Ziarah Arca Bunda Maria dan Aksi Rawat Bumi di Kevikepan Wae Nakeng

Vikep Wae Nakeng: Devosi sejati harus berbuah dalam aksi nyata merawat ciptaan.

0 109

Wae Nakeng, Katolikana.com – Di  setiap tempat yang disinggahinya, Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara tidak hanya disambut dengan doa, nyanyian, dan perarakan umat. Ia juga membangkitkan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran baru bahwa mencintai Allah berarti turut mencintai bumi ciptaan-Nya.

Suasana itulah yang tampak sepanjang ziarah Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara di paroki-paroki Kevikepan Wae Nakeng. Di tengah lantunan Rosario, kidung pujian kepada Maria, dan berbagai ritus adat yang mengiringi penyambutan arca, umat bersama-sama membersihkan lingkungan gereja, menanam pohon, mengelola sampah, serta menghidupkan kembali semangat merawat alam sebagai rumah bersama.

Devosi kepada Bunda Maria menemukan bentuknya dalam tindakan sederhana yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Sejak Prosesi Agung Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara dibuka di Paroki Santo Yosef Pekerja Lengkong Cepang pada 10 Juli 2026, semangat ekologis menjadi warna yang menyertai setiap persinggahan arca. Hal ini merupakan pengejawantahan tema Festival Golo Koe 2026, yang merupakan salah satu Top KEN, “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.”

Festival Golo Koe bukan sekadar perayaan tahunan atau sebuah prosesi religius yang berhenti pada kemeriahan seremoni. Festival ini merupakan gerakan pastoral yang mengajak seluruh umat berjalan bersama sebagai peziarah harapan, membangun persaudaraan, dan mengambil bagian dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.

Di berbagai paroki, semangat itu diterjemahkan dalam aksi-aksi nyata. Umat menyadari bahwa doa dan liturgi memperoleh kepenuhannya ketika menjelma menjadi kepedulian terhadap kehidupan. Pertobatan ekologis tidak selalu hadir dalam program-program besar, tetapi bertumbuh melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan setia: membersihkan lingkungan, menanam pohon, mengurangi sampah, merawat sumber air, dan menumbuhkan budaya hidup yang lebih ramah terhadap alam.

Pastor Paroki Datak, Rm. Fredy Saldi, melihat perubahan itu sebagai buah pastoral yang sangat menggembirakan. “Prosesi Bunda Maria tahun ini memiliki sesuatu yang istimewa. Umat tidak hanya diajak semakin tekun berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria, tetapi juga menghidupi devosi itu dalam tindakan nyata merawat ciptaan. Karena itu kami mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan gereja serta menanam pohon sebagai ungkapan tanggung jawab bersama menjaga bumi yang sedang menjerit akibat krisis ekologis,” ungkapnya, Rabu (15/7/2026).

Menurut Rm. Fredy, tema Festival Golo Koe tahun ini berhasil mempertemukan dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan Gereja: spiritualitas dan tanggung jawab sosial-ekologis. Devosi kepada Maria tidak menjauhkan umat dari persoalan dunia, tetapi justru mendorong mereka semakin terlibat dalam merawat kehidupan. Kesadaran itu terus dipupuk melalui homili, katekese, pendampingan pastoral, dan berbagai kesempatan pembinaan umat.

Hal senada disampaikan Vikaris Episkopal Wae Nakeng, Rm. Ferdi Gadu. Baginya, ziarah Arca Bunda Maria merupakan lambang perjalanan seluruh Gereja menuju kepenuhan hidup di dalam Allah. “Berjalan bersama Bunda Maria berarti belajar berjalan sebagai murid Kristus.

Prosesi perarakan arca Bunda Maria di Festival Golo Koe 2026. Foto: Vinsen Patno/Katolikana.com

Perjalanan itu bukan hanya menuju altar, melainkan juga menuju sesama dan menuju ciptaan yang dipercayakan Allah kepada kita. Karena itu, kegiatan devosional tidak boleh berhenti pada seremoni lahiriah. Devosi yang sejati harus berbuah dalam aksi nyata. Festival Golo Koe mengajak umat menghidupi iman melalui tindakan yang membangun persaudaraan dan merawat keutuhan ciptaan. Inilah panggilan setiap orang beriman.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan arah pastoral yang ditegaskan Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, ketika meluncurkan Festival Golo Koe 2026 pada 4 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, beliau mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi kekacauan iklim (climate chaos) dan kelangkaan ekologis (ecological scarcity) yang semakin mengancam kehidupan manusia.

Menurut Uskup Maksi, krisis ekologis bukan hanya persoalan lingkungan hidup, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Karena itu, Gereja dipanggil untuk menghadirkan pertobatan ekologis yang diwujudkan melalui tindakan nyata. “Sebagai tanggapan atas krisis yang sedang kita hadapi, Gereja mengajak seluruh umat dan semua elemen masyarakat melakukan pertobatan ekologis melalui berbagai aksi nyata merawat bumi dan memelihara keutuhan ciptaan.”

Dalam terang ajakan tersebut, ziarah Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara memperoleh makna yang jauh melampaui sebuah prosesi. Perjalanan dari satu paroki ke paroki lain menjadi simbol perjalanan Gereja yang terus dibaharui; sebuah Gereja yang tidak hanya berdoa, tetapi juga bekerja; tidak hanya memuliakan Sang Pencipta, tetapi juga menjaga ciptaan-Nya. Kehadiran Maria menjadi pengingat bahwa iman yang hidup selalu melahirkan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Selama sepekan, sejak 10 hingga 16 Juli 2026, Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara telah mengunjungi enam paroki di Kevikepan Wae Nakeng. Ribuan umat menyambutnya dengan sukacita melalui doa Rosario, perayaan Ekaristi, perarakan iman, nyanyian pujian kepada Maria, dan aneka ritus budaya yang memperlihatkan wajah Gereja lokal yang kaya akan tradisi. Busana adat, tarian penyambutan, serta ritus penyerahan dan penerimaan arca memperlihatkan bagaimana iman Kristiani bertumbuh subur dalam tanah Nucalale, budaya Manggarai.

Perjalanan ziarah ini masih akan berlanjut menuju sembilan paroki di Kevikepan Pacar, kemudian memasuki 12 paroki di wilayah Kevikepan Labuan Bajo hingga berakhir di Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo pada 5 Agustus 2026.

Kegiatan ini akan mencapai puncaknya pada Prosesi Akbar Festival Golo Koe tanggal 14 Agustus 2026, ketika Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara diarak dari kawasan Waterfront City menuju Bukit Golo Koe. Di sana, ribuan peziarah akan kembali dipersatukan bukan hanya oleh langkah kaki yang mendaki bukit, melainkan oleh harapan yang sama: menjadi Gereja yang semakin sinodal, semakin solid, semakin solider, dan semakin setia merawat keutuhan ciptaan sebagai anugerah Allah bagi seluruh umat manusia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.