
Katolikana.com -Telah diterimakan Sakramen Tahbisan Lima Imam Jesuit oleh Pentahbis Uskup Mgr. Petrus Boddeng Timang Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin. Tahbisan dilaksanakan pada Rabu (29/7/2026) di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta.
Lima Imam Jesuit tersebut adalah : Romo Andreas Agung Nugroho, SJ., Romo Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika, SJ., Romo Filipus Friderick Ray Popo, SJ., Romo Gregorius Agung Satriyo Wibisono, SJ., Romo Klaus Heinrich Raditio, SJ.

Refleksi bersama yang dituliskan lima imam Jesuit dan menjadi tema tahbisan dan tema Perayaan Ekaristi “Misericordiam Volo” – “Yang kuhendaki ialah belas kasihan”. (Matius 12:7).
Berikut ini kutipan refleksi bersama yang dituliskan oleh kelima imam Jesuit yang menerima pentahbisan.
Yesus Kristus, Sang Induk Ayam
Menurut Paus Leo XIV, kita dilanda globalization of powerlessness.
Masyarakat merasa lumpuh dan diam saat menghadapi penderitaan sesama. Ada perang, ketimpangan, kekerasan, penyalahgunaan kuasa, krisis ekologis, hingga kecemasan baru menghadapi teknologi dan kecerdasan buatan. Di tengah semua itu, panggilan kami bukanlah menjadi orang suci yang jauh dari dunia, tetapi menjadi saksi harapan di dalam dunia yang retak.

Gambar apa yang cocok untuk mewakili itu? Sudah biasa sosok imam dipadankan dengan figur Yesus Gembala Baik (mencari domba hilang), pokok anggur, bapa dari anak yang hilang, atau orang Samaria yang baik hati. Kami mencoba mencari wujud lain. Maka, “Misericordiam volo” kami ejawantahkan lewat ikon “Christ, the Mother Hen”, Yesus Kristus sang induk ayam (bdk. Mat 23:37).
Simbol ini jarang diketahui dan lebih dikenal di Gereja Ritus Timur.
Gambar ini sangat lembut sekaligus radikal. Kristus bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi juga ibu yang melindungi anak-anaknya yang rapuh. Terima kasih kepada Mas Gelar Prakosa yang telah melukiskan ikon ini secara unik bagi kami.
Di bawah sayap Kristus, terdapat anak-anak ayam dengan rupa yang bermacam- macam: ada yang kehilangan kaki (difabel), ada yang bulunya menyerupai warna bendera negara tertentu, ada yang lehernya terlilit plastik (korban kerusakan alam), ada yang berwarna agak pink-pelangi, ada yang tampak “aneh”. Kita bisa bebas menafsirkan siapakah anak-anak ayam ini dalam masyarakat dan dunia kita. (Mungkin juga kita menemukan diri kita sebagai anak ayam itu).
Yang jelas, mereka melambangkan orang-orang kecil dan termarjinalkan, terusir, terbungkam, terluka, terampas hak-martabatnya, atau tidak diterima dengan berbagai sebab.
Mereka adalah “korban” yang sering dianggap terlalu kotor, terlalu rumit, terlalu berbeda, terlalu rusak untuk dicintai. Namun, justru kepada merekalah Allah membuka sayap belas kasih-Nya.
Piringan berwarna biru tampak retak dan berbatu, serta kawat duri membentang di belakang melambangkan dunia yang memang sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi, di tengah semua itu hadir bentuk oval merah yang melambangkan pintu. Itulah ajakan bagi kita untuk berani keluar dari pintu-pintu kenyamanan dan berjalan bersama Yesus menuju dunia yang terluka.
Akhirnya, kami sadar bahwa sangat mudah menjadikan “Misericordiam Volo” sekadar slogan indah. Karena itu, di hari tahbisan ini, kami tidak datang sebagai orang yang sudah selesai. Kami datang sebagai
manusia-manusia ringkih yang terus belajar mengenali kehendak Tuhan.
Dan bila Tuhan sungguh menghendaki belas kasih, semoga hidup kami perlahan-lahan juga belajar menghendaki hal yang sama.
Kami menundukkan kepala dan memohon doa dari Anda semua. (*)
Semoga Tritunggal Maha Kudus menyertai para imam baru menjalani tugas penggembalaan dan karya, seturut teladan Bunda Maria dan Santo Ignatius dari Loyola. Amin.
_____
(Sumber :Tahbisan Imam SJ, 29 Juli 2026 | Halaman 24-25. Link Buku Panduan Misa Tahbisan Imam SJ, 29 Juli 2026)

Katekis di Paroki Kleco, Surakarta