KATOLIKANA.COM, PEMATANGSIANTAR – Para imam diosesan (projo) dari berbagai keuskupan di seluruh Indonesia bersama delegasi Unio Timor Leste berkumpul di Pematangsiantar, Sumatera Utara menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) XV Unio Indonesia yang berlangsung di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat (CC-PPU) Keuskupan Agung Medan sejak Senin (14/9/2026).
Perhelatan tiga tahunan ini mengusung tema yang sangat relevan dengan tantangan zaman: “Imam Diosesan: Rasul Spiritualitas Kristiani di Era Digital.”
Sejak tiba di lokasi, suasana persaudaraan terasa kental. Para peserta dan uskup disambut hangat dengan tarian adat khas Simalungun serta sapaan kekeluargaan dari Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan (Vikjen KAM), Romo Michael Manurung OFMCap, yang hadir mewakili Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap.
Rangkaian perhelatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Ruteng sekaligus Pembina Unio Indonesia, Mgr. Siprianus Hormat. Ibadah konselebrasi ini turut didampingi oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC, Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Sibolga Mgr. Fransiskus Sasfo Sinaga, Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin SX, dan Romo Michael Manurung OFMCap.

Dalam homilinya, Mgr. Siprianus memberikan pesan mendalam mengenai bagaimana para imam mesti bersikap di tengah derasnya arus informasi dan kecerdasan buatan. Menurutnya, ruang digital hari ini telah menjadi arena perebutan cara pandang manusia yang dikendalikan oleh algoritma dan notifikasi.
“Dalam hidup imamat, kita tidak pertama-tama dipanggil menjadi influencer religius. Kita dipanggil menjadi penunjuk arah pandang bagi umat,” pungkas Mgr. Siprianus tegas.
Menggunakan perumpamaan ular tembaga Musa di padang gurun, Uskup Ruteng menggarisbawahi bahwa seorang imam tidaklah kebal dari rasa lelah, kesepian, kekecewaan, maupun kegagalan. Kunci utamanya adalah kemauan untuk terus mengarahkan pandangan kepada Kristus. Ia mengajak seluruh peserta memegang tiga pegangan hidup imamat: Bersaudara, Bersinergi, dan Bersaksi.
Senada dengan hal tersebut, Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC menegaskan bahwa panggil imamat tidak boleh dihidupi dalam isolasi atau kesendirian.
“Kekudusan imam tidak dapat dirayakan dalam isolasi. Menjadi imam diosesan tidak berarti berada dalam kesendirian,” ungkap Uskup Bandung tersebut sebelum memukul gong tanda dibukanya Munas XV secara resmi.
Mgr. Antonius mengingatkan agar wadah Unio Indonesia tidak berhenti pada formalitas organisasi atau tumpukan dokumen belaka, melainkan menjadi ruang nyata untuk merawat persaudaraan dan menghasilkan tindakan pastoral yang menyapa umat secara langsung.
Sementara itu, Ketua Unio Indonesia, Romo Florens Maxi Un Bria, menekankan kembali prinsip utama Unio, yakni “priest helping priest” (imam membantu sesama imam). Menurut imam Keuskupan Agung Kupang ini, persaudaraan sejati antarimam justru diuji ketika ada rekan yang mengalami krisis atau kelelahan pelayanan.

“Para imam dipanggil menjadi jembatan dialog, baik dalam relasi dengan umat, antarimam, dengan para uskup, maupun di tengah masyarakat yang majemuk,” ujar Romo Maxi.
Dari pihak tuan rumah, Romo Michael Manurung OFMCap mengingatkan agar kemudahan teknologi dan kehadiran para imam di dunia maya tidak sampai menggantikan perjumpaan fisik yang tulus dengan umat. Mengutip pesan Paus Fransiskus, ia berpesan agar para gembala tetap memiliki “bau domba” menjaga kedekatan nyata, empati, dan keterlibatan langsung dalam pergumulan masyarakat.
Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat daerah setempat, antara lain Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, Wakil Ketua DPRD Kota Pematangsiantar Daud Simanjuntak, dan Ketua DPRD Kabupaten Malaka Adrianus Bria Seran. Wali Kota Pematangsiantar menyampaikan rasa hormat dan sukacita atas terpilihnya Pematangsiantar sebagai tuan rumah perhelatan gerejawi tingkat nasional ini.
Melalui Munas XV Unio Indonesia yang berlangsung hingga beberapa hari mendatang, para imam projo se-Indonesia diharapkan dapat memperbarui komitmen imamat mereka: berjalan bersama dalam sinodalitas, melayani dengan kerendahan hati, dan menjadi saksi Kristus yang relevan di zaman modern.
Kontributor: Andreas Daris
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.