – Kadang-kadang ada sebuah hal yang sungguh tidak bisa dimengerti. Kejadian yang begitu tiba-tiba, atau kejadian yang tidak sesuai menurut norma.
Terjadi begitu saja tanpa ada tanda dan sebab musabab, sesuatu yang absurd.
Dalam keterbatasan berpikir, ujungnya kembali harus bertelut, dan sadar bahwa segala hal perlu dipercaya, segala sesuatu pasti sudah berada dalam buku besar-Nya.
Menjalani apa yang ada, dengan semboyan “Dalam Nama Yesus”
Mendengarkan bacaan Injil hari ini, dan homili Romo Franciskus Anggras Prijatno, MSF, gandum dan ilalang menyadarkan diantara motivasi yang baik terdapat hal lain yang kurang baik yang sering berdampingan.
Perlu menunggu waktu panen, tanpa tergesa, menunggu waktu terbaik untuk benar-benar memetik dan memilih mana gandum mana ilalang. Mana motivasi baik dan mana motivasi yang tidak baik.
Lalang dibiarkan tumbuh bersama gandum. Tuhan sendiri yang membiarkan mereka tumbuh bersama. Hingga kelak tiba waktu Tuhan untuk memilah mana gandum dan mana lalang.
Jika termasuk kelompok lalang, setidaknya harus berusaha untuk tidak memvonis orang lain sebagai lalang.
(Istilah bring babya alias gawan bayi orang-orang sering memberikan stempel pada orang lain : “Kamu ilalang, aku gandum”.
Seperti juga pikiran manusiawi, yang berkembang setiap hari, begitu juga benih tumbuh setiap harinya.
Kadang ada orang menanam tanaman di lahan kecil di depan rumah. Ada yang sengaja ditanam, tumbuh subur, berbunga dan berbuah lebat. Hasilnya bisa dibagikan ke banyak teman. Tetapi ada juga yang mati, karena taburan ada tanaman benalu.
Ada pohon bunga yang ditanam. Tumbuh, dan menjadi pohon yang bunganya harum, menahan aroma-aroma yang kurang sedap dari sekitar. Namun terkadang keberadaannya dianggap “mengganggu” lingkungan.
Jalan pikiran banyak hal hadir. Ada yang perlu diolah, ada yang dibiarkan tumbuh begitu saja. Ada pikiran sendiri ada kontribusi pikiran orang lain. Ada yang tidak bermanfaat, perlu dibersihkan agar tidak tumbuh subur. Dualisme baik buruk ada berdampingan.
Bicara normatif, bila benih buruk tak segera disiangi, pasti akan menghambat pertumbuhan benih baik.
Mengapa? Tentu bukan soal mengganggu pemandangan, tapi karena lalang atau gulma itu mengganggu pertumbuhan gandum yang sedang bertumbuh. Menyebabkan hasil panen menjadi tak optimal.
Bahasa cinta Tuhan: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba”
Kesulitan hidup hadir dalam kehidupan sebagai salah satu cara untuk ‘mendewasakan’, ‘mematangkan’ jiwa.
Dalam setiap kesulitan, ada jalan keluar. Dalam setiap masalah, ada solusi. Dalam setiap keputusaan, ada harapan dan kekuatan.
Jika doa belum dijawab oleh Tuhan saat ini, Tuhan sedang mempersiapkan segala sesuatu yang lebih indah, sesuatu yang lebih baik, bahkan yang terbaik dalam kehidupan ini sesuai dengan waktu Tuhan.
“Jangan berbuat sesuatu, saat kepala sedang panas, saat emosi, karena pasti akan salah”.
Alih-alih ilalang tercabut, mungkin gandumnya juga akan ikut tercabut.
Mengapa? Karena waktu Allah, tidak sama dengan waktu manusia.
Mungkinkah benih baik dalam diri, mampu bertahan di antara jepitan lalang?
Jikalau waktu yang diberikan itu disia-siakan, yaitu bukannya gandum tetapi lalang yang berkembangbiak, maka Allah akan menuntut pertanggungjawaban.
Jangan sia-siakan waktu sebelum masa panen tiba. (*)
Yoke Harsari Untoro – Umat Santo Paulus Kleco Surakarta, gemar menulis.
____
Inspirasi bacaan Injil Minggu Biasa XVI, 19 Juli 2026, 06.00 WIB dan Homili Romo Fransiskus Anggras Prijatno, MSF.

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta