Sisi Kemanusiaan Menag Nasaruddin dan Uskup Mgr. Maksi di Tanggap Darurat Gempa Flores

0 49

KATOLIKANA.COM, LABUAN BAJO – Kehadiran  Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar di tengah masyarakat Flores yang masih berjuang pulih dari gempa mendapat apresiasi dari Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus. Menurut Uskup, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda kerja seorang pejabat negara, tetapi membawa pesan kemanusiaan, solidaritas dan persaudaraan bagi masyarakat yang sedang menghadapi duka.

Hal itu disampaikan Mgr. Maksimus saat penyerahan bantuan tanggap darurat gempa Flores di MAN Labuan Bajo, Manggarai Barat, Kamis(3/09/2026. “Di tanah ini ada keluarga-keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka, juga kehilangan rasa aman. Setiap malam kalau kita tidur, mungkin sebagian dari antara kita tidur tetapi juga bersiap untuk lari,” ujarnya.

Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menyebut kehadiran Menteri Agama Nasaruddin Umar di Flores menjadi penguat bagi masyarakat yang masih memulihkan diri pascagempa. Memang, perjumpaan ini berlangsung bukan dalam suasana yang sepenuhnya biasa. Kita berjumpa setelah gempa bumi mengguncang tanah ini pada pada 15 Agustus 2026, tetap fajar baru saja menyapa bumi Flores, dengan skala 7,7 magnitudo, dan hingga hari ini diikuti oleh puluhan ribu guncangan, baik yang dirasakan maupun yang hadir dalam keheningan.

Di tanah ini, Menurutnya, kunjungan Menag bukan sekadar agenda kerja, tetapi bentuk kehadiran negara sekaligus solidaritas kemanusiaan.

Mgr Maksi menjelaskan bahwa ada keluarga-keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka juga rasa aman. Ada rumah-rumah yang rusak. Ada fasilitas yang terganggu. Ada saudara-saudari kita yang sampai hari ini masih berjuang memulihkan kehidupan mereka dan mungkin yang paling berat untuk dipulihkan bukan hanya bangunan yang roboh, tetapi terutama harapan yang sempat ikut runtuh bersama puing-puing.

“Kehadiran Pak Menteri pada hari ini sungguh mempunyai makna amat mendalam, jauh lebih besar daripada sekadar sebuah kunjungan kerja,” ujar Mgr. Maksimus di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Kamis (3/9/2026).

Menag RI Nasaruddin Umar Serahkan Dana Bantuan untuk Tanggap Darurat Gempa Flores Kepada Keuskupan Labuan Bajo. Foto: Vinsen/Katolikana.com

Mgr. Maksi mengingatkan kembali memori menteri agama Nasaruddin Umar  dalam kesempatan Konferensi Para Uskup Asia, kebetulan saya dipilih sebagai salah satu delegasi dari KWI, ketika Bapak Menteri hadir dalam acara pembukaan. Kemudian, pada kesempatan penutupan konferensi, ketika para delegasi Uskup Asia berkunjung dan berdialog bersama Bapak Menteri di Masjid Istiqlal Jakarta.

“Tema dari pertemuan para Uskup Asia itu yang sampai hari ini masih tinggal dalam ingatan saya: “Bridging and Being Bridge-builders in Asia”—menjembatani dan menjadi pembangun jembatan di Asia. Bukan jembatan biasa, tentu saja, melainkan jembatan kehidupan.

Hari ini, di tengah situasi duka akibat bencana gempa bumi, saya menemukan kembali makna tema itu dalam sebuah bentuk yang sangat nyata dan Bapak Menteri menjadi jembatannya. Tetapi bukan sekadar jembatan administratif antara pemerintah dan masyarakat. Bukan pula sekadar jembatan kelembagaan antara pusat dan daerah. Melainkan Jembatan persaudaraan, jembatan solidaritas, jembatan kemanusiaan.

Jembatan yang mengatakan kepada masyarakat Flores adalah “Kami melihat kalian.Kami mendengar kalian. Kami merasakan kesulitan kalian. Dan kami hadir bersama kalian.” Bagi kami, ini adalah pesan yang sangat kuat. Sebab Indonesia tidak dibangun hanya oleh kesamaan. Indonesia justru menjadi Indonesia karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan.

Dalam keadaan seperti inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya diuji. Bukan ketika semuanya baik-baik saja. Tetapi ketika kesusahan sedang mengepung sebagian dari saudara kita. Ketika harapan sedang redup, dan kita datang membantu menyalakannya kembali jelas Mgr Maksi.

Mgr. Maksi menjelaskan dalam konteks bencana, kita perlu kembali menemukan makna terdalam dari kata “hadir.” Kehadiran adalah bahasa kemanusiaan yang paling sederhana, tetapi sering kali justru paling kuat. Datang, melihat, mendengar, menyapa, berbagi beban. Hadir bukan hanya berada secara fisik, juga bersedia mendengar cerita sesama. Ia juga memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan ketakutan, kehilangan, dan kecemasan mereka.

Dan di balik reruntuhan infrastruktur, sesungguhnya masih ada sisa-sisa optimisme yang harus kita rawat bersama. Karena itu, bantuan yang hari ini diserahkan oleh Bapak Menteri tentu sangat berarti. Namun kami percaya, nilai terbesar dari bantuan itu bukan hanya pada apa yang dibawa, melainkan pada pesan yang menyertainya: bahwa pemerintah hadir, bahwa negara hadir, bahwa sesama saudaraku hadir.

Wajah Persaudaraan Menag Nasaruddin Umar dan Uskup Mgr. Maksimus dalam tanggap darurat dan pemulihan gempa Flores. Foto: Vinsen/Katolikana.com

Sambutan positif bukan hanya karena bantuan yang dibawa, tetapi karena Menag datang sendiri untuk menyapa. Dalam masa-masa sulit, sapaan itu berkesan, lebih daripada sebagai pejabat publik, terutama pribadi yang dianggap saudara.

Kunjungan ini menjadi tanda bahwa jembatan-jembatan persaudaraan di Indonesia tidak pernah boleh runtuh. Bangunan boleh retak. Jalan boleh terputus. Rumah boleh roboh. Tetapi jangan sampai jembatan kemanusiaan dan persaudaraan kita ikut runtuh. Ketika bencana mengguncang bumi Flores (kehidupan kita), biarlah hati kita semakin dipertautkan. Biarlah perbedaan semakin mendekatkan kita.

Semoga dari Flores yang sedang bangkit ini, kita mengirimkan satu pesan sederhana kepada seluruh Indonesia bahwa ketika satu saudara terluka, Indonesia ikut merasakan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir di Manggarai Barat hadir dalam rangka menyalurkan bantuan tanggap darurat senilai Rp3 miliar bagi masyarakat terdampak gempa Flores. Turut hadir mendampingi, Plt Dirjen Bimas Katolik Adiyarto Sumardjono, Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu, dan Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar.

Dalam waktu yang sama Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengunjungi Seminari Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) St Yohanes Paulus II di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Nasaruddin juga mengajak siswa di seminari atau sekolah calon pastor tersebut untuk mendoakan korban gempa Flores.

Nasaruddin didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT Fransiskus Kariyanto dan Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus diterima di halaman Seminari pada Kamis (3/9/2026) sore.

Dia membagikan secara simbolis bantuan makanan berupa dua kardus biskuit kepada perwakilan siswa.

Dalam sambutannya, Nasaruddin menitipkan sejumlah harapan kepada siswa. Dia juga bicara tentang bencana sebagai ujian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Pertama, jadilah teladan di dalam masyarakat,” ujar Nasaruddin.

“Kita berdoa semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah sesegera mungkin diberikan pengharapan baru. Kita ingatkan kepada mereka bahwa musibah itu ujian,” imbuhnya.

Nasaruddin mengatakan setiap ujian memiliki hikmahnya. Ia meminta para siswa untuk tak mudah kecewa dalam menghadapi ujian dari Tuhan.

“Boleh jadi ini adalah musibah buat kita, tapi di mata para angels, di mata para malaikat, ini adalah baik buat kita. Jadikanlah cobaan ini sebagai anak tangga yang paling cepat mendekati Tuhan yang Maha Pengasih,” ujarnya.

Nasaruddin kemudian meminta para siswa itu untuk menunjukkan prestasi akademik maupun nonakademik. Ia menilai hal terpenting adalah pendidikan karakter.

“Prestasi itu ditunjukkan bukan saja dengan nilai rapor kita yang sangat tinggi, tapi karakter kita pun juga harus mendapatkan rapor yang sangat tinggi,” imbuhnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.