Ketika Bumi Flores Berguncang, Apakah Solidaritas Kita Juga Runtuh?

Refleksi Profetis atas Gempa Flores dalam Terang Ajaran Sosial Gereja.

0 26

Oleh Damianus Dionisius Nuwa, Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

KATOLIKANA.COM – Gempa bumi Flores 15 Agustus 2026 bukan hanya mengguncang bumi tempat manusia berpijak. Ia mengguncang cara kita memandang kehidupan bersama. Ketika rumah-rumah roboh, fasilitas publik rusak, keluarga kehilangan orang yang dikasihinya dan ribuan orang harus meninggalkan tempat tinggalnya, kita tidak cukup hanya menghitung jumlah korban dan kerugian material.

Kita perlu bertanya lebih jauh, mengapa sebuah bencana alam sering kali berubah menjadi bencana sosial bagi mereka yang paling miskin dan rentan?

Pertanyaan ini penting karena bencana tidak pernah berdampak secara sama kepada semua orang. Gempa memang tidak mengenal kaya atau miskin, tetapi kerentanan terhadap bencana sangat ditentukan oleh kondisi sosial, ekonomi dan politik.

Mereka yang memiliki rumah kokoh, tabungan, akses informasi, kendaraan dan jaringan sosial mempunyai peluang lebih besar untuk menyelamatkan diri dan memulai kembali kehidupan. Sebaliknya, masyarakat miskin, mereka yang tinggal di daerah terpencil, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas dan keluarga yang kehilangan sumber penghidupan sering kali menanggung penderitaan berlapis.

Di sinilah Ajaran Sosial Gereja menghadirkan suara profetisnya: manusia tidak boleh menjadi korban kedua setelah bencana. Bencana tidak boleh menjadi kesempatan bagi siapa pun untuk mencari keuntungan. Bantuan tidak boleh dipolitisasi. Korban tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai angka dalam laporan. Rekonstruksi tidak boleh menjadi proyek ekonomi yang mengabaikan suara masyarakat. Dan penderitaan orang kecil tidak boleh menjadi komoditas untuk membangun citra lembaga, pejabat ataupun kelompok tertentu. Sebaliknya, martabat manusia harus menjadi titik awal dan tujuan seluruh tindakan penanggulangan bencana.

Dalam terang Ajaran Sosial Gereja, setiap manusia memiliki martabat yang tidak dapat dicabut. Karena itu, orang yang kehilangan rumah tetap memiliki martabat yang sama, keluarga yang kehilangan harta tetap memiliki hak yang sama, mereka yang hidup di pelosok Flores tetap berhak mendapatkan pertolongan yang bermutu sebagaimana masyarakat di pusat kota.

Maka, keadilan dalam penanggulangan bencana bukan berarti memberikan bantuan yang sama kepada semua orang, melainkan memastikan bahwa mereka yang paling rentan mendapatkan perhatian yang paling serius. Inilah makna keberpihakan kepada kaum miskin dan lemah.

Kita juga harus berani mengatakan bahwa solidaritas tidak sama dengan belas kasihan. Belas kasihan dapat membuat kita tergerak sesaat tapi solidaritas menuntut kita membangun sistem yang membuat manusia mampu bangkit dan berdiri kembali.

Solidaritas bukan sekadar mengirim satu truk bantuan. Solidaritas berarti menemani korban sampai mereka memperoleh kembali kehidupan yang bermartabat. Karena itu, perhatian kita tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat.

Dampa gempa Flores telah menyebabkan rumah-rumah warga retak dan hancur, tidak layak lagi ditempati. Foto: Istimewa/Katolikana.com

Ketika media mulai meninggalkan lokasi bencana, ketika bantuan mulai berkurang dan perhatian publik beralih kepada berita yang lain, korban tetap hidup dengan luka yang panjang. Mereka masih membutuhkan rumah, pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, pendampingan psikologis dan terutama kesempatan untuk memulihkan masa depan. Jangan sampai solidaritas kita lebih cepat hilang daripada puing-puing yang dibersihkan.

Di sinilah Gereja mempunyai tugas profetis. Gereja tidak cukup hanya menjadi distributor bantuan. Gereja dipanggil untuk menjadi suara bagi mereka yang suaranya tidak terdengar. Gereja harus berani bertanya: Apakah bantuan sudah tepat sasaran? Apakah kelompok paling rentan sudah diperhatikan? Apakah pembangunan kembali dilakukan secara aman? Apakah masyarakat korban dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Apakah anggaran publik benar-benar digunakan untuk kepentingan korban?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Justru itulah bagian dari tanggung jawab Gereja untuk memperjuangkan bonum commune.

Pemerintah memiliki tanggung jawab utama dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan warga. Namun, masyarakat juga tidak boleh hanya menunggu. Dalam semangat subsidiaritas, komunitas lokal harus diberdayakan menjadi pelaku utama pemulihan. Masyarakat Flores memiliki pengetahuan lokal, tradisi gotong royong, jaringan kekeluargaan dan kekuatan komunitas yang merupakan modal sosial luar biasa. Mereka bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah subjek pembangunan dan pemulihan.

Karena itu, rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa harus lebih dari sekadar membangun kembali bangunan yang roboh. Kita perlu membangun Flores yang lebih tangguh: bangunan yang lebih aman, tata ruang yang lebih baik, jalur evakuasi yang jelas, sistem peringatan dini yang efektif, pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan dan komunitas yang siap menghadapi risiko.

Di sinilah, semangat Laudato Si’ menjadi relevan. Krisis kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memperlakukan alam. Gereja dipanggil membangun kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan, bukan penguasa mutlak atasnya. Pembangunan kembali Flores harus memperhitungkan daya dukung lingkungan dan risiko ekologis. Jangan membangun kembali kerentanan yang sama.

Gempa juga harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat Fratelli Tutti yakni kesadaran bahwa kita adalah satu keluarga manusia. Dalam situasi bencana, sekat agama, suku, status sosial dan kepentingan politik seharusnya kehilangan kekuatannya. Yang tersisa adalah satu kenyataan sederhana bahwa saudara kita sedang menderita dan kita dipanggil untuk hadir.

Solidaritas sosial tidak boleh berhenti pada slogan. Ia harus menjadi budaya, kebijakan dan gaya hidup. Solidaritas harus masuk ke dalam cara pemerintah membuat kebijakan, cara Gereja menjalankan pelayanan, cara lembaga pendidikan mendidik generasi muda, dan cara masyarakat memperlakukan mereka yang paling lemah.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar setelah gempa bukan hanya “berapa banyak yang rusak?”, tetapi “masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun setelah bencana ini?” Kita bisa membangun kembali rumah tanpa membangun kembali persaudaraan. Kita bisa memperbaiki jalan tanpa memperbaiki ketidakadilan.

Kita bisa mendirikan gedung baru tanpa membangun ketangguhan masyarakat. Namun Gereja dipanggil untuk mengatakan lebih jauh: jangan hanya membangun kembali Flores yang runtuh; bangunlah Flores yang lebih adil, lebih solider dan lebih manusiawi.

Ketika perhatian publik mulai surut, Gereja harus tetap berdiri bersama mereka yang terluka, sambil terus menyuarakan satu pesan profetis bahwa yang paling lemah tidak boleh ditinggalkan, yang paling menderita tidak boleh dilupakan.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.